NKB
'Ku Amat Haus di Gurun Dosa
Springs of Living Water
Informasi Lagu
16
Nomor
Kode
NKB 16
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Style
Country2-4
Pencipta Lagu
John W. Peterson
Pencipta Syair
John W. Peterson
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI (1990)
Syair / Lirik
3 bait
‘Ku amat haus di gurun dosa dan cela,
tak ‘ku dapatkan air yang segar.
Tetapi ‘ku hampiri salib Golgota,
‘ku dapat air hidup yang benar.
Reff
Minum pada sumber air hidup,
puas jiwaku, bersuka hatiku;
Minum pada sumber air hidup,
o ajaib dan berlimpah bagiku!
Segarlah air hidup dari Allahku,
membuat hatiku t’rus bergemar;
Anug’rah dan kemuliaan pun milikku,
tetap ‘ku puji Allah yang besar.
Reff
Pendosa, tak inginkah ‘kau ke Kalvari?
Di sana air t’lah berbual t’rus.
Bagimu air itu bebas diberi;
jiwamu puas oleh Penebus.
Reff
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Ku Amat Haus di Gurun Dosa"** (judul asli: ***Springs of Living Water***) adalah salah satu himne Kristen yang paling dicintai di dunia. Diciptakan oleh **John W. Peterson** pada tahun 1952, lagu ini memiliki kisah latar belakang yang sederhana namun sangat mendalam tentang pengalaman spiritual sang penulis.
Berikut adalah detail kisah dibalik terciptanya lagu tersebut:
### 1. Sosok John W. Peterson
John W. Peterson (1921–2006) adalah seorang komposer dan penulis lagu rohani yang sangat produktif. Ia menulis lebih dari 1.000 lagu rohani sepanjang hidupnya. Sebelum terjun ke dunia musik, ia adalah seorang penerbang selama Perang Dunia II. Pengalamannya melihat kehidupan dan kematian di medan perang membuatnya memiliki perspektif yang sangat dalam tentang kerinduan manusia akan kedamaian dan Tuhan.
### 2. Inspirasi: Dahaga Rohani
Kisah di balik lagu ini berakar pada perasaan **"kekosongan"** yang dirasakan banyak orang di tengah dunia yang modern namun "gersang". Peterson ingin menggambarkan kondisi jiwa manusia yang mencoba mencari kepuasan di dunia, namun tetap merasa haus dan letih karena tidak menemukan sumber yang benar.
Dalam liriknya, Peterson menggunakan metafora **"Gurun Dosa"** (*Desert of Sin*). Ini adalah gambaran tentang kehidupan manusia yang jauh dari Tuhan—sebuah tempat yang tandus, panas, dan tidak bisa memberikan kehidupan sejati.
### 3. Ayat Alkitab sebagai Landasan
Lagu ini terinspirasi langsung dari perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub, yang tercatat dalam **Yohanes 4:13-14**:
> *"Jawab Yesus kepadanya: 'Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air, yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.'"*
Peterson ingin menyampaikan pesan bahwa tidak ada hal duniawi (kekayaan, popularitas, kesenangan) yang bisa memuaskan jiwa manusia. Satu-satunya "mata air" yang tidak pernah kering adalah kasih dan kehadiran Tuhan.
### 4. Proses Penciptaan
Pada tahun 1952, saat Peterson sedang merenungkan ayat tersebut, ia merasakan kontras yang tajam: antara "gersang" (dunia) dan "aliran air" (Tuhan). Ia kemudian menggubah melodi yang mengalir lembut namun bertenaga, seolah-olah menggambarkan seseorang yang berjalan di padang gurun yang panas dan tiba-tiba menemukan oase yang segar.
* **Bait lagu:** Menggambarkan pencarian manusia yang sia-sia di dunia.
* **Refrein (Chorus):** Adalah puncak sukacita ketika seseorang akhirnya menemukan "Mata Air Kehidupan" tersebut.
### 5. Dampak Lagu Ini
Sejak dipublikasikan, lagu ini menjadi sangat populer karena melodinya yang mudah diingat dan liriknya yang sangat "mengena" di hati setiap orang yang merasa lelah dengan hidup. Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani (KKR) dan menjadi lagu penghibur bagi banyak orang yang sedang mengalami masa-masa sulit (padang gurun) dalam hidup mereka.
