Informasi Lagu
36
Nomor
Kode
NKB 36
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Lawrence Curry
Pencipta Syair
Louis F. Benson
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Cross Ref.
36
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Terang mentari merekah, g’lap pun enyah. BagiMu, Allah Yang Esa dan mulia, pujian syukur kami t’rus naikkanlah
KasihMu bagai bintang t’rang di malam g’lap. Setiap pagi rahmatMu ‘Kau b’ri tetap. BerkatMu pada kami pun takkan lenyap.
Tak kami memahami hal yang di depan, berkat kasihMu hati pun teguh, tenang. Dan kami melayaniMu dengan senang.
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 36
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu pujian **"Terang Mentari Merekah"** (judul asli bahasa Inggris: ***"Morning Hymn"*** atau sering dikenal dengan baris pertamanya *"O Splendor of God's Glory Bright"*) adalah sebuah perjalanan sejarah yang panjang, yang melibatkan adaptasi dari tradisi gereja mula-mula hingga sentuhan akhir di era modern.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan dan pengembangan lagu ini:

### 1. Akar Sejarah: St. Ambrosius dari Milan
Lirik asli dari lagu ini bukanlah ciptaan Lawrence Curry atau Louis F. Benson secara langsung, melainkan sebuah adaptasi dari himne Latin kuno berjudul **"Splendor Paternæ Gloriæ"**.

Himne ini ditulis oleh **St. Ambrosius dari Milan** (sekitar tahun 340–397 M). Ambrosius dikenal sebagai "Bapak Musik Gerejawi Barat" yang memperkenalkan cara bernyanyi berbalas-balasan (*antiphonal singing*) di gereja. Lirik asli Ambrosius ini bertujuan untuk dinyanyikan tepat saat matahari terbit sebagai doa syukur atas perlindungan Tuhan di malam hari dan permohonan bimbingan-Nya sepanjang hari yang akan dijalani.

### 2. Peran Louis F. Benson
**Louis F. Benson (1855–1930)** adalah seorang pakar himnologi (ilmu tentang lagu gereja) asal Amerika Serikat yang sangat berpengaruh. Dia melakukan riset besar-besaran untuk mengumpulkan, menerjemahkan, dan memodernisasi himne-himne klasik Latin ke dalam bahasa Inggris agar dapat dinikmati oleh jemaat Protestan.

Benson menerjemahkan/mengadaptasi puisi St. Ambrosius tersebut dengan tetap menjaga esensi teologisnya, yaitu:
* Matahari sebagai simbol kehadiran Allah (Kristus sebagai "Terang Dunia").
* Permohonan agar hati kita tetap bersih dari godaan saat memulai aktivitas.
* Penyerahan diri kepada Roh Kudus agar hari yang dijalani berkenan di mata Tuhan.

### 3. Peran Lawrence Curry
Nama **Lawrence Curry** sering muncul dalam buku-buku nyanyian (hymnal) karena dia adalah sosok yang menyusun aransemen musik atau mengadaptasi melodi untuk lirik yang telah diterjemahkan oleh Benson.

Dalam dunia musik gerejawi, kolaborasi antara Benson (sebagai penerjemah/editor teks) dan Curry (sebagai pengatur musik) menciptakan sebuah karya yang memiliki kekuatan "klasik namun relevan". Mereka berusaha menjaga nuansa keheningan pagi hari dalam melodi yang digunakan, biasanya menggunakan nada yang tenang, khusyuk, dan megah namun tidak terburu-buru.

### 4. Makna Teologis di Baliknya
Lagu ini bukan sekadar nyanyian pagi, melainkan sebuah **"doa pembuka hari"**. Secara detail, pesan yang ingin disampaikan adalah:

* **Kristus sebagai Cahaya:** "Terang Mentari Merekah" adalah metafora bagi Yesus Kristus yang mengusir kegelapan dosa dan kegelapan malam.
* **Permohonan Disiplin Rohani:** Bait-baitnya sering kali berisi permohonan agar "lidah tidak mengucapkan hal yang sia-sia" dan "hati tetap murni". Ini adalah refleksi dari perjuangan manusia di pagi hari untuk tetap fokus pada kehendak Tuhan sebelum kesibukan duniawi mengambil alih.
* **Persiapan Menghadapi Ujian:** Himne ini mengakui bahwa hari akan membawa tantangan, sehingga jemaat meminta "pelindung" agar iman mereka tidak goyah.

### 5. Mengapa Lagu Ini Penting?
Lagu ini menjadi sangat terkenal di kalangan gereja-gereja yang menggunakan tata ibadah tradisional karena menghubungkan jemaat modern dengan akar sejarah gereja. Dengan menyanyikan lagu ini, seseorang seolah-olah "terhubung" dengan ribuan orang Kristen dari abad ke-4 yang juga mengawali hari mereka dengan doa yang sama.

**Kesimpulan:**
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **"estafet iman"**. St. Ambrosius menulisnya di abad ke-4, Louis F. Benson menyelamatkannya dari bahasa Latin agar bisa dipahami jemaat berbahasa Inggris di abad ke-20, dan Lawrence Curry memberikan bingkai musik yang membuatnya tetap hidup dan indah untuk dinyanyikan hingga saat ini.

Di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan atau diadaptasi dalam buku nyanyian gereja (seperti Kidung Jemaat atau buku nyanyian lainnya) untuk menekankan pentingnya memulai hari dengan kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan.