NP
Esalah Dasar G'reja
The Church's One Foundation
Informasi Lagu
166
Nomor
Kode
NP 166
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Samuel S. Wesley
Pencipta Syair
Samuel J. Stone
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Esalah dasar Greja, Kristus Sang Penebus,
Dibangun oleh RohNya dan FirmanNya kudus;
Tuhan yang dari surga turun mencarinya,
Baginya menderita, Menghapus dosanya.
Antara bangsa-bangsa di sluruh dunia,
Esalah iman Greja, Esalah Tuhannya,
Esa nama junjungan, Esa perjamuan,
Esalah pengharapan untuk keslamatan.
Di dalam kesukaran serta aniaya,
Jemaat menantikan damai selamanya,
Harapan yang mulia menuntun langkahnya
Menuju trang ceria, Tempat sejahtera.
Greja yang di dunia esa dalam Tuhan,
Dengan Greja di surga esa dalam iman;
Alangkah bahagianya bersatu di sana!
Ya Tuhan Mahamulia, UmatMu trimalah!
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"The Church's One Foundation"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Dasar G'reja"*) adalah salah satu himne (kidung jemaat) paling ikonik dalam sejarah Kristen. Kisah di balik lagu ini sangat menarik karena merupakan respons terhadap sebuah krisis teologis yang nyata pada pertengahan abad ke-19.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Latar Belakang: Krisis di Gereja Inggris (1860-an)
Pada tahun 1860-an, Gereja Inggris (Anglican) sedang diguncang oleh kontroversi besar yang berpusat di Afrika Selatan. **John William Colenso**, seorang uskup di Natal, Afrika Selatan, menerbitkan serangkaian buku yang mempertanyakan keabsahan sejarah Pentateukh (lima kitab pertama dalam Alkitab) dan menantang doktrin tradisional mengenai inspirasi ilahi dalam Kitab Suci.
Pandangan Colenso dianggap sebagai serangan langsung terhadap fondasi iman Kristen dan otoritas Alkitab. Hal ini memicu perpecahan hebat di kalangan umat dan klerus di Inggris. Banyak tokoh gereja merasa bahwa gereja sedang diserang dari dalam.
### 2. Penulis Lirik: Samuel J. Stone (1866)
Di tengah badai kontroversi tersebut, seorang pendeta muda bernama **Samuel J. Stone** (1839–1900) merasa terpanggil untuk memberikan pernyataan iman yang kokoh. Sebagai tanggapan terhadap ajaran Colenso, Stone menulis serangkaian puisi berdasarkan *Pengakuan Iman Rasuli* (*Apostles' Creed*).
Stone ingin menulis lagu yang menegaskan bahwa gereja bukanlah milik manusia atau pemikiran intelektual sesaat, melainkan dibangun di atas dasar yang tak tergoyahkan: **Yesus Kristus sendiri.**
Lagu "The Church's One Foundation" adalah puisi nomor empat dalam kumpulan karyanya yang berjudul *Lyra Fidelium* (1866). Bait-bait lagu ini secara puitis merangkum doktrin tentang gereja yang satu, kudus, am, dan rasuli.
* **Bait pertama:** Menegaskan bahwa Kristus adalah satu-satunya fondasi gereja.
* **Bait kedua:** Menjawab kritik Colenso, bahwa meskipun dunia meragukan, gereja tetap berdiri di atas kebenaran.
* **Bait ketiga:** Mengakui bahwa gereja terdiri dari manusia yang berdosa, namun ditebus oleh kasih Allah.
### 3. Komposisi Musik: Samuel Sebastian Wesley (1864)
Meskipun liriknya ditulis pada tahun 1866, melodi yang kita kenal sekarang—yang bernama **"Aurelia"**—diciptakan sedikit lebih awal oleh **Samuel Sebastian Wesley** (1810–1876), seorang komponis musik gereja terkenal dari Inggris.
Wesley awalnya menggubah melodi ini pada tahun 1864 untuk himne lain yang berjudul *"Jerusalem the Golden."* Kata "Aurelia" sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti "keemasan" (merujuk pada judul himne asli yang ia gunakan).
Perpaduan antara lirik Stone yang teologis-berani dengan melodi "Aurelia" karya Wesley yang megah dan penuh semangat ternyata sangat cocok. Lagu ini pertama kali diterbitkan bersama dalam buku nyanyian *Hymns Ancient and Modern* pada tahun 1868 dan sejak itu menjadi salah satu lagu yang paling dicintai di seluruh dunia.
### 4. Pesan Abadi
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena pesannya yang universal. Ia mengingatkan jemaat bahwa:
* Gereja bukan organisasi manusia, melainkan Tubuh Kristus.
* Di tengah konflik, keraguan, dan tantangan zaman, fondasi gereja tidak akan pernah berubah.
