NKB
Sudahkah yang Terbaik 'Ku Berikan
Have I Done My Best
Informasi Lagu
199
Nomor
Kode
NKB 199
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Jumlah Bait
4 bait
Style
Cool8Beat, PianoBallad
Pencipta Lagu
Harry E. Storrs
Pencipta Syair
Ensign Edwin Young
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Cross Ref.
BLP 216
Syair / Lirik
4 bait
Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan
kepada Yesus Tuhanku?
Besar pengurbananNya di Kalvari!
DiharapNya terbaik dariku.
Reff
Berapa yang terhilang t’lah ‘ku cari
dan ‘ku lepaskan yang terbelenggu?
Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan
kepada Yesus, Tuhanku?
Begitu banyak waktu yang terluang
sedikit ‘ku b’ri bagiNya.
Sebab kurang kasihku pada Yesus;
mungkinkah hancur pula hatinya?
Reff
Telah ‘ku perhatikankah sesama,
atau ‘ku biarkan tegar?
‘Ku patut menghantarnya pada Kristus
dan kasih Tuhan harus ‘ku sebar.
Reff
‘Ku tak mau lebih lama dalam jurang,
‘ku panjat dindingnya terjal.
Dunia yang ‘kan binasa memerlukan
berita kasih Allah yang kekal.
Reff
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Sudahkah yang Terbaik 'Ku Berikan?"** (judul asli: *Have I Done My Best for Jesus?*) adalah sebuah lagu rohani klasik yang memiliki pesan mendalam tentang introspeksi diri dan pengabdian.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Sosok di Balik Lagu: Edwin Young
Lagu ini ditulis oleh **Ensign Edwin Young** (1869–1959). Young bukanlah seorang musisi profesional, melainkan seorang penginjil yang melayani di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.
Kisah penciptaan lagu ini berakar pada sebuah peristiwa yang sangat sederhana namun memiliki dampak emosional yang besar bagi Edwin Young.
### 2. Inspirasi: Sebuah Pertemuan yang Mengubah Perspektif
Kisah bermula saat Edwin Young sedang melakukan perjalanan penginjilan. Pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang pria tua yang sedang sekarat. Pria tersebut adalah seorang yang telah lama melayani Tuhan.
Saat Young duduk di samping tempat tidur pria itu, pria tua tersebut mengucapkan kata-kata yang sangat menggugah hati. Ia merenungkan masa hidupnya yang telah ia habiskan untuk melayani Tuhan. Namun, di saat-saat terakhirnya, muncul satu pertanyaan jujur dan kritis yang menghantui pikirannya: **"Sudahkah aku memberikan yang terbaik bagi Yesus?"**
Pertanyaan ini bukan muncul karena dia kurang melayani, melainkan karena dia menyadari betapa besarnya pengorbanan Kristus di kayu salib, sehingga apa pun yang ia lakukan seolah tidak pernah cukup memadai untuk membalas kasih Tuhan.
### 3. Proses Penulisan
Terinspirasi dari perenungan pria tersebut, Edwin Young kemudian menulis lirik lagu ini pada tahun 1924. Ia ingin menciptakan sebuah lagu yang berfungsi sebagai "cermin" bagi setiap orang Kristen untuk mengevaluasi kehidupan mereka sendiri.
Young ingin agar setiap orang yang menyanyikan lagu ini tidak hanya sekadar bernyanyi, tetapi berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:
* *Apakah waktu, tenaga, dan hidup yang saya jalani sudah maksimal bagi Tuhan?*
* *Apakah saya masih menahan diri untuk melayani-Nya?*
Liriknya secara jujur mengakui adanya rasa penyesalan jika selama ini hidup kita hanya dijalani secara biasa-biasa saja atau hanya memberikan "sisa-sisa" waktu kepada Tuhan.
### 4. Makna Lirik
Lirik asli dalam bahasa Inggris sangat menekankan pada konsep "hari yang semakin gelap" (menuju akhir hidup):
> *Have I done my best for Jesus,*
> *He who died upon the tree?*
> *Must I hear the words of judgment,*
> *And be ashamed of what I see?*
Dalam bahasa Indonesia, liriknya diterjemahkan dengan sangat emosional:
*"Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan, kepada Yesus Tuhanku? Besar pengorbanan-Nya bagiku, bukankah layak ‘ku balas?”*
Lagu ini mengajak pendengarnya untuk menyadari bahwa hidup adalah kesempatan yang sangat singkat. Pesan intinya bukan menuntut kesempurnaan, melainkan **ketulusan dan dedikasi maksimal** (memberikan yang terbaik) sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang telah diterima.
### 5. Warisan Lagu Ini
Sejak dipublikasikan, lagu ini menjadi salah satu lagu yang paling sering dinyanyikan dalam kebaktian-kebaktian, terutama pada momen-momen refleksi diri atau saat perjamuan kudus.
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena setiap manusia, terlepas dari apa pun latar belakangnya, seringkali merasa terjebak dalam kesibukan duniawi hingga lupa memberikan prioritas utama kepada nilai-nilai spiritual yang mereka yakini. Edwin Young berhasil mengabadikan pergumulan batin setiap orang percaya ke dalam bait-bait lagu yang abadi.
