MK
Dalam kota Raja Daud
On Christmas night all Christians sing
Informasi Lagu
50
Nomor
Kode
MK 50
Buku
Malam Kudus
Metronom
0
Cross Ref.
KC 61, PS 453, KJ 113, NR 37, KK 165
Dengarkan di YouTube
Slide Lirik
6 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
"Dalam Kota Raja Daud" atau "Once in Royal David's City" adalah salah satu kidung Natal paling dicintai dan ikonik di dunia. Kisah di balik penciptaannya adalah perpaduan antara visi seorang penulis lirik yang penuh kasih dan seorang komposer yang produktif, yang keduanya ingin membuat ajaran Kristen lebih mudah diakses, terutama bagi anak-anak.
Mari kita selami kisah di balik lagu yang indah ini:
---
### **1. Sang Penulis Lirik: Cecil Frances Alexander (1818-1895)**
* **Latar Belakang dan Motivasi:** Cecil Frances Alexander adalah seorang penyair dan penulis himne Irlandia yang lahir pada tahun 1818. Ia dikenal karena kesalehan dan kasih sayangnya yang mendalam, terutama terhadap orang miskin dan anak-anak. Ia menikah dengan Rev. William Alexander, yang kemudian menjadi Uskup Agung Armagh.
* **Visi untuk Anak-Anak:** Alexander sangat prihatin dengan fakta bahwa banyak anak di sekolah Minggu (Sunday School) pada masanya kesulitan memahami konsep-konsep teologis yang kompleks yang terdapat dalam Katekismus Gereja Anglikan (The Church Catechism). Ia ingin menjelaskan dogma-dogma Kristen yang fundamental — seperti Kredo para Rasul, Sepuluh Perintah Allah, dan Doa Bapa Kami — dalam bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan menarik bagi anak-anak.
* **Karya Penting: *Hymns for Little Children* (1848):** Untuk mencapai tujuannya ini, pada tahun 1848 ia menerbitkan koleksi puisinya yang berjudul *Hymns for Little Children*. Dalam buku inilah "Once in Royal David's City" pertama kali muncul. Setiap himne dalam koleksi ini dirancang untuk mengajarkan aspek tertentu dari keyakinan Kristen. "Once in Royal David's City" secara khusus berfokus pada Inkarnasi (Allah menjadi manusia) dan kehidupan Yesus Kristus.
* **Gaya Penulisan:** Alexander memiliki bakat luar biasa untuk menggabungkan kedalaman teologis dengan narasi yang sederhana dan gambaran yang hidup. Liriknya tidak hanya informatif tetapi juga mengharukan, memungkinkan anak-anak untuk membayangkan dan merasakan kisah Natal serta kasih Yesus. Selain kidung ini, ia juga menulis himne anak-anak terkenal lainnya seperti "All Things Bright and Beautiful" dan "There Is a Green Hill Far Away."
### **2. Sang Komposer: Henry John Gauntlett (1805-1876)**
* **Latar Belakang dan Kontribusi:** Henry John Gauntlett adalah seorang organis dan komposer Inggris yang sangat berpengaruh di masanya. Ia adalah seorang advokat vokal untuk peningkatan musik gereja dan penekanan pada nyanyian jemaat yang lebih baik. Gauntlett adalah seorang komposer yang luar biasa produktif, diyakini telah menciptakan lebih dari 10.000 melodi himne sepanjang hidupnya.
* **Melodi "Irby":** Meskipun Alexander menulis liriknya, melodi yang kini secara universal terkait dengan "Once in Royal David's City" adalah "Irby" yang digubah oleh Gauntlett. Melodi ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1849 dalam koleksi *Christmas Carols for Use in Churches* atau dalam koleksi himne lainnya. Melodi "Irby" sangat cocok dengan lirik Alexander: sederhana, agung, mudah diingat, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat, termasuk anak-anak. Kemitraan antara lirik Alexander yang puitis dan melodi Gauntlett yang solid menciptakan sebuah karya yang abadi.
### **3. Kisah dalam Lirik: Makna Setiap Bait**
Lirik "Once in Royal David's City" menceritakan kisah Natal dan kehidupan Yesus dengan cara yang sangat naratif dan mendidik:
* **Bait 1: Kelahiran yang Sederhana**
> Once in royal David's city
> Stood a lowly cattle shed,
> Where a mother laid her baby
> In a manger for His bed:
> Mary was that mother mild,
> Jesus Christ her little Child.