* Gereja memiliki masa depan yang pasti karena Kristus adalah "Kepala" gereja.
### Kesimpulan
Secara historis, "The Church's One Foundation" lahir dari **"kebutuhan akan kepastian"** di masa keraguan. Samuel J. Stone berhasil mengubah kecemasan teologis menjadi sebuah kidung kemenangan yang agung. Hingga kini, lagu ini sering dinyanyikan dalam berbagai perayaan gerejawi, konferensi, dan kebaktian Minggu, sebagai pengingat bahwa di atas segala perbedaan pendapat atau serangan dunia, Yesus Kristus tetap menjadi satu-satunya dasar bagi umat-Nya.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Latar Belakang: Krisis di Gereja Inggris (1860-an)
Pada tahun 1860-an, Gereja Inggris (Anglican) sedang diguncang oleh kontroversi besar yang berpusat di Afrika Selatan. **John William Colenso**, seorang uskup di Natal, Afrika Selatan, menerbitkan serangkaian buku yang mempertanyakan keabsahan sejarah Pentateukh (lima kitab pertama dalam Alkitab) dan menantang doktrin tradisional mengenai inspirasi ilahi dalam Kitab Suci.
Pandangan Colenso dianggap sebagai serangan langsung terhadap fondasi iman Kristen dan otoritas Alkitab. Hal ini memicu perpecahan hebat di kalangan umat dan klerus di Inggris. Banyak tokoh gereja merasa bahwa gereja sedang diserang dari dalam.
### 2. Penulis Lirik: Samuel J. Stone (1866)
Di tengah badai kontroversi tersebut, seorang pendeta muda bernama **Samuel J. Stone** (1839–1900) merasa terpanggil untuk memberikan pernyataan iman yang kokoh. Sebagai tanggapan terhadap ajaran Colenso, Stone menulis serangkaian puisi berdasarkan *Pengakuan Iman Rasuli* (*Apostles' Creed*).
Stone ingin menulis lagu yang menegaskan bahwa gereja bukanlah milik manusia atau pemikiran intelektual sesaat, melainkan dibangun di atas dasar yang tak tergoyahkan: **Yesus Kristus sendiri.**
Lagu "The Church's One Foundation" adalah puisi nomor empat dalam kumpulan karyanya yang berjudul *Lyra Fidelium* (1866). Bait-bait lagu ini secara puitis merangkum doktrin tentang gereja yang satu, kudus, am, dan rasuli.
* **Bait pertama:** Menegaskan bahwa Kristus adalah satu-satunya fondasi gereja.
* **Bait kedua:** Menjawab kritik Colenso, bahwa meskipun dunia meragukan, gereja tetap berdiri di atas kebenaran.
* **Bait ketiga:** Mengakui bahwa gereja terdiri dari manusia yang berdosa, namun ditebus oleh kasih Allah.
### 3. Komposisi Musik: Samuel Sebastian Wesley (1864)
Meskipun liriknya ditulis pada tahun 1866, melodi yang kita kenal sekarang—yang bernama **"Aurelia"**—diciptakan sedikit lebih awal oleh **Samuel Sebastian Wesley** (1810–1876), seorang komponis musik gereja terkenal dari Inggris.
Wesley awalnya menggubah melodi ini pada tahun 1864 untuk himne lain yang berjudul *"Jerusalem the Golden."* Kata "Aurelia" sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti "keemasan" (merujuk pada judul himne asli yang ia gunakan).
Perpaduan antara lirik Stone yang teologis-berani dengan melodi "Aurelia" karya Wesley yang megah dan penuh semangat ternyata sangat cocok. Lagu ini pertama kali diterbitkan bersama dalam buku nyanyian *Hymns Ancient and Modern* pada tahun 1868 dan sejak itu menjadi salah satu lagu yang paling dicintai di seluruh dunia.
### 4. Pesan Abadi
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena pesannya yang universal. Ia mengingatkan jemaat bahwa:
* Gereja bukan organisasi manusia, melainkan Tubuh Kristus.
* Di tengah konflik, keraguan, dan tantangan zaman, fondasi gereja tidak akan pernah berubah.
* Gereja memiliki masa depan yang pasti karena Kristus adalah "Kepala" gereja.
### Kesimpulan
Secara historis, "The Church's One Foundation" lahir dari **"kebutuhan akan kepastian"** di masa keraguan. Samuel J. Stone berhasil mengubah kecemasan teologis menjadi sebuah kidung kemenangan yang agung. Hingga kini, lagu ini sering dinyanyikan dalam berbagai perayaan gerejawi, konferensi, dan kebaktian Minggu, sebagai pengingat bahwa di atas segala perbedaan pendapat atau serangan dunia, Yesus Kristus tetap menjadi satu-satunya dasar bagi umat-Nya.