**Kesimpulannya:** Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan sebuah **pengingat untuk hidup dengan tujuan**. Pesan yang ditinggalkan oleh Edwin Young melalui kisah pria tua itu adalah: *Jangan menunggu sampai hari tua untuk bertanya apakah kita sudah memberikan yang terbaik, mulailah melakukannya sekarang.*
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Sosok di Balik Lagu: Edwin Young
Lagu ini ditulis oleh **Ensign Edwin Young** (1869–1959). Young bukanlah seorang musisi profesional, melainkan seorang penginjil yang melayani di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.
Kisah penciptaan lagu ini berakar pada sebuah peristiwa yang sangat sederhana namun memiliki dampak emosional yang besar bagi Edwin Young.
### 2. Inspirasi: Sebuah Pertemuan yang Mengubah Perspektif
Kisah bermula saat Edwin Young sedang melakukan perjalanan penginjilan. Pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang pria tua yang sedang sekarat. Pria tersebut adalah seorang yang telah lama melayani Tuhan.
Saat Young duduk di samping tempat tidur pria itu, pria tua tersebut mengucapkan kata-kata yang sangat menggugah hati. Ia merenungkan masa hidupnya yang telah ia habiskan untuk melayani Tuhan. Namun, di saat-saat terakhirnya, muncul satu pertanyaan jujur dan kritis yang menghantui pikirannya: **"Sudahkah aku memberikan yang terbaik bagi Yesus?"**
Pertanyaan ini bukan muncul karena dia kurang melayani, melainkan karena dia menyadari betapa besarnya pengorbanan Kristus di kayu salib, sehingga apa pun yang ia lakukan seolah tidak pernah cukup memadai untuk membalas kasih Tuhan.
### 3. Proses Penulisan
Terinspirasi dari perenungan pria tersebut, Edwin Young kemudian menulis lirik lagu ini pada tahun 1924. Ia ingin menciptakan sebuah lagu yang berfungsi sebagai "cermin" bagi setiap orang Kristen untuk mengevaluasi kehidupan mereka sendiri.
Young ingin agar setiap orang yang menyanyikan lagu ini tidak hanya sekadar bernyanyi, tetapi berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:
* *Apakah waktu, tenaga, dan hidup yang saya jalani sudah maksimal bagi Tuhan?*
* *Apakah saya masih menahan diri untuk melayani-Nya?*
Liriknya secara jujur mengakui adanya rasa penyesalan jika selama ini hidup kita hanya dijalani secara biasa-biasa saja atau hanya memberikan "sisa-sisa" waktu kepada Tuhan.
### 4. Makna Lirik
Lirik asli dalam bahasa Inggris sangat menekankan pada konsep "hari yang semakin gelap" (menuju akhir hidup):
> *Have I done my best for Jesus,*
> *He who died upon the tree?*
> *Must I hear the words of judgment,*
> *And be ashamed of what I see?*
Dalam bahasa Indonesia, liriknya diterjemahkan dengan sangat emosional:
*"Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan, kepada Yesus Tuhanku? Besar pengorbanan-Nya bagiku, bukankah layak ‘ku balas?”*
Lagu ini mengajak pendengarnya untuk menyadari bahwa hidup adalah kesempatan yang sangat singkat. Pesan intinya bukan menuntut kesempurnaan, melainkan **ketulusan dan dedikasi maksimal** (memberikan yang terbaik) sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang telah diterima.
### 5. Warisan Lagu Ini
Sejak dipublikasikan, lagu ini menjadi salah satu lagu yang paling sering dinyanyikan dalam kebaktian-kebaktian, terutama pada momen-momen refleksi diri atau saat perjamuan kudus.
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena setiap manusia, terlepas dari apa pun latar belakangnya, seringkali merasa terjebak dalam kesibukan duniawi hingga lupa memberikan prioritas utama kepada nilai-nilai spiritual yang mereka yakini. Edwin Young berhasil mengabadikan pergumulan batin setiap orang percaya ke dalam bait-bait lagu yang abadi.
**Kesimpulannya:** Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan sebuah **pengingat untuk hidup dengan tujuan**. Pesan yang ditinggalkan oleh Edwin Young melalui kisah pria tua itu adalah: *Jangan menunggu sampai hari tua untuk bertanya apakah kita sudah memberikan yang terbaik, mulailah melakukannya sekarang.*
Cross Reference
Sama Tema
Bersaksi Kepada Dunia
'Kau Tetap Tuhanku, Yesus
NKB
Kendati Hidupku Tent'ram
NKB
'Ku Beroleh Berkat
NKB
Besarlah Untungku
NKB
Sahabatku yang Paling Karib
NKB
Di Jalan Hidup yang Lebar, Sempit
NKB
Di Jalan Hidupku
NKB
Genta Injil Bergaung
NKB
Adakah Tempat BagiNya
NKB
Di Dunia yang Penuh Cemar
NKB
Dalam Dunia yang Gelap
NKB