* Ini memperkenalkan latar belakang: Betlehem ("kota Raja Daud") dan kandang hewan yang sederhana. Ini menggambarkan Maria yang meletakkan bayi Yesus di palungan. Fokusnya adalah pada kerendahan hati dan kesederhanaan kelahiran Kristus.
* **Bait 2: Kehadiran Ilahi dalam Kemiskinan**
> He came down to earth from heaven,
> Who is God and Lord of all,
> And His shelter was a stable,
> And His cradle was a stall;
> With the poor, and mean, and lowly,
> Lived on earth our Savior Holy.
* Bait ini menekankan paradoks ilahi: Yesus, yang adalah Allah dan Tuhan atas segalanya, turun dari surga untuk hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan di antara orang-orang miskin. Ini menyoroti kerendahan hati-Nya dan identifikasi-Nya dengan manusia.
* **Bait 3: Kehidupan Manusia Yesus**
> For He is our childhood's pattern;
> Day by day, like us, He grew;
> He was little, weak, and helpless,
> Tears and smiles, like us, He knew;
> And He feeleth for our sadness,
> And He shareth in our gladness.
* Alexander ingin anak-anak merasa bahwa Yesus dapat dihubungkan dengan mereka. Ia tumbuh seperti anak-anak lainnya, merasakan emosi manusia (air mata dan senyuman), dan memahami kesedihan serta kebahagiaan kita. Ini mengajarkan bahwa Yesus adalah teladan bagi masa kanak-kanak kita.
* **Bait 4: Teladan dan Panggilan untuk Mengikuti**
> And our eyes at last shall see Him,
> Through His own redeeming love,
> For that Child so dear and gentle
> Is our Lord in heaven above;
> And He leads His children on
> To the place where He is gone.
* Bait ini mengalihkan fokus ke masa depan, ketika kita akan melihat Yesus di surga. Ia adalah Tuhan kita yang penuh kasih, yang memimpin anak-anak-Nya (kita) menuju tempat di mana Dia telah pergi. Ini memberikan harapan dan panggilan untuk mengikuti teladan-Nya.
* **Bait 5: Yesus di Surga, Mengingat Kita**
> Not in that poor lowly stable,
> With the oxen standing by,
> We shall see Him; but in heaven,
> Set at God's right hand on high;
> Where like stars His children crowned,
> All in white shall shine around.
* Bait terakhir menggambarkan Yesus yang sekarang bukan lagi di kandang yang miskin, melainkan di surga, duduk di sebelah kanan Allah. Anak-anak-Nya akan bergabung dengan-Nya, dimahkotai dan bersinar dalam kemuliaan. Ini adalah puncak dari narasi, menawarkan visi tentang surga dan harapan kekal.
### **4. Warisan dan Dampak Abadi**
"Once in Royal David's City" dengan cepat menjadi populer dan dimasukkan dalam banyak koleksi himne dan kidung Natal. Namun, momen yang benar-benar mengukuhkan statusnya sebagai ikon Natal datang pada tahun **1918**.
* **Festival Nine Lessons and Carols di King's College, Cambridge:** Pada tahun itu, dekan King's College, Cambridge, memilih lagu ini sebagai kidung pembuka untuk Festival Nine Lessons and Carols yang baru diresmikan. Tradisi ini dimulai dengan sebuah **suara *treble* solo** yang menyanyikan bait pertama yang menusuk jiwa, diikuti oleh paduan suara dan jemaat untuk bait-bait berikutnya. Sejak saat itu, tradisi ini terus berlanjut setiap tahun.
* **Siaran Global:** Festival ini, yang disiarkan di seluruh dunia melalui radio dan televisi, menjadikan "Once in Royal David's City" sebuah simbol Natal global. Jutaan orang di seluruh dunia kini mengasosiasikan pembukaan yang tenang dan penuh hormat ini dengan awal musim Natal.
Kidung ini terus dicintai karena kesederhanaan, keindahan melodi, dan pesannya yang kuat. Ia berhasil mengambil inti dari kisah Natal – kerendahan hati inkarnasi Kristus, identifikasi-Nya dengan kemanusiaan kita, dan janji penebusan-Nya – dan menyampaikannya dengan cara yang menyentuh hati semua usia, dari anak-anak hingga dewasa.
Mari kita selami kisah di balik lagu yang indah ini:
---
### **1. Sang Penulis Lirik: Cecil Frances Alexander (1818-1895)**
* **Latar Belakang dan Motivasi:** Cecil Frances Alexander adalah seorang penyair dan penulis himne Irlandia yang lahir pada tahun 1818. Ia dikenal karena kesalehan dan kasih sayangnya yang mendalam, terutama terhadap orang miskin dan anak-anak. Ia menikah dengan Rev. William Alexander, yang kemudian menjadi Uskup Agung Armagh.
* **Visi untuk Anak-Anak:** Alexander sangat prihatin dengan fakta bahwa banyak anak di sekolah Minggu (Sunday School) pada masanya kesulitan memahami konsep-konsep teologis yang kompleks yang terdapat dalam Katekismus Gereja Anglikan (The Church Catechism). Ia ingin menjelaskan dogma-dogma Kristen yang fundamental — seperti Kredo para Rasul, Sepuluh Perintah Allah, dan Doa Bapa Kami — dalam bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan menarik bagi anak-anak.
* **Karya Penting: *Hymns for Little Children* (1848):** Untuk mencapai tujuannya ini, pada tahun 1848 ia menerbitkan koleksi puisinya yang berjudul *Hymns for Little Children*. Dalam buku inilah "Once in Royal David's City" pertama kali muncul. Setiap himne dalam koleksi ini dirancang untuk mengajarkan aspek tertentu dari keyakinan Kristen. "Once in Royal David's City" secara khusus berfokus pada Inkarnasi (Allah menjadi manusia) dan kehidupan Yesus Kristus.
* **Gaya Penulisan:** Alexander memiliki bakat luar biasa untuk menggabungkan kedalaman teologis dengan narasi yang sederhana dan gambaran yang hidup. Liriknya tidak hanya informatif tetapi juga mengharukan, memungkinkan anak-anak untuk membayangkan dan merasakan kisah Natal serta kasih Yesus. Selain kidung ini, ia juga menulis himne anak-anak terkenal lainnya seperti "All Things Bright and Beautiful" dan "There Is a Green Hill Far Away."
### **2. Sang Komposer: Henry John Gauntlett (1805-1876)**
* **Latar Belakang dan Kontribusi:** Henry John Gauntlett adalah seorang organis dan komposer Inggris yang sangat berpengaruh di masanya. Ia adalah seorang advokat vokal untuk peningkatan musik gereja dan penekanan pada nyanyian jemaat yang lebih baik. Gauntlett adalah seorang komposer yang luar biasa produktif, diyakini telah menciptakan lebih dari 10.000 melodi himne sepanjang hidupnya.
* **Melodi "Irby":** Meskipun Alexander menulis liriknya, melodi yang kini secara universal terkait dengan "Once in Royal David's City" adalah "Irby" yang digubah oleh Gauntlett. Melodi ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1849 dalam koleksi *Christmas Carols for Use in Churches* atau dalam koleksi himne lainnya. Melodi "Irby" sangat cocok dengan lirik Alexander: sederhana, agung, mudah diingat, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat, termasuk anak-anak. Kemitraan antara lirik Alexander yang puitis dan melodi Gauntlett yang solid menciptakan sebuah karya yang abadi.
### **3. Kisah dalam Lirik: Makna Setiap Bait**
Lirik "Once in Royal David's City" menceritakan kisah Natal dan kehidupan Yesus dengan cara yang sangat naratif dan mendidik:
* **Bait 1: Kelahiran yang Sederhana**
> Once in royal David's city
> Stood a lowly cattle shed,
> Where a mother laid her baby
> In a manger for His bed:
> Mary was that mother mild,
> Jesus Christ her little Child.
* Ini memperkenalkan latar belakang: Betlehem ("kota Raja Daud") dan kandang hewan yang sederhana. Ini menggambarkan Maria yang meletakkan bayi Yesus di palungan. Fokusnya adalah pada kerendahan hati dan kesederhanaan kelahiran Kristus.
* **Bait 2: Kehadiran Ilahi dalam Kemiskinan**
> He came down to earth from heaven,
> Who is God and Lord of all,
> And His shelter was a stable,
> And His cradle was a stall;
> With the poor, and mean, and lowly,
> Lived on earth our Savior Holy.
* Bait ini menekankan paradoks ilahi: Yesus, yang adalah Allah dan Tuhan atas segalanya, turun dari surga untuk hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan di antara orang-orang miskin. Ini menyoroti kerendahan hati-Nya dan identifikasi-Nya dengan manusia.
* **Bait 3: Kehidupan Manusia Yesus**
> For He is our childhood's pattern;
> Day by day, like us, He grew;
> He was little, weak, and helpless,
> Tears and smiles, like us, He knew;
> And He feeleth for our sadness,
> And He shareth in our gladness.
