Informasi Lagu
233
Nomor
Kode
NKI 233
Buku
Nyanyian Kemenangan Iman
Metronom
0
Cross Ref.
KPPK 139, PPK 69, NP 264, KP 61
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Dengarlah di surga ramai yang besar Kar’na dari jalan yang sesat Sudah balik pada jalan yang betul Anak yang di dosa tersesat. Hormat, nyanyilah malak-malak, Hormat, hormat bagi yang Elhak Tentara samawi menghormati Hu Bala surga sorak berseru.
Dengarlah di surga ramai yang besar Anak yang dahulu berset’ru S’karang cari Bapa dengan bersesal Bapa dengan Anak bertemu.
Dengarlah di surga ramai yang besar Pula anak rasalah senang Di neg’ri yang asing lapar dan bela Dalam rumah Bapa hal kenyang.
Dengarlah di surga ramai yang besar Karna hati bapa b’lum pernah Kurang kasih akan anak yang sesal Mari kami pulanglah seg’ra.
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — NKI 233 1
Slide 2 — NKI 233 2
Slide 3 — NKI 233 3
Slide 4 — NKI 233 4
Slide 5 — NKI 233 5
Partitur / Not
Partitur Chord NKI 233
Sejarah Lagu
Lagu **"Ring the Bells of Heaven"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi **"Bunyikan Genta Surga"** atau **"Riang dan Gembira di Surga"**) adalah salah satu himne Kristen klasik yang penuh sukacita. Lagu ini merupakan hasil kolaborasi antara seorang penulis lirik yang mengalami banyak penderitaan dan seorang komposer lagu gospel paling berpengaruh di abad ke-19.

Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:

### 1. Penulis Lirik: William Orcutt Cushing (1823–1903)
William O. Cushing adalah seorang pendeta dari Amerika Serikat yang melayani di Gereja Kristen (Disciples of Christ). Hidupnya bukanlah kehidupan yang mulus tanpa hambatan.

* **Penderitaan Pribadi:** Cushing adalah orang yang sangat rohani, namun ia mengalami cobaan berat ketika ia kehilangan suaranya. Akibat kondisi medis yang tidak dijelaskan secara rinci, ia terpaksa pensiun dari pelayanan mimbar aktif karena tidak bisa lagi berkhotbah dengan suara yang lantang.
* **Perubahan Fokus:** Meskipun kehilangan kemampuan berkhotbah secara lisan, Cushing tidak menyerah pada Tuhan. Ia memutuskan untuk "berkhotbah" melalui tulisan. Ia mulai menulis lirik lagu pujian. Ia sering berdoa agar Tuhan memberinya kata-kata yang bisa menguatkan orang lain, meskipun ia sendiri sedang mengalami keterbatasan fisik.
* **Filosofi Hidup:** Bagi Cushing, kesedihan di dunia hanyalah sementara, dan sukacita sejati ditemukan dalam pertobatan dan janji keselamatan. Inilah yang menjadi inti dari "Ring the Bells of Heaven"—sebuah lagu tentang perayaan atas jiwa yang kembali kepada Tuhan.

### 2. Komposer: George F. Root (1820–1895)
George F. Root adalah salah satu tokoh musik paling penting dalam sejarah Amerika Serikat. Ia dikenal bukan hanya sebagai penulis lagu gerejawi, tetapi juga sebagai komposer lagu-lagu populer selama Perang Saudara Amerika (seperti *Battle Cry of Freedom*).

* **Kolaborasi:** Cushing dan Root sering bekerja sama. Gaya musik Root sangat dikenal karena melodinya yang semangat, ritmik, dan mudah diikuti oleh jemaat awam. Ketika Cushing mengirimkan lirik *Ring the Bells of Heaven* kepada Root, Root langsung melihat potensi lagu tersebut sebagai lagu yang menggugah semangat (upbeat).

### 3. Makna di Balik Lirik
Lagu ini terinspirasi langsung dari ayat Alkitab **Lukas 15:7**, yang berbunyi:
> *"Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."*

Liriknya menceritakan tentang perayaan surgawi setiap kali ada "anak yang hilang" kembali ke rumah Bapa.

* **Simbolisme Lonceng:** Dalam budaya Kristen tradisional, lonceng digunakan untuk merayakan peristiwa penting. "Membunyikan lonceng surga" adalah metafora untuk sebuah pesta besar atau kemenangan besar di dimensi spiritual.
* **Pesan Pertobatan:** Lagu ini sangat menekankan bahwa setiap jiwa yang bertobat adalah alasan bagi seluruh isi surga untuk bergembira. Ini adalah pesan yang sangat optimis dan penuh pengharapan bagi siapa pun yang merasa tersesat atau tidak layak.

### 4. Dampak Lagu
Sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1866, lagu ini menjadi sangat populer dalam gerakan *Sunday School* dan pertemuan kebangunan rohani (revival) di Amerika dan kemudian tersebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.

Kekuatan lagu ini terletak pada kontras antara latar belakang penulisnya—seorang pria yang kehilangan suara untuk berbicara—dengan pesan lagu yang mengajak "seluruh dunia" untuk bersorak-sorai. Lagu ini menjadi bukti bahwa meskipun seseorang mungkin "bisu" di dunia ini, pesan kebenaran yang ia tulis bisa bergema dan "berbunyi" melintasi zaman.

### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **transformasi kesedihan menjadi sukacita.** William O. Cushing mengubah rasa frustrasinya karena kehilangan suara menjadi gema lonceng sukacita yang menyambut orang-orang berdosa pulang ke rumah Bapa. Ketika kita menyanyikan lagu ini, kita diingatkan bahwa di balik setiap tindakan pertobatan, ada perayaan besar yang sedang terjadi di surga, yang dirancang untuk mengalahkan kesedihan apa pun yang kita alami di bumi.