### Kesimpulan
Kisah lagu *Springs of Living Water* bukan tentang sebuah peristiwa dramatis atau keajaiban besar, melainkan tentang **pengalaman iman sehari-hari**. Peterson berhasil menangkap esensi dari kerinduan jiwa manusia: bahwa di tengah dunia yang seringkali terasa "gersang" dan melelahkan, ada sumber kekuatan dan damai sejahtera yang tersedia bagi siapa saja yang mau datang kepada Yesus.
Lagu ini menjadi pengingat bahwa kehausan jiwa kita bukanlah kegagalan, melainkan "alarm" yang memanggil kita untuk kembali kepada Sang Sumber Kehidupan.
Berikut adalah detail kisah dibalik terciptanya lagu tersebut:
### 1. Sosok John W. Peterson
John W. Peterson (1921–2006) adalah seorang komposer dan penulis lagu rohani yang sangat produktif. Ia menulis lebih dari 1.000 lagu rohani sepanjang hidupnya. Sebelum terjun ke dunia musik, ia adalah seorang penerbang selama Perang Dunia II. Pengalamannya melihat kehidupan dan kematian di medan perang membuatnya memiliki perspektif yang sangat dalam tentang kerinduan manusia akan kedamaian dan Tuhan.
### 2. Inspirasi: Dahaga Rohani
Kisah di balik lagu ini berakar pada perasaan **"kekosongan"** yang dirasakan banyak orang di tengah dunia yang modern namun "gersang". Peterson ingin menggambarkan kondisi jiwa manusia yang mencoba mencari kepuasan di dunia, namun tetap merasa haus dan letih karena tidak menemukan sumber yang benar.
Dalam liriknya, Peterson menggunakan metafora **"Gurun Dosa"** (*Desert of Sin*). Ini adalah gambaran tentang kehidupan manusia yang jauh dari Tuhan—sebuah tempat yang tandus, panas, dan tidak bisa memberikan kehidupan sejati.
### 3. Ayat Alkitab sebagai Landasan
Lagu ini terinspirasi langsung dari perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub, yang tercatat dalam **Yohanes 4:13-14**:
> *"Jawab Yesus kepadanya: 'Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air, yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.'"*
Peterson ingin menyampaikan pesan bahwa tidak ada hal duniawi (kekayaan, popularitas, kesenangan) yang bisa memuaskan jiwa manusia. Satu-satunya "mata air" yang tidak pernah kering adalah kasih dan kehadiran Tuhan.
### 4. Proses Penciptaan
Pada tahun 1952, saat Peterson sedang merenungkan ayat tersebut, ia merasakan kontras yang tajam: antara "gersang" (dunia) dan "aliran air" (Tuhan). Ia kemudian menggubah melodi yang mengalir lembut namun bertenaga, seolah-olah menggambarkan seseorang yang berjalan di padang gurun yang panas dan tiba-tiba menemukan oase yang segar.
* **Bait lagu:** Menggambarkan pencarian manusia yang sia-sia di dunia.
* **Refrein (Chorus):** Adalah puncak sukacita ketika seseorang akhirnya menemukan "Mata Air Kehidupan" tersebut.
### 5. Dampak Lagu Ini
Sejak dipublikasikan, lagu ini menjadi sangat populer karena melodinya yang mudah diingat dan liriknya yang sangat "mengena" di hati setiap orang yang merasa lelah dengan hidup. Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani (KKR) dan menjadi lagu penghibur bagi banyak orang yang sedang mengalami masa-masa sulit (padang gurun) dalam hidup mereka.
### Kesimpulan
Kisah lagu *Springs of Living Water* bukan tentang sebuah peristiwa dramatis atau keajaiban besar, melainkan tentang **pengalaman iman sehari-hari**. Peterson berhasil menangkap esensi dari kerinduan jiwa manusia: bahwa di tengah dunia yang seringkali terasa "gersang" dan melelahkan, ada sumber kekuatan dan damai sejahtera yang tersedia bagi siapa saja yang mau datang kepada Yesus.
Lagu ini menjadi pengingat bahwa kehausan jiwa kita bukanlah kegagalan, melainkan "alarm" yang memanggil kita untuk kembali kepada Sang Sumber Kehidupan.