* Alexander ingin anak-anak merasa bahwa Yesus dapat dihubungkan dengan mereka. Ia tumbuh seperti anak-anak lainnya, merasakan emosi manusia (air mata dan senyuman), dan memahami kesedihan serta kebahagiaan kita. Ini mengajarkan bahwa Yesus adalah teladan bagi masa kanak-kanak kita.
* **Bait 4: Teladan dan Panggilan untuk Mengikuti**
> And our eyes at last shall see Him,
> Through His own redeeming love,
> For that Child so dear and gentle
> Is our Lord in heaven above;
> And He leads His children on
> To the place where He is gone.
* Bait ini mengalihkan fokus ke masa depan, ketika kita akan melihat Yesus di surga. Ia adalah Tuhan kita yang penuh kasih, yang memimpin anak-anak-Nya (kita) menuju tempat di mana Dia telah pergi. Ini memberikan harapan dan panggilan untuk mengikuti teladan-Nya.
* **Bait 5: Yesus di Surga, Mengingat Kita**
> Not in that poor lowly stable,
> With the oxen standing by,
> We shall see Him; but in heaven,
> Set at God's right hand on high;
> Where like stars His children crowned,
> All in white shall shine around.
* Bait terakhir menggambarkan Yesus yang sekarang bukan lagi di kandang yang miskin, melainkan di surga, duduk di sebelah kanan Allah. Anak-anak-Nya akan bergabung dengan-Nya, dimahkotai dan bersinar dalam kemuliaan. Ini adalah puncak dari narasi, menawarkan visi tentang surga dan harapan kekal.
### **4. Warisan dan Dampak Abadi**
"Once in Royal David's City" dengan cepat menjadi populer dan dimasukkan dalam banyak koleksi himne dan kidung Natal. Namun, momen yang benar-benar mengukuhkan statusnya sebagai ikon Natal datang pada tahun **1918**.
* **Festival Nine Lessons and Carols di King's College, Cambridge:** Pada tahun itu, dekan King's College, Cambridge, memilih lagu ini sebagai kidung pembuka untuk Festival Nine Lessons and Carols yang baru diresmikan. Tradisi ini dimulai dengan sebuah **suara *treble* solo** yang menyanyikan bait pertama yang menusuk jiwa, diikuti oleh paduan suara dan jemaat untuk bait-bait berikutnya. Sejak saat itu, tradisi ini terus berlanjut setiap tahun.
* **Siaran Global:** Festival ini, yang disiarkan di seluruh dunia melalui radio dan televisi, menjadikan "Once in Royal David's City" sebuah simbol Natal global. Jutaan orang di seluruh dunia kini mengasosiasikan pembukaan yang tenang dan penuh hormat ini dengan awal musim Natal.
Kidung ini terus dicintai karena kesederhanaan, keindahan melodi, dan pesannya yang kuat. Ia berhasil mengambil inti dari kisah Natal – kerendahan hati inkarnasi Kristus, identifikasi-Nya dengan kemanusiaan kita, dan janji penebusan-Nya – dan menyampaikannya dengan cara yang menyentuh hati semua usia, dari anak-anak hingga dewasa.
Cross Reference
KC 61, PS 453, KJ 113, NR 37, KK 165
Dalam Kota Raja Daud
KC
Dalam Kota Raja Daud
KJ
Dalam Kota Raja Daud
KK
Adalah di Kota Daud
NR
Dalam kota Raja Daud
PS
Sama Tema
Natal
Sayang
MK
Betlehem
MK
Hai Kota mungil Betlehem
MK
Nina bobo
MK
Tidur, tidur
MK
Malam kudus
MK
Gembala waktu malam g'lap
MK
Gembala waktu malam glap
MK
Jauh dari sorga datangku
MK
Wahai hatiku
MK
Muliakanlah
MK
Lahir seorang Putera
MK
Gita sorga bergema
MK
Hai malaikat dari sorga
MK
Malaikat sorga datanglah
MK
Alam raya berkumandang
MK
O dengarlah lagu apa
MK
Dengarlah kidung
MK
Gembaia yang ada di padang
MK
Mari gembala ke kandang rendah
MK
O Natalan di Betlehem
MK
Di malam sunyi bergema
MK
Waktu malam yang sepi
MK
Siapakah yang menerima
MK
Di palungan dibaringkan
MK
Di palungan dibaringkan
MK
Di zaman yang silam
MK
Di dalam palungan
MK
Ya Anak kecil
MK
Dalam palungan
MK
Siapa namaNya
MK
Bernyanyilah merdu
MK
Malam kudus, malam kudus
MK
Malam kudus, kartika berkilauan
MK
Bintang-bintang cemerlang
MK