Informasi Lagu
76
Nomor
Do=Bes
Nada Dasar
Kode
NKB 76a
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Nada Dasar
Do=Bes
Ketukan
4 ketuk ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
John Bacchus Dykes (1862)
Pencipta Syair
Henry H. Milman (1791)
Penerjemah
B. Maruta / Tim Nyanyian GKI (1990)
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Dengan megah ‘Kau maju t’rus! Dengar khalayak berseru: “Hosana bagi Anak Daud!” menyambut kedatanganMu.
Dengan megah ‘Kau maju t’rus! Terhampar pada jalanMu daun palma dan pakaian pun, meski di ambang ajalMu.
Dengan megah ‘Kau maju t’rus! Sekarang Yesus, Anak Daud, mulailah kemenanganMu melawan dosa serta maut.
Dengan megah ‘Kau maju t’rus! Perang terakhir menjelang. Sang Bapa pada tahtaNya, menanti ‘Kau akan menang.
Dengan megah ‘Kau maju t’rus! Tertunduklah kepalaMu. Di salib, melalui maut, ‘Kau jadi Raja, Tuhanku.
Slide Lirik 6 slide
Slide 1 — NKB 76a 1
Slide 2 — NKB 76a 2
Slide 3 — NKB 76a 3
Slide 4 — NKB 76a 4
Slide 5 — NKB 76a 5
Slide 6 — NKB 76a 6
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 76a
Sejarah Lagu
Lagu **"Dengan Megah 'Kau Maju T'rus!"** (judul asli bahasa Inggris: *Ride On, Ride On in Majesty!*) adalah salah satu himne (kidung) paling ikonik untuk menyambut **Minggu Palem** (perayaan masuknya Yesus ke Yerusalem).

Kisah di balik lagu ini adalah perpaduan antara refleksi teologis yang mendalam dari sang penulis lirik dan kejeniusan musikal dari sang komposer. Berikut adalah detail kisahnya:

### 1. Penulis Lirik: Henry Hart Milman (1827)
Henry Hart Milman adalah seorang pendeta Gereja Inggris yang juga seorang sejarawan dan penyair. Ia menulis lirik ini pada tahun 1827 untuk koleksinya yang berjudul *The Martyr of Antioch and Other Poems*.

**Konteks Penulisan:**
Milman menulis lirik ini bukan untuk dinyanyikan sebagai lagu pujian yang riang gembira. Ia ingin menangkap **paradoks** (pertentangan) dalam peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem:
* Di satu sisi, Yesus dielu-elukan sebagai Raja (rakyat melambaikan daun palem).
* Di sisi lain, Yesus secara sadar menuju "takhta" yang berupa kayu salib.

Liriknya sangat tajam karena mengontraskan kemegahan duniawi dengan misi penderitaan Yesus. Kalimat *"Ride on, ride on in majesty! In lowly pomp ride on to die"* (Majulah dengan megah, dengan kemegahan yang rendah hati, majulah untuk mati) adalah inti dari teologi Milman: bahwa kemegahan sejati Kristus justru terletak pada kesediaan-Nya untuk menderita bagi manusia.

### 2. Komposer Musik: John Bacchus Dykes (1862)
Meskipun liriknya ditulis pada 1827, lagu ini baru menjadi populer setelah diiringi musik oleh **John Bacchus Dykes**. Dykes adalah seorang komposer musik gerejawi asal Inggris yang sangat produktif pada abad ke-19.

Dykes menggubah melodi untuk lagu ini dengan nama nada **"ST. DROSTANE"**. Melodi ini dipilih karena sifatnya yang khidmat, agung, namun memiliki kedalaman emosi yang pas dengan lirik Milman.

**Karakter Musik:**
* Tempo lagu ini biasanya lambat dan megah, mencerminkan arak-arakan kemenangan.
* Harmonisasi Dykes memberikan rasa urgensi sekaligus duka yang tertahan, yang sangat cocok dengan lirik yang bergeser dari "Hosana" di bait pertama ke "Salib" di bait terakhir.

### 3. Makna Teologis di Balik Liriknya
Keistimewaan lagu ini terletak pada perjalanannya yang dramatis:
* **Bait Awal:** Menggambarkan Yesus sebagai Raja yang agung yang dielu-elukan oleh orang banyak.
* **Bait Pertengahan:** Menekankan bahwa para malaikat menyaksikan arak-arakan ini dengan kesedihan, karena mereka tahu ke mana tujuan perjalanan tersebut (kematian).
* **Bait Terakhir:** Menyentuh puncak emosi di mana Yesus, sang Raja yang menang, justru menyerahkan diri-Nya untuk "minum cawan" penderitaan.

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Lagu ini menjadi sangat berpengaruh karena ia meruntuhkan citra "kemenangan" yang dangkal. Banyak lagu perayaan Minggu Palem seringkali terlalu fokus pada sorak-sorai rakyat. Namun, *Ride On, Ride On in Majesty!* mengingatkan jemaat bahwa di balik daun palem yang melambai, ada bayang-bayang kayu salib yang sudah menanti.

**Catatan Tambahan:**
Dalam buku himne gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru* di Indonesia), lagu ini sering menjadi pilihan utama untuk ibadah Minggu Palem. Kombinasi lirik yang puitis dan musik yang megah membuat pendengarnya merenungkan bahwa "kemenangan" Kristus bukanlah dengan pedang atau kuasa duniawi, melainkan melalui kerelaan-Nya untuk menderita demi menebus umat-Nya.

Apakah Anda sedang mempelajari lagu ini untuk persiapan pelayanan atau sekadar ingin mendalami maknanya?