Informasi Lagu
42
Nomor
Kode
NKB 42
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional Gaelik
Pencipta Syair
Eleanor Farjeon
Penerjemah
Lembaga Literatur Babtis
Cross Ref.
KMM 102, NP 105
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Fajar menyingsing indah bagaikan t’rang yang mengiring sabda Tuhan. Puji Khalikmu atas ciptaan; tiap pagi baru kurnia Tuhan!
Indahnya hujan dan matahari; ciptaan Tuhan s’lalu segar. Puji Khalikmu kar’na di bumi pohon bertumbuh, bunga mekar!
Siang dan malam, t’rang serta hujan, indahnya alam karya Tuhan. Puji Khalikmu yang menciptakan hari yang lalu, hari depan!
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — NKB 42 1
Slide 2 — NKB 42 2
Slide 3 — NKB 42 3
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 42
Sejarah Lagu
Lagu **"Morning Has Broken"** adalah salah satu lagu pujian (*hymn*) yang paling dicintai di dunia. Meskipun nadanya terasa sangat tradisional dan akrab di telinga, kisah di baliknya melibatkan kolaborasi lintas zaman: antara seorang penulis puisi anak-anak dari Inggris dan seorang musisi legendaris dari era 70-an.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Asal Usul Lirik: Eleanor Farjeon (1931)
Lirik lagu ini ditulis oleh seorang penulis asal Inggris bernama **Eleanor Farjeon** pada tahun 1931. Farjeon adalah seorang penulis puisi dan cerita anak-anak yang produktif.

Ia diminta oleh seorang editor buku nyanyian gereja bernama Percy Dearmer untuk menulis lirik yang cocok dengan melodi tradisional dari Gaelik (Skotlandia). Farjeon menulis lirik ini sebagai ungkapan rasa syukur atas keindahan pagi hari di sebuah desa kecil di Sussex, Inggris.

Liriknya sederhana namun sangat puitis, menggambarkan cahaya pagi yang baru pertama kali muncul, seolah-olah dunia baru saja diciptakan kembali:
> *"Morning has broken, like the first morning; blackbird has spoken, like the first bird."*

### 2. Melodi: "Bunessan"
Melodi yang mengiringi lirik Farjeon bukanlah karya orisinal baru, melainkan sebuah lagu tradisional Gaelik yang berasal dari **Pulau Mull** di Hebrides Dalam, Skotlandia. Melodi ini dikenal dengan nama **"Bunessan"**.

Nama "Bunessan" diambil dari nama desa tempat melodi tersebut ditemukan. Awalnya, melodi ini tidak memiliki lirik dalam bahasa Inggris hingga akhirnya dipadukan dengan kata-kata karya Farjeon. Melodi ini memiliki karakteristik musik rakyat Skotlandia yang tenang, reflektif, dan memiliki struktur yang sangat kuat.

### 3. Kebangkitan Kembali: Cat Stevens (1971)
Selama puluhan tahun, lagu ini sebenarnya hanya dikenal di kalangan gereja atau komunitas paduan suara. Namun, lagu ini meledak menjadi fenomena global berkat **Cat Stevens** (sekarang dikenal sebagai **Yusuf Islam**).

Pada tahun 1971, saat menggarap album legendarisnya *Teaser and the Firecat*, Cat Stevens sedang mencari lagu yang bisa dimainkan dengan piano. Ia mendengar melodi "Bunessan" ini dan memutuskan untuk mengaransemennya.

Fakta menarik dalam proses rekamannya:
* **Sentuhan Piano:** Iringan piano yang sangat ikonik di lagu ini dimainkan oleh musisi **Rick Wakeman** (yang saat itu baru saja bergabung dengan grup musik progresif rock, *Yes*). Wakeman menambahkan aransemen piano yang indah dan khas yang membuat lagu ini menjadi sangat "berwarna" dan abadi.
* **Keengganan Awal:** Kabarnya, Cat Stevens sebenarnya tidak terlalu ingin lagu ini masuk ke album karena ia merasa lagu ini terlalu "lembut" dibandingkan lagu-lagunya yang lain. Namun, manajernya meyakinkannya untuk tetap memasukkannya.

### 4. Makna Filosofis
Lagu ini bukan sekadar tentang matahari terbit secara fisik. Bagi banyak orang, lagu ini adalah simbol tentang:
* **Harapan Baru:** Ide bahwa setiap pagi adalah kesempatan untuk memulai hidup dari awal ("seperti pagi pertama").
* **Koneksi dengan Alam:** Pujian terhadap kicauan burung, cahaya matahari, dan hujan yang jatuh di atas rumput.
* **Spiritualitas:** Meski liriknya sangat sederhana, banyak orang memaknainya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas penciptaan dunia yang selalu diperbarui setiap hari.

### Kesimpulan
"Morning Has Broken" adalah contoh sempurna bagaimana karya sastra (Eleanor Farjeon) bertemu dengan tradisi rakyat kuno (Bunessan) dan diperbarui oleh visi modern (Cat Stevens/Rick Wakeman).

Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena pesannya yang universal: bahwa tidak peduli betapa beratnya hari yang kita lalui, akan selalu ada pagi hari berikutnya yang menawarkan awal yang baru dan cahaya yang menyingsing.