NP
Dengarkanlah Lonceng Natal
I Heard the Bells on Christmas Day
Informasi Lagu
52
Nomor
Kode
NP 52
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Jean Baptiste Calkin
Pencipta Syair
Henry Wadsworth Longfellow
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Dengarkanlah lonceng Natal
Dan nyanyian yang dikenal;
Dengan terang berkumandang:
"Damai sejahtra di bumi."
Betapa indah bunyinya!
Angkasa bergema ria;
Segnap insan menyanyikan:
"Damai sejahtra di bumi."
Mungkin hati jadi cemas
Oleh bantahan yang keras;
Dimanakah sesungguhnya:
"Damai sejahtra di bumi?"
Lebih jelaslah bunyinya:
Allah hidup berkuasa,
Kejahatan digagalkan:
"Damai sejahtra di bumi."
Irama lagu yang indah
Tetap tak putus-putusnya,
Hingga tiba hari mulia:
"Damai sejahtra di bumi." Amin.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"I Heard the Bells on Christmas Day"** (Dengarkanlah Lonceng Natal) adalah salah satu kisah yang paling mengharukan dan tragis dalam sejarah musik Natal. Lagu ini bukan sekadar nyanyian gembira, melainkan sebuah pergulatan batin yang mendalam antara keputusasaan dan iman.
Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Penulis: Henry Wadsworth Longfellow
Lirik lagu ini diambil dari puisi karya penyair besar Amerika, **Henry Wadsworth Longfellow**, yang berjudul *"Christmas Bells"* (1863). Longfellow adalah penyair yang sangat dicintai pada masanya, namun hidupnya ditandai oleh tragedi yang sangat berat.
### 2. Tragedi yang Melatarbelakangi
Puisi ini ditulis saat Amerika sedang berada di tengah-tengah **Perang Saudara (Civil War)** yang berdarah. Namun, bagi Longfellow, perang itu bukan satu-satunya sumber duka. Dua peristiwa traumatis menghancurkan hatinya sebelum ia menulis puisi tersebut:
* **Kematian Istrinya (1861):** Istri tercintanya, Fanny Appleton Longfellow, tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Gaunnya terbakar saat ia sedang menyegel surat dengan lilin. Henry mencoba memadamkan api dengan tubuhnya, tetapi ia gagal dan justru mengalami luka bakar parah di wajah dan tangannya. Istrinya meninggal keesokan harinya, dan Henry tidak dapat menghadiri pemakaman istrinya karena luka bakarnya yang parah.
* **Putranya yang Terluka (1863):** Dua tahun setelah kematian istrinya, putra sulungnya, Charles Appleton Longfellow, pergi berperang secara diam-diam untuk membela pihak Utara (Union). Charles tertembak di bagian punggung, dan pelurunya hampir mengenai tulang belakangnya, yang membuatnya lumpuh sebagian.
### 3. Proses Penulisan: Titik Terendah
Pada Hari Natal tahun 1863, Longfellow duduk di rumahnya. Ia merasa dunia sedang hancur. Perang saudara memecah belah bangsanya, putra kesayangannya terancam cacat seumur hidup, dan ia masih meratapi kematian istrinya.
Ia mendengar suara lonceng gereja berdentang di kejauhan pada pagi Natal itu. Awalnya, alih-alih merasa damai, suara lonceng itu justru terasa seperti ejekan baginya. Ia merasa bahwa pesan "Damai di bumi, niat baik di antara manusia" (*Peace on earth, good will to men*) sudah tidak relevan lagi dengan realitas dunia yang penuh kebencian dan kematian.
Dalam bait puisinya, ia menulis:
> *"And in despair I bowed my head; 'There is no peace on earth,' I said; 'For hate is strong, And mocks the song Of peace on earth, good will to men!'"*
> (Dan dalam keputusasaan aku menundukkan kepala; 'Tidak ada kedamaian di bumi,' kataku; 'Karena kebencian itu kuat, dan mengejek lagu tentang damai di bumi, niat baik bagi manusia!')
### 4. Perubahan Hati
Namun, saat lonceng terus berdentang, Longfellow mengalami pergeseran perspektif. Ia menyadari bahwa meski manusia penuh dengan kejahatan dan perang, Tuhan tetap berdaulat. Ia mengakhiri puisinya dengan keyakinan bahwa kebenaran akan menang dan Tuhan tidak diam.
> *"Then pealed the bells more loud and deep: 'God is not dead, nor doth He sleep! The Wrong shall fail, The Right prevail, With peace on earth, good will to men!'"*
> (Kemudian lonceng berdentang lebih keras dan dalam: 'Tuhan tidak mati, dan Dia tidak tidur! Yang salah akan gagal, yang benar akan menang, dengan kedamaian di bumi, niat baik bagi manusia!')
### 5. Komposisi Musik
Meskipun puisi tersebut ditulis pada tahun 1863, melodi yang paling terkenal yang kita dengar hari ini disusun oleh **John Baptiste Calkin** pada tahun 1872. Calkin adalah seorang organis gereja asal Inggris. Melodi yang ia ciptakan memberikan nuansa khidmat sekaligus megah yang sangat cocok dengan pesan kemenangan iman Longfellow di atas keputusasaan.
### Kesimpulan
"I Heard the Bells on Christmas Day" menjadi lagu Natal yang unik karena lagu ini jujur tentang penderitaan manusia. Lagu ini mengakui bahwa dunia memang tempat yang penuh konflik, namun pesan Natal adalah sebuah harapan yang melampaui semua tragedi tersebut. Longfellow membuktikan bahwa bahkan di tengah "malam" yang paling gelap dalam hidup seseorang, lonceng harapan tetap bisa berdentang.
Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Penulis: Henry Wadsworth Longfellow
Lirik lagu ini diambil dari puisi karya penyair besar Amerika, **Henry Wadsworth Longfellow**, yang berjudul *"Christmas Bells"* (1863). Longfellow adalah penyair yang sangat dicintai pada masanya, namun hidupnya ditandai oleh tragedi yang sangat berat.
### 2. Tragedi yang Melatarbelakangi
Puisi ini ditulis saat Amerika sedang berada di tengah-tengah **Perang Saudara (Civil War)** yang berdarah. Namun, bagi Longfellow, perang itu bukan satu-satunya sumber duka. Dua peristiwa traumatis menghancurkan hatinya sebelum ia menulis puisi tersebut:
* **Kematian Istrinya (1861):** Istri tercintanya, Fanny Appleton Longfellow, tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Gaunnya terbakar saat ia sedang menyegel surat dengan lilin. Henry mencoba memadamkan api dengan tubuhnya, tetapi ia gagal dan justru mengalami luka bakar parah di wajah dan tangannya. Istrinya meninggal keesokan harinya, dