NP
Serta Tuhan
Still, Still with Thee
Informasi Lagu
163
Nomor
Kode
NP 163
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Felix Mendelssohn
Pencipta Syair
Harriet Beecher Stowe
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Ya, serta Tuhan ketika terbit fajar
Dan bayang malam sudahlah lenyap;
Yang melampaui keindahan pagi
Ialah kehadiranNya yang tetap.
Ya, serta Tuhan ketika sampai siang,
Surya terang di langit yang cerah,
Dan jiwaku digugahNya kembali:
Surga dekat sebab Tuhan serta.
Ya, serta Tuhan ketika malam tiba,
Ku memanjatkan doa padaMu;
Dan terlelap di bawah naunganMu;
Sampai ku bangun, Tuhan sertaku.
Ya, serta Tuhan di pagi yang mulia,
Fajar kekal tak ada lagi glap;
Sungguh indah kehadiran Tuhanku!
Slama-lamanya Dia yang tetap.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu rohani klasik **"Still, Still with Thee"** (atau dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Serta Tuhan"*) adalah sebuah perpaduan antara pengalaman spiritual yang mendalam, pergumulan hidup, dan bakat musik yang jenius.
Berikut adalah detail kisah di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Puisi oleh Harriet Beecher Stowe (1855)
Harriet Beecher Stowe (1855) bukanlah seorang komposer, melainkan seorang penulis terkenal yang paling dikenal melalui novel klasiknya, *Uncle Tom’s Cabin*.
Namun, di balik citranya sebagai penulis prosa, ia adalah seorang wanita yang memiliki kehidupan spiritual yang sangat dalam. Pada tahun 1855, ia menulis sebuah puisi berjudul *"Still, Still with Thee"*. Puisi ini lahir dari kepasrahan dan kerinduan jiwanya kepada Tuhan di tengah dunia yang penuh dengan duka dan ketidakpastian.
Isi puisi ini mencerminkan Mazmur 139:18, *"Jika aku bangun, aku masih tetap bersama-sama dengan Engkau."* Stowe menggambarkan kedamaian yang ia temukan saat bangun di pagi hari, menyadari bahwa meski dunia sedang kacau, kehadiran Tuhan adalah satu-satunya realitas yang tetap.
### 2. Hubungan dengan Felix Mendelssohn
Ada sebuah kesalahpahaman umum yang perlu diluruskan: **Felix Mendelssohn tidak menulis lagu ini khusus untuk puisi Stowe.**
Felix Mendelssohn, komposer besar dari era Romantik, meninggal dunia pada tahun 1847—delapan tahun sebelum Harriet Beecher Stowe menerbitkan puisinya. Jadi, bagaimana keduanya bisa bersatu?
Melodi yang digunakan untuk lagu ini diambil dari karya instrumental Mendelssohn yang berjudul **"Songs Without Words" (Lieder ohne Worte)**, tepatnya pada *Book 5, Op. 62, No. 3* yang dikenal sebagai *"Funeral March"* (Mars Pemakaman).
Beberapa tahun setelah Stowe mempublikasikan puisinya, para penyunting buku nyanyian (hymnal) di Amerika Serikat mencari melodi yang tepat untuk mengiringi bait-bait puisi Stowe yang sangat indah dan menyentuh itu. Mereka menemukan bahwa struktur melodi Mendelssohn sangat pas dengan ritme dan suasana "ketenangan" yang dibangun dalam puisi Stowe.
### 3. Mengapa Lagu ini Begitu Berkesan?
Penyatuan antara puisi Stowe dan komposisi Mendelssohn dianggap sebagai salah satu "pernikahan" terbaik antara sastra dan musik dalam sejarah lagu rohani karena beberapa alasan:
* **Kedamaian yang Melankolis:** Melodi Mendelssohn (yang sebenarnya ditulis untuk suasana reflektif/duka) memberikan nuansa keintiman dan ketenangan yang mendalam. Ini sangat selaras dengan lirik Stowe yang bicara tentang "bangun di pagi hari dan merasa berada di hadirat Tuhan."
* **Tema Keabadian:** Puisi Stowe berbicara tentang keyakinan bahwa setelah kematian, hal pertama yang kita sadari adalah keberadaan Tuhan. Melodi Mendelssohn memberikan bobot emosional yang mendukung kedalaman teologis tersebut.
### 4. Makna Lirik yang Mendalam
Lirik *"Still, Still with Thee"* bukan hanya tentang bangun pagi secara fisik, melainkan tentang kesadaran jiwa. Stowe menulis:
> *"Still, still with Thee, when purple morning breaketh, / When the bird waketh, and the shadows flee; / Fairer than morning, lovelier than the daylight, / Dawns the sweet consciousness, I am with Thee."*
*(Serta-Mu, Tuhan, saat fajar merekah / Saat burung berkicau, dan bayang-bayang sirna / Lebih indah dari pagi, lebih elok dari siang / Muncul kesadaran manis, bahwa aku bersama-Mu.)*
### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah bukti bagaimana sebuah karya seni dapat melampaui waktu. Seorang penulis perempuan di Amerika (Stowe) menuliskan kata-kata yang lahir dari kerinduan jiwanya, dan kemudian kata-kata itu menemukan "rumah" dalam melodi indah dari seorang komposer Jerman (Mendelssohn) yang telah berpulang.
Hasilnya adalah sebuah lagu yang hingga hari ini sering dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia sebagai pengingat akan kesetiaan dan kehadiran Tuhan yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya, baik di saat bangun, saat bekerja, maupun di akhir hidup nanti.
Berikut adalah detail kisah di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Puisi oleh Harriet Beecher Stowe (1855)
Harriet Beecher Stowe (1855) bukanlah seorang komposer, melainkan seorang penulis terkenal yang paling dikenal melalui novel klasiknya, *Uncle Tom’s Cabin*.
Namun, di balik citranya sebagai penulis prosa, ia adalah seorang wanita yang memiliki kehidupan spiritual yang sangat dalam. Pada tahun 1855, ia menulis sebuah puisi berjudul *"Still, Still with Thee"*. Puisi ini lahir dari kepasrahan dan kerinduan jiwanya kepada Tuhan di tengah dunia yang penuh dengan duka dan ketidakpastian.
Isi puisi ini mencerminkan Mazmur 139:18, *"Jika aku bangun, aku masih tetap bersama-sama dengan Engkau."* Stowe menggambarkan kedamaian yang ia temukan saat bangun di pagi hari, menyadari bahwa meski dunia sedang kacau, kehadiran Tuhan adalah satu-satunya realitas yang tetap.
### 2. Hubungan dengan Felix Mendelssohn
Ada sebuah kesalahpahaman umum yang perlu diluruskan: **Felix Mendelssohn tidak menulis lagu ini khusus untuk puisi Stowe.**
Felix Mendelssohn, komposer besar dari era Romantik, meninggal dunia pada tahun 1847—delapan tahun sebelum Harriet Beecher Stowe menerbitkan puisinya. Jadi, bagaimana keduanya bisa bersatu?
Melodi yang digunakan untuk lagu ini diambil dari karya instrumental Mendelssohn yang berjudul **"Songs Without Words" (Lieder ohne Worte)**, tepatnya pada *Book 5, Op. 62, No. 3* yang dikenal sebagai *"Funeral March"* (Mars Pemakaman).
Beberapa tahun setelah Stowe mempublikasikan puisinya, para penyunting buku nyanyian (hymnal) di Amerika Serikat mencari melodi yang tepat untuk mengiringi bait-bait puisi Stowe yang sangat indah dan menyentuh itu. Mereka menemukan bahwa struktur melodi Mendelssohn sangat pas dengan ritme dan suasana "ketenangan" yang dibangun dalam puisi Stowe.
### 3. Mengapa Lagu ini Begitu Berkesan?
Penyatuan antara puisi Stowe dan komposisi Mendelssohn dianggap sebagai salah satu "pernikahan" terbaik antara sastra dan musik dalam sejarah lagu rohani karena beberapa alasan:
* **Kedamaian yang Melankolis:** Melodi Mendelssohn (yang sebenarnya ditulis untuk suasana reflektif/duka) memberikan nuansa keintiman dan ketenangan yang mendalam. Ini sangat selaras dengan lirik Stowe yang bicara tentang "bangun di pagi hari dan merasa berada di hadirat Tuhan."
* **Tema Keabadian:** Puisi Stowe berbicara tentang keyakinan bahwa setelah kematian, hal pertama yang kita sadari adalah keberadaan Tuhan. Melodi Mendelssohn memberikan bobot emosional yang mendukung kedalaman teologis tersebut.
### 4. Makna Lirik yang Mendalam
Lirik *"Still, Still with Thee"* bukan hanya tentang bangun pagi secara fisik, melainkan tentang kesadaran jiwa. Stowe menulis:
> *"Still, still with Thee, when purple morning breaketh, / When the bird waketh, and the shadows flee; / Fairer than morning, lovelier than the daylight, / Dawns the sweet consciousness, I am with Thee."*
*(Serta-Mu, Tuhan, saat fajar merekah / Saat burung berkicau, dan bayang-bayang sirna / Lebih indah dari pagi, lebih elok dari siang / Muncul kesadaran manis, bahwa aku bersama-Mu.)*
### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah bukti bagaimana sebuah karya seni dapat melampaui waktu. Seorang penulis perempuan di Amerika (Stowe) menuliskan kata-kata yang lahir dari kerinduan jiwanya, dan kemudian kata-kata itu menemukan "rumah" dalam melodi indah dari seorang komposer Jerman (Mendelssohn) yang telah berpulang.
Hasilnya adalah sebuah lagu yang hingga hari ini sering dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia sebagai pengingat akan kesetiaan dan kehadiran Tuhan yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya, baik di saat bangun, saat bekerja, maupun di akhir hidup nanti.
Yesus Bagaikan Gembala
NP
Ku Bersandar pada Yang Kekal
NP
Pimpin Aku, Allah Bapa
NP
Pimpin Aku, Allah Bapa
NP
Tuhan yang Memimpin Aku
NP
Yesus, B'rilah Pimpinan
NP
Berjalan SertaNya
NP
Yesus, Cahaya Jiwaku
NP
Tuhan Menuntun Hidupku
NP
Tuhan Menjagamu
NP
Tiap Hari, Tiap Jam
NP
Yesus Kuperlukan
NP
Mulia SetiaMu
NP
Siang Sudah Lalu
NP
Bapa Surgawi Mem'liharaku
NP
Naungan Jiwaku
NP
Ya Allah, Kau Pertolongan
NP