KP
Ambate Ramennya
Informasi Lagu
61
Nomor
Kode
KP 61
Buku
Kidung Pamuji
Metronom
0
Cross Ref.
NKI 233
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
1 bait
1.
Ambate ramennya kidung ring swargan
uli krana jadma madosa
Ne nguni sampun nyasar pamarginnya
Sane mangkin sampun mawali
Ambate ramennya ring swargan
Kakidungan para Malaekat
Bala swarga ngluwihang Sang Hyang Widi
Pada suryak-suryak mamuji
2.
Ambate ramennya kidung ring swargan
Rehning Putra ne murang lampah
Mangkin mawali tangkil ring Sang Aji
Aji-Putra mangkin matemu
Ambate ramennya ring swargan
Kakidungan para Malaekat
Bala swarga ngluwihang Sang Hyang Widi
Pada suryak-suryak mamuji
3.
Ambate ramennya kidung ring swargan
Reh Putra mangkin sampun liang
Ring jagate kantun terak tur baya
Ring purin Sang Aji genah sneng
Ambate ramennya ring swargan
Kakidungan para Malaekat
Bala swarga ngluwihang Sang Hyang Widi
Pada suryak-suryak mamuji
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Ring the Bells of Heaven"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi **"Bunyikan Genta Surga"** atau **"Riang dan Gembira di Surga"**) adalah salah satu himne Kristen klasik yang penuh sukacita. Lagu ini merupakan hasil kolaborasi antara seorang penulis lirik yang mengalami banyak penderitaan dan seorang komposer lagu gospel paling berpengaruh di abad ke-19.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: William Orcutt Cushing (1823–1903)
William O. Cushing adalah seorang pendeta dari Amerika Serikat yang melayani di Gereja Kristen (Disciples of Christ). Hidupnya bukanlah kehidupan yang mulus tanpa hambatan.
* **Penderitaan Pribadi:** Cushing adalah orang yang sangat rohani, namun ia mengalami cobaan berat ketika ia kehilangan suaranya. Akibat kondisi medis yang tidak dijelaskan secara rinci, ia terpaksa pensiun dari pelayanan mimbar aktif karena tidak bisa lagi berkhotbah dengan suara yang lantang.
* **Perubahan Fokus:** Meskipun kehilangan kemampuan berkhotbah secara lisan, Cushing tidak menyerah pada Tuhan. Ia memutuskan untuk "berkhotbah" melalui tulisan. Ia mulai menulis lirik lagu pujian. Ia sering berdoa agar Tuhan memberinya kata-kata yang bisa menguatkan orang lain, meskipun ia sendiri sedang mengalami keterbatasan fisik.
* **Filosofi Hidup:** Bagi Cushing, kesedihan di dunia hanyalah sementara, dan sukacita sejati ditemukan dalam pertobatan dan janji keselamatan. Inilah yang menjadi inti dari "Ring the Bells of Heaven"—sebuah lagu tentang perayaan atas jiwa yang kembali kepada Tuhan.
### 2. Komposer: George F. Root (1820–1895)
George F. Root adalah salah satu tokoh musik paling penting dalam sejarah Amerika Serikat. Ia dikenal bukan hanya sebagai penulis lagu gerejawi, tetapi juga sebagai komposer lagu-lagu populer selama Perang Saudara Amerika (seperti *Battle Cry of Freedom*).
* **Kolaborasi:** Cushing dan Root sering bekerja sama. Gaya musik Root sangat dikenal karena melodinya yang semangat, ritmik, dan mudah diikuti oleh jemaat awam. Ketika Cushing mengirimkan lirik *Ring the Bells of Heaven* kepada Root, Root langsung melihat potensi lagu tersebut sebagai lagu yang menggugah semangat (upbeat).
### 3. Makna di Balik Lirik
Lagu ini terinspirasi langsung dari ayat Alkitab **Lukas 15:7**, yang berbunyi:
> *"Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."*
Liriknya menceritakan tentang perayaan surgawi setiap kali ada "anak yang hilang" kembali ke rumah Bapa.
* **Simbolisme Lonceng:** Dalam budaya Kristen tradisional, lonceng digunakan untuk merayakan peristiwa penting. "Membunyikan lonceng surga" adalah metafora untuk sebuah pesta besar atau kemenangan besar di dimensi spiritual.
* **Pesan Pertobatan:** Lagu ini sangat menekankan bahwa setiap jiwa yang bertobat adalah alasan bagi seluruh isi surga untuk bergembira. Ini adalah pesan yang sangat optimis dan penuh pengharapan bagi siapa pun yang merasa tersesat atau tidak layak.
### 4. Dampak Lagu
Sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1866, lagu ini menjadi sangat populer dalam gerakan *Sunday School* dan pertemuan kebangunan rohani (revival) di Amerika dan kemudian tersebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.
Kekuatan lagu ini terletak pada kontras antara latar belakang penulisnya—seorang pria yang kehilangan suara untuk berbicara—dengan pesan lagu yang mengajak "seluruh dunia" untuk bersorak-sorai. Lagu ini menjadi bukti bahwa meskipun seseorang mungkin "bisu" di dunia ini, pesan kebenaran yang ia tulis bisa bergema dan "berbunyi" melintasi zaman.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **transformasi kesedihan menjadi sukacita.** William O. Cushing mengubah rasa frustrasinya karena kehilangan suara menjadi gema lonceng sukacita yang menyambut orang-orang berdosa pulang ke rumah Bapa. Ketika kita menyanyikan lagu ini, kita diingatkan bahwa di balik setiap tindakan pertobatan, ada perayaan besar yang sedang terjadi di surga, yang dirancang untuk mengalahkan kesedihan apa pun yang kita alami di bumi.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: William Orcutt Cushing (1823–1903)
William O. Cushing adalah seorang pendeta dari Amerika Serikat yang melayani di Gereja Kristen (Disciples of Christ). Hidupnya bukanlah kehidupan yang mulus tanpa hambatan.
* **Penderitaan Pribadi:** Cushing adalah orang yang sangat rohani, namun ia mengalami cobaan berat ketika ia kehilangan suaranya. Akibat kondisi medis yang tidak dijelaskan secara rinci, ia terpaksa pensiun dari pelayanan mimbar aktif karena tidak bisa lagi berkhotbah dengan suara yang lantang.
* **Perubahan Fokus:** Meskipun kehilangan kemampuan berkhotbah secara lisan, Cushing tidak menyerah pada Tuhan. Ia memutuskan untuk "berkhotbah" melalui tulisan. Ia mulai menulis lirik lagu pujian. Ia sering berdoa agar Tuhan memberinya kata-kata yang bisa menguatkan orang lain, meskipun ia sendiri sedang mengalami keterbatasan fisik.
* **Filosofi Hidup:** Bagi Cushing, kesedihan di dunia hanyalah sementara, dan sukacita sejati ditemukan dalam pertobatan dan janji keselamatan. Inilah yang menjadi inti dari "Ring the Bells of Heaven"—sebuah lagu tentang perayaan atas jiwa yang kembali kepada Tuhan.
### 2. Komposer: George F. Root (1820–1895)
George F. Root adalah salah satu tokoh musik paling penting dalam sejarah Amerika Serikat. Ia dikenal bukan hanya sebagai penulis lagu gerejawi, tetapi juga sebagai komposer lagu-lagu populer selama Perang Saudara Amerika (seperti *Battle Cry of Freedom*).
* **Kolaborasi:** Cushing dan Root sering bekerja sama. Gaya musik Root sangat dikenal karena melodinya yang semangat, ritmik, dan mudah diikuti oleh jemaat awam. Ketika Cushing mengirimkan lirik *Ring the Bells of Heaven* kepada Root, Root langsung melihat potensi lagu tersebut sebagai lagu yang menggugah semangat (upbeat).
### 3. Makna di Balik Lirik
Lagu ini terinspirasi langsung dari ayat Alkitab **Lukas 15:7**, yang berbunyi:
> *"Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."*
Liriknya menceritakan tentang perayaan surgawi setiap kali ada "anak yang hilang" kembali ke rumah Bapa.
* **Simbolisme Lonceng:** Dalam budaya Kristen tradisional, lonceng digunakan untuk merayakan peristiwa penting. "Membunyikan lonceng surga" adalah metafora untuk sebuah pesta besar atau kemenangan besar di dimensi spiritual.
* **Pesan Pertobatan:** Lagu ini sangat menekankan bahwa setiap jiwa yang bertobat adalah alasan bagi seluruh isi surga untuk bergembira. Ini adalah pesan yang sangat optimis dan penuh pengharapan bagi siapa pun yang merasa tersesat atau tidak layak.
### 4. Dampak Lagu
Sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1866, lagu ini menjadi sangat populer dalam gerakan *Sunday School* dan pertemuan kebangunan rohani (revival) di Amerika dan kemudian tersebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.
Kekuatan lagu ini terletak pada kontras antara latar belakang penulisnya—seorang pria yang kehilangan suara untuk berbicara—dengan pesan lagu yang mengajak "seluruh dunia" untuk bersorak-sorai. Lagu ini menjadi bukti bahwa meskipun seseorang mungkin "bisu" di dunia ini, pesan kebenaran yang ia tulis bisa bergema dan "berbunyi" melintasi zaman.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **transformasi kesedihan menjadi sukacita.** William O. Cushing mengubah rasa frustrasinya karena kehilangan suara menjadi gema lonceng sukacita yang menyambut orang-orang berdosa pulang ke rumah Bapa. Ketika kita menyanyikan lagu ini, kita diingatkan bahwa di balik setiap tindakan pertobatan, ada perayaan besar yang sedang terjadi di surga, yang dirancang untuk mengalahkan kesedihan apa pun yang kita alami di bumi.
Cross Reference
NKI 233
Di Surga Ramai Yang Besar
NKI
Sama Tema
Kebaktian
Haleluya Puji Miwah Panyuksema
KP
Baktinin Ida Sang Aji
KP
Sih Swecaning Sang Hyang Yesus Kristus
KP
Astiti Ring Sang Aji
KP
Dumadak Sih Sang Hyang Yesus
KP
Mugi Sih Swecaning Yesus
KP
Pangacep Titiang
KP
Manusa Jagi Kapaicain
KP
Pada Aturang Puji
KP
Ih Pra Kawulan Hyang Widi
KP
Ih Jadma Saduuring Gumi
KP
Ring Gunung Mwah Ring Pangkung
KP
Sang Hyang Widi Maha Luwih
KP
Ratun Titiang Sane Wenten Ring Swargan
KP
Sang Hyang Widi Suci
KP
Panglipuran Kayun Sungsut
KP
Ih Nak Ne Kateteh Dosa
KP
Maring Dija Ratun Titiang
KP
Oduh Ratu Sampunang Ja
KP
Tiang Ngrenga Sih Ida Turun
KP
Mrikija Nangkil Ring Hyang Yesus
KP
Sira Ne Leteh Tan Kalugra
KP
Yadiastu Dosan Titiang Ageng
KP
Mulih Ja Cening
KP
Duh Hyang Yesus Titiang Sukserah
KP
Nangkil Mangkin Ring Hyang Yesus
KP
Dosa Sida Kicalang
KP
Jagat Swecanin Hyang Widi
KP
Hyang Yesus Mesabda
KP
Elingang Parab Hyang Yesus
KP
Titiang Uning Wenten Kuri
KP
Duh Jiwan Titiang Bingarja
KP
Sang Hyang Widi Ngempu Titiang
KP
Ih Jiwan Titiang Bingar Ja
KP
Titiang Muji-Muji Ratu
KP
Yan Ngiring Sang Hyang Yesus
KP
Titiang Ngandel Ring Yesus
KP
Sang Hyang Yesus Nuntun Titiang
KP
Sang Hyang Yesus Ratun Titiang
KP
Titiang Ngiring Sang Hyang Yesus
KP
Krahayuan Jroning Yesus
KP
Sang Hyang Yesus Switran Titiang
KP
Duh Ratu Dumadak Nantan Margin Titiang
KP
Dumadak Sih Swecan Aji
KP
Jadma Sane Leleh
KP
Titiang Meled Ring Umah Tiang
KP
Tiang Uning Wenten Jagat Langgeng
KP
Oduh Ratu Sang Hyang Yesus
KP
Wenten Prahu Malayar Ka Suwarga
KP
Rare Rare Puniki
KP
Sang Hyang Yesus Titiang Sami
KP
Duh Ratu Sang Maha Darma
KP
Titiang Niki Jadma Dosa
KP
Pasamuan Liang Nampi
KP
Duh Ratu Titiang Ngastawayang
KP
Sang Hyang Yesus Titiang Pacang
KP
Titiang Nyadia Ngiring Hyang Yesus
KP
Margi Iring Sang Hyang Yesus
KP
Duh Hyang Yesus Wit Kapitresnan
KP
Ambate Rahayu Sang Mapikuren
KP
Titiang Nangkil Sareng Sami
KP
Duh Ratu Titiang Sami Mriki
KP
Pangandikan Sang Hyang Widi
KP
Pasawur Pasamuan Ne Ring Pangubakti Ring Rahina Re
KP
Oduh Ratu Titiang Sami
KP
Oduh Ratu Sang Hyang Widi
KP
Suryane Sampun Surup
KP
Rahina Niki Wantah Kicen
KP
Nawegang Ratu Titiang Nunas
KP
Gentosing Sasih Tur Tahun
KP
Ceritan Sang Hyang Yesus
KP
Yening Ngiring Widi
KP
Sampunang Ajrih Kakewuhan
KP
Ida Sang Hyang Roh Suci
KP
Sang Hyang Widi Tuntun Titiang
KP
Yen Sampun Dawuhnya Rawuh
KP
Ring Purin Ida Sang Aji
KP
Duk Sang Hyang Yesus Kategenin Salib
KP
Titiang Tan Uning Napike Krana
KP