Informasi Lagu
172
Nomor
Kode
NP 172
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
William G. Tomer
Pencipta Syair
Jeremiah E. Rankin, Yamuger, 1978
Cross Ref.
KJ 346, KC 358, KK 578, BN 80
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Tuhan Allah beserta engkau Sampai bertemu kembali; Kasih Kristus mengawali, Tuhan Allah beserta engkau! Sampai bertemu, bertemu, Sampai nanti kita bertemu; Sampai bertemu, bertemu, Tuhan Allah beserta engkau! Amin.
Tuhan Allah beserta engkau: SayapNya pernaunganmu, Sabda Kristus santapanmu, Tuhan Allah beserta engkau!
Tuhan Allah beserta engkau Dalam susah dan keluhmu; RangkulanNya menghiburmu, Tuhan Allah beserta engkau!
Tuhan Allah beserta engkau! Panji kasih peganganmu, Maut pun kalah di depanmu, Tuhan Allah beserta engkau!
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — NP 172 1
Slide 2 — NP 172 2
Slide 3 — NP 172 3
Slide 4 — NP 172 4
Partitur / Not
Partitur Chord NP 172
Sejarah Lagu
Lagu **"Tuhan Allah Beserta Engkau"** (*God Be with You Till We Meet Again*) adalah salah satu lagu perpisahan paling ikonik dalam sejarah himne Kristen. Lagu ini tidak lahir dari perasaan gembira, melainkan dari kebutuhan akan penghiburan di saat perpisahan.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Latar Belakang Penulis Lirik: Jeremiah E. Rankin (1882)
Penulis liriknya adalah **Jeremiah E. Rankin**, seorang pendeta di Gereja Kongregasional di Washington, D.C. Pada tahun 1882, Rankin merasa perlu menulis sebuah lagu perpisahan untuk jemaatnya.

Motivasi utamanya adalah **makna etimologis dari kata "Goodbye"**. Dalam bahasa Inggris kuno, kata "Goodbye" sebenarnya merupakan kependekan dari frasa *"God be with ye"* (Tuhan besertamu). Rankin ingin mengembalikan makna spiritual dari ungkapan perpisahan tersebut agar tidak sekadar menjadi formalitas sosial, tetapi menjadi sebuah doa yang sungguh-sungguh.

Ia merancang liriknya untuk memberikan kekuatan, penghiburan, dan perlindungan bagi mereka yang harus berpisah. Bait-baitnya dirancang untuk menenangkan hati orang-orang yang menghadapi ketidakpastian saat mereka tidak lagi bersama secara fisik.

### 2. Komposisi Musik: William G. Tomer
Setelah menulis liriknya, Rankin mencari seseorang yang bisa menciptakan melodi yang pas. Ia kemudian bertemu dengan **William G. Tomer**, seorang guru sekolah dan mantan pegawai Departemen Perang Amerika Serikat.

Tomer adalah seorang musisi berbakat yang memahami keinginan Rankin. Ia menciptakan melodi yang tenang, kontemplatif, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat. Melodi ini sangat selaras dengan suasana perpisahan yang khidmat namun penuh harapan. Lagu ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1882 dan segera menjadi sangat populer di berbagai gereja di Amerika Serikat.

### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Lagu ini bukan sekadar ucapan "selamat jalan", melainkan janji kasih Allah yang tidak pernah meninggalkan.
* **Bait 1:** Fokus pada penyertaan Tuhan dalam aktivitas sehari-hari ("...di dalam tugasmu sehari-hari").
* **Bait 2:** Fokus pada perlindungan Tuhan saat menghadapi bahaya ("...di tengah gelombang hidup yang berat").
* **Bait 3:** Fokus pada penghiburan saat hati berduka atau merasa kehilangan.
* **Bait 4:** Memberikan pengharapan akan pertemuan kembali di masa depan, baik di dunia maupun di keabadian (surga).

### 4. Masuk ke Indonesia (Yamuger)
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat akrab di telinga jemaat karena masuk dalam **Kidung Jemaat (KJ) No. 426**, yang diterbitkan oleh **Yayasan Musik Gereja (Yamuger)** pada tahun 1978.

Dalam versi bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh **E.L. Pohan**, lagu ini tetap mempertahankan esensi aslinya. Lagu ini telah menjadi standar wajib dalam kebaktian perpisahan, acara pelepasan anggota jemaat, atau saat mengantar orang yang akan melakukan perjalanan jauh.

### Fakta Menarik:
* **Penggunaan Historis:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam momen-momen bersejarah yang menyentuh. Salah satunya adalah pada upacara pemakaman Presiden Amerika Serikat, **James A. Garfield**, yang merupakan teman dekat dari Jeremiah E. Rankin.
* **Fungsi Psikologis:** Lagu ini sering dipilih bukan karena ingin meratapi perpisahan, melainkan untuk memberikan kepastian kepada mereka yang pergi bahwa Tuhan tetap memelihara mereka di tempat yang baru, dan kepada mereka yang tinggal bahwa Tuhan juga tetap memelihara mereka.

Kisah di balik lagu ini mengajarkan bahwa setiap perpisahan, meskipun terasa berat, selalu berada di bawah kendali pemeliharaan Tuhan. Itulah sebabnya hingga hari ini, lebih dari 140 tahun setelah diciptakan, lagu ini tetap relevan dan masih sering dinyanyikan di seluruh dunia.