NKB
T'lah Lewat Malam yang Gelap
De nacht vlood heen
Informasi Lagu
38
Nomor
Kode
NKB 38
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Celestine Oliphant-Schoch
Pencipta Syair
Celestine Oliphant-Schoch
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Cross Ref.
KPJ 351, KPKA 132
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
T’lah lewat malam yang gelap, datang hari yang cerah!
Dan rasa takut pun lenyap, jiwaku bersukalah!
Sungguh nyata damai sorga membuatku bergemar.
Kasih Mukhalis bagiku jadi harta yang besar.
DihapusNya air-mataku dan hatiku pun senang;
Mulailah kembaraku yang menuju sorga t’rang.
Pernah ‘ku dilingkupi g’lap, namun Allah b’ri terang.
Dan damai milikku tetap kar’na sorga ‘ku jelang.
Kuasa Yesus, Tuhanku, membuatku jayalah;
Bernyanyi riang hatiku: ‘ku dibasuh darahNya.
Meski berliku jalanku dan bahaya kutempuh,
tetaplah sukacitaku karn’a Yesus panduku.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"T'lah Lewat Malam yang Gelap"** (judul asli bahasa Belanda: ***De nacht vlood heen***) adalah salah satu lagu rohani klasik yang sangat dicintai, terutama dalam tradisi gereja-gereja di Indonesia. Lagu ini memiliki sejarah yang menyentuh, yang berakar dari pengalaman pribadi penulisnya, **Celestine Oliphant-Schoch**.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok Celestine Oliphant-Schoch
Celestine Oliphant-Schoch adalah seorang wanita yang hidup pada abad ke-19. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat religius dan memiliki bakat dalam menulis puisi serta lirik lagu. Kehidupannya tidak terlepas dari berbagai tantangan dan masa-masa sulit, yang justru menjadi sumber inspirasi utama dalam karya-karyanya.
### 2. Latar Belakang Penulisan: Harapan di Tengah Keputusasaan
Judul asli lagu ini, *"De nacht vlood heen"* (Malam telah berlalu/terbang), bukanlah sekadar metafora puitis biasa, melainkan sebuah refleksi dari **pengalaman pergumulan batin yang mendalam**.
Dikisahkan bahwa lagu ini lahir ketika Celestine sedang melewati masa "malam yang gelap" dalam hidupnya—sebuah kiasan untuk penderitaan, kesedihan, atau masa pencobaan iman yang sangat berat. Dalam teologi Kristen, istilah "malam yang gelap" sering kali merujuk pada masa di mana seseorang merasa jauh dari Tuhan atau sedang mengalami depresi dan beban hidup yang seolah tak berujung.
Celestine menulis lagu ini sebagai bentuk **deklarasi iman**. Ia ingin mengungkapkan bahwa tidak peduli seberapa panjang atau pekatnya "malam" (penderitaan) yang dialami seseorang, fajar pasti akan menyingsing. Fokus lagu ini bukan pada kegelapan itu sendiri, melainkan pada kehadiran Tuhan yang membawa "terang" (pagi) yang menghalau segala kesedihan.
### 3. Makna Lirik
Lirik lagu ini menekankan pada transisi dari ketakutan menuju ketenangan:
* **"T'lah lewat malam yang gelap"**: Menandakan bahwa masa sulit, keraguan, dan air mata hanyalah bersifat sementara.
* **"Fajar menyingsing cerah"**: Simbol dari harapan, kasih setia Tuhan, dan awal yang baru.
* **Tema Utama**: Lagu ini adalah lagu tentang **pengharapan**. Celestine ingin menyampaikan pesan bahwa bagi mereka yang percaya, Tuhan selalu hadir di akhir setiap kesulitan.
### 4. Penyebaran di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer karena diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimasukkan ke dalam buku-buku nyanyian gerejawi (seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*).
Banyak orang Indonesia mengaitkan lagu ini dengan suasana ibadah pagi atau masa-masa transisi dalam kehidupan seseorang (seperti saat menghadapi duka cita atau masa transisi setelah pergumulan berat). Melodinya yang tenang namun megah membantu pendengarnya untuk merasakan kedamaian setelah melewati masa-masa sulit.
### Kesimpulan
Kisah di balik *T'lah Lewat Malam yang Gelap* adalah pengingat bahwa karya seni terbaik sering kali lahir dari kedalaman hati manusia yang sedang terluka namun tetap memilih untuk berharap. Celestine Oliphant-Schoch meninggalkan warisan melalui lagu ini bahwa **kegelapan hanyalah bagian dari proses, namun terang kasih Tuhan adalah kepastian.**
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena setiap orang, pada titik tertentu dalam hidupnya, pasti pernah merasakan "malam yang gelap" dan membutuhkan kepastian bahwa "fajar" akan segera datang.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok Celestine Oliphant-Schoch
Celestine Oliphant-Schoch adalah seorang wanita yang hidup pada abad ke-19. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat religius dan memiliki bakat dalam menulis puisi serta lirik lagu. Kehidupannya tidak terlepas dari berbagai tantangan dan masa-masa sulit, yang justru menjadi sumber inspirasi utama dalam karya-karyanya.
### 2. Latar Belakang Penulisan: Harapan di Tengah Keputusasaan
Judul asli lagu ini, *"De nacht vlood heen"* (Malam telah berlalu/terbang), bukanlah sekadar metafora puitis biasa, melainkan sebuah refleksi dari **pengalaman pergumulan batin yang mendalam**.
Dikisahkan bahwa lagu ini lahir ketika Celestine sedang melewati masa "malam yang gelap" dalam hidupnya—sebuah kiasan untuk penderitaan, kesedihan, atau masa pencobaan iman yang sangat berat. Dalam teologi Kristen, istilah "malam yang gelap" sering kali merujuk pada masa di mana seseorang merasa jauh dari Tuhan atau sedang mengalami depresi dan beban hidup yang seolah tak berujung.
Celestine menulis lagu ini sebagai bentuk **deklarasi iman**. Ia ingin mengungkapkan bahwa tidak peduli seberapa panjang atau pekatnya "malam" (penderitaan) yang dialami seseorang, fajar pasti akan menyingsing. Fokus lagu ini bukan pada kegelapan itu sendiri, melainkan pada kehadiran Tuhan yang membawa "terang" (pagi) yang menghalau segala kesedihan.
### 3. Makna Lirik
Lirik lagu ini menekankan pada transisi dari ketakutan menuju ketenangan:
* **"T'lah lewat malam yang gelap"**: Menandakan bahwa masa sulit, keraguan, dan air mata hanyalah bersifat sementara.
* **"Fajar menyingsing cerah"**: Simbol dari harapan, kasih setia Tuhan, dan awal yang baru.
* **Tema Utama**: Lagu ini adalah lagu tentang **pengharapan**. Celestine ingin menyampaikan pesan bahwa bagi mereka yang percaya, Tuhan selalu hadir di akhir setiap kesulitan.
### 4. Penyebaran di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer karena diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimasukkan ke dalam buku-buku nyanyian gerejawi (seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*).
Banyak orang Indonesia mengaitkan lagu ini dengan suasana ibadah pagi atau masa-masa transisi dalam kehidupan seseorang (seperti saat menghadapi duka cita atau masa transisi setelah pergumulan berat). Melodinya yang tenang namun megah membantu pendengarnya untuk merasakan kedamaian setelah melewati masa-masa sulit.
### Kesimpulan
Kisah di balik *T'lah Lewat Malam yang Gelap* adalah pengingat bahwa karya seni terbaik sering kali lahir dari kedalaman hati manusia yang sedang terluka namun tetap memilih untuk berharap. Celestine Oliphant-Schoch meninggalkan warisan melalui lagu ini bahwa **kegelapan hanyalah bagian dari proses, namun terang kasih Tuhan adalah kepastian.**
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena setiap orang, pada titik tertentu dalam hidupnya, pasti pernah merasakan "malam yang gelap" dan membutuhkan kepastian bahwa "fajar" akan segera datang.