NKB
Tuhan yang Pegang
I Know Who Holds Tomorrow
Informasi Lagu
49
Nomor
Kode
NKB 49
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Syair
Ira F. Stanphill
Penerjemah
K.P. Nugroho
Cross Ref.
GB 208, KK 532, KPJ 65, PKJ 241
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya ‘ku harapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.
Banyak hal tak ‘ku fahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.
Makin t’ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik.
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik.
Di sanalah t’rang abadi, tiada tangis dan keluh;
Di neg’ri seb’rang pelangi, kita k’lak ‘kan bertemu.
Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap.
tapi Dia yang berkasihan melindungi ‘ku tetap.
meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu.
DipimpinNya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok" (aslinya "I Know Who Holds Tomorrow") karya Ira Forest Stanphill adalah salah satu kisah yang paling mengharukan dan transformatif dalam sejarah musik gospel. Lagu ini lahir dari badai kesedihan dan keputusasaan yang mendalam, yang kemudian diubah menjadi sebuah himne pengharapan dan keyakinan yang abadi.
Mari kita selami detailnya:
**Sosok Ira Forest Stanphill**
Ira Forest Stanphill (1914-1993) adalah seorang pendeta, evangelis, penyanyi, dan penulis lagu gospel asal Amerika yang sangat produktif. Ia menulis lebih dari 500 lagu sepanjang hidupnya, banyak di antaranya menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja Protestan, terutama di Amerika Serikat. Ia dikenal karena kemampuannya menyampaikan pesan Injil melalui musiknya yang tulus dan mengena.
**Pilar Penopang Hidup yang Runtuh**
Pada tahun 1950, kehidupan Ira Stanphill yang mapan dan penuh pelayanan mendadak terguncang hebat. Ia dan istrinya, Minnie, adalah pasangan yang sangat mencintai dan mendukung satu sama lain. Minnie bukan hanya istrinya, tetapi juga rekan pelayanannya, sahabatnya, dan pilar penopang emosional baginya. Mereka telah menikah selama bertahun-tahun dan membangun keluarga serta pelayanan bersama.
Namun, pada tahun itu, Minnie meninggal dunia secara tiba-tiba akibat kecelakaan mobil yang tragis. Kehilangan ini menghantam Ira dengan kekuatan yang tak terlukiskan. Dunia Ira Stanphill seolah runtuh. Ia bukan hanya kehilangan istrinya, tetapi juga semangat hidupnya, inspirasinya, dan bahkan kemampuannya untuk berkhotbah atau bernyanyi. Ia tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan yang pekat.
**Momen Keputusasaan dan Pertanyaan Iman**
Dalam beberapa minggu dan bulan setelah kematian Minnie, Ira Stanphill merasa benar-benar hancur. Ia tidak bisa memahami mengapa Tuhan mengizinkan tragedi seperti ini terjadi padanya, seorang hamba-Nya yang setia. Ia bergumul dengan imannya, mempertanyakan kebaikan dan kedaulatan Tuhan. Ia merasa kehilangan arah, tidak tahu bagaimana ia akan melanjutkan hidup atau pelayanannya tanpa Minnie di sisinya. Setiap hari terasa seperti jurang yang dalam, dan masa depan tampak buram dan menakutkan.
Ia ingat suatu hari ia sedang mengemudi sendirian, pikirannya berkecamuk dengan kesedihan dan ketidakpastian. Air mata mengalir di pipinya. Ia memandang setir mobilnya, tangannya gemetar. Ia benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, bagaimana ia akan mengatasi rasa sakit ini, atau bagaimana ia bisa kembali melayani Tuhan dengan hati yang hancur. Pertanyaan "Bagaimana aku akan hidup esok?" terus menghantuinya.
**Titik Balik dan Inspirasi Ilahi**
Tepat di tengah badai kesedihan dan ketidakpastian itu, ketika ia merasa mencapai titik terendah dalam hidupnya, sebuah kesadaran spiritual yang mendalam tiba-tiba menyelimutinya. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok, dan meskipun banyak hal tentang masa depan yang tidak ia mengerti, satu hal ia tahu dengan pasti: **ia mengenal Pribadi yang memegang kendali atas hari esok.** Ia mengenal Tuhan.
Kesadaran ini bagaikan sinar terang yang menembus kegelapan pekat yang meliputinya. Rasa damai dan keyakinan mulai merayap masuk ke dalam hatinya yang terluka. Ia tidak perlu mengerti *bagaimana* semuanya akan berakhir, karena ia percaya pada *Siapa* yang memegang kendali. Ia diingatkan akan janji-janji Tuhan dan kebesaran-Nya yang tidak terbatas, bahkan di tengah penderitaan yang paling parah sekalipun.
Pada momen itulah, lirik-lirik lagu "I Know Who Holds Tomorrow" mulai mengalir deras dalam benaknya, hampir seperti sebuah wahyu. Ia dengan cepat menepi, mengambil secarik kertas dan pulpen, dan mulai menuliskan kata-kata yang menjadi himne pengharapan abadi ini:
* **Many things about tomorrow, I don't seem to understand,**
(Banyak hal tentang hari esok, aku tak mengerti)
* **But I know Who holds tomorrow, and I know Who holds my hand.**
(Namun kutahu siapa yang memegang hari esok, dan kutahu siapa yang memegang tanganku.)
**Lahirnya Sebuah Himne**
Dalam waktu singkat, seluruh lirik dan melodi lagu itu tercipta. Lagu ini bukan sekadar komposisi; itu adalah jeritan hati yang berubah menjadi deklarasi iman. Itu adalah kesaksian pribadinya tentang bagaimana iman dapat menjadi jangkar di tengah badai kehidupan.
Awalnya, Ira Stanphill sangat enggan untuk menyanyikan lagu ini di depan umum. Lagu itu terlalu personal, terlalu mentah, terlalu dekat dengan lukanya. Namun, atas desakan teman-teman dan rekan-rekan pelayanannya, ia akhirnya mulai membawakannya. Dan setiap kali ia menyanyikannya, terutama dengan suaranya yang tulus dan penuh emosi, orang-orang di seluruh dunia tersentuh dan terhibur.
Lagu "I Know Who Holds Tomorrow" dengan cepat menjadi salah satu lagu gospel yang paling dicintai dan sering dinyanyikan. Pesannya yang universal tentang menghadapi ketidakpastian masa depan dengan iman kepada Tuhan yang Mahakuasa telah menghibur jutaan orang yang mengalami kesedihan, kehilangan, kecemasan, dan ketidakpastian hidup.
**Warisan Abadi**
"I Know Who Holds Tomorrow" bukan hanya sebuah lagu bagi Ira Stanphill; itu adalah kesaksian hidupnya. Itu adalah bukti bahwa bahkan dari penderitaan yang paling mendalam sekalipun, Tuhan dapat melahirkan sesuatu yang indah dan penuh harapan. Lagu ini terus menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi banyak orang di seluruh dunia, mengingatkan kita bahwa meskipun kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita bisa memiliki damai sejahtera karena kita mengenal dan percaya pada Pribadi yang memegang kendali atas hari esok.
Ira Stanphill kemudian menikah lagi dengan Gladys, dan melanjutkan pelayanannya dengan semangat baru, selalu membawa serta pesan harapan yang lahir dari pengalamannya yang paling menyakitkan. Lagu ini tetap menjadi salah satu mahakaryanya yang paling berkesan, sebuah monumen bagi iman yang bertahan di tengah badai.
Mari kita selami detailnya:
**Sosok Ira Forest Stanphill**
Ira Forest Stanphill (1914-1993) adalah seorang pendeta, evangelis, penyanyi, dan penulis lagu gospel asal Amerika yang sangat produktif. Ia menulis lebih dari 500 lagu sepanjang hidupnya, banyak di antaranya menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja Protestan, terutama di Amerika Serikat. Ia dikenal karena kemampuannya menyampaikan pesan Injil melalui musiknya yang tulus dan mengena.
**Pilar Penopang Hidup yang Runtuh**
Pada tahun 1950, kehidupan Ira Stanphill yang mapan dan penuh pelayanan mendadak terguncang hebat. Ia dan istrinya, Minnie, adalah pasangan yang sangat mencintai dan mendukung satu sama lain. Minnie bukan hanya istrinya, tetapi juga rekan pelayanannya, sahabatnya, dan pilar penopang emosional baginya. Mereka telah menikah selama bertahun-tahun dan membangun keluarga serta pelayanan bersama.
Namun, pada tahun itu, Minnie meninggal dunia secara tiba-tiba akibat kecelakaan mobil yang tragis. Kehilangan ini menghantam Ira dengan kekuatan yang tak terlukiskan. Dunia Ira Stanphill seolah runtuh. Ia bukan hanya kehilangan istrinya, tetapi juga semangat hidupnya, inspirasinya, dan bahkan kemampuannya untuk berkhotbah atau bernyanyi. Ia tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan yang pekat.
**Momen Keputusasaan dan Pertanyaan Iman**
Dalam beberapa minggu dan bulan setelah kematian Minnie, Ira Stanphill merasa benar-benar hancur. Ia tidak bisa memahami mengapa Tuhan mengizinkan tragedi seperti ini terjadi padanya, seorang hamba-Nya yang setia. Ia bergumul dengan imannya, mempertanyakan kebaikan dan kedaulatan Tuhan. Ia merasa kehilangan arah, tidak tahu bagaimana ia akan melanjutkan hidup atau pelayanannya tanpa Minnie di sisinya. Setiap hari terasa seperti jurang yang dalam, dan masa depan tampak buram dan menakutkan.
Ia ingat suatu hari ia sedang mengemudi sendirian, pikirannya berkecamuk dengan kesedihan dan ketidakpastian. Air mata mengalir di pipinya. Ia memandang setir mobilnya, tangannya gemetar. Ia benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, bagaimana ia akan mengatasi rasa sakit ini, atau bagaimana ia bisa kembali melayani Tuhan dengan hati yang hancur. Pertanyaan "Bagaimana aku akan hidup esok?" terus menghantuinya.
**Titik Balik dan Inspirasi Ilahi**
Tepat di tengah badai kesedihan dan ketidakpastian itu, ketika ia merasa mencapai titik terendah dalam hidupnya, sebuah kesadaran spiritual yang mendalam tiba-tiba menyelimutinya. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok, dan meskipun banyak hal tentang masa depan yang tidak ia mengerti, satu hal ia tahu dengan pasti: **ia mengenal Pribadi yang memegang kendali atas hari esok.** Ia mengenal Tuhan.
Kesadaran ini bagaikan sinar terang yang menembus kegelapan pekat yang meliputinya. Rasa damai dan keyakinan mulai merayap masuk ke dalam hatinya yang terluka. Ia tidak perlu mengerti *bagaimana* semuanya akan berakhir, karena ia percaya pada *Siapa* yang memegang kendali. Ia diingatkan akan janji-janji Tuhan dan kebesaran-Nya yang tidak terbatas, bahkan di tengah penderitaan yang paling parah sekalipun.
Pada momen itulah, lirik-lirik lagu "I Know Who Holds Tomorrow" mulai mengalir deras dalam benaknya, hampir seperti sebuah wahyu. Ia dengan cepat menepi, mengambil secarik kertas dan pulpen, dan mulai menuliskan kata-kata yang menjadi himne pengharapan abadi ini:
* **Many things about tomorrow, I don't seem to understand,**
(Banyak hal tentang hari esok, aku tak mengerti)
* **But I know Who holds tomorrow, and I know Who holds my hand.**
(Namun kutahu siapa yang memegang hari esok, dan kutahu siapa yang memegang tanganku.)
**Lahirnya Sebuah Himne**
Dalam waktu singkat, seluruh lirik dan melodi lagu itu tercipta. Lagu ini bukan sekadar komposisi; itu adalah jeritan hati yang berubah menjadi deklarasi iman. Itu adalah kesaksian pribadinya tentang bagaimana iman dapat menjadi jangkar di tengah badai kehidupan.
Awalnya, Ira Stanphill sangat enggan untuk menyanyikan lagu ini di depan umum. Lagu itu terlalu personal, terlalu mentah, terlalu dekat dengan lukanya. Namun, atas desakan teman-teman dan rekan-rekan pelayanannya, ia akhirnya mulai membawakannya. Dan setiap kali ia menyanyikannya, terutama dengan suaranya yang tulus dan penuh emosi, orang-orang di seluruh dunia tersentuh dan terhibur.
Lagu "I Know Who Holds Tomorrow" dengan cepat menjadi salah satu lagu gospel yang paling dicintai dan sering dinyanyikan. Pesannya yang universal tentang menghadapi ketidakpastian masa depan dengan iman kepada Tuhan yang Mahakuasa telah menghibur jutaan orang yang mengalami kesedihan, kehilangan, kecemasan, dan ketidakpastian hidup.
**Warisan Abadi**
"I Know Who Holds Tomorrow" bukan hanya sebuah lagu bagi Ira Stanphill; itu adalah kesaksian hidupnya. Itu adalah bukti bahwa bahkan dari penderitaan yang paling mendalam sekalipun, Tuhan dapat melahirkan sesuatu yang indah dan penuh harapan. Lagu ini terus menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi banyak orang di seluruh dunia, mengingatkan kita bahwa meskipun kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita bisa memiliki damai sejahtera karena kita mengenal dan percaya pada Pribadi yang memegang kendali atas hari esok.
Ira Stanphill kemudian menikah lagi dengan Gladys, dan melanjutkan pelayanannya dengan semangat baru, selalu membawa serta pesan harapan yang lahir dari pengalamannya yang paling menyakitkan. Lagu ini tetap menjadi salah satu mahakaryanya yang paling berkesan, sebuah monumen bagi iman yang bertahan di tengah badai.
Cross Reference
GB 208, KK 532, KPJ 65, PKJ 241
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
GB
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
KK
Aku Tan Ngreti Mengkon?
KPJ
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
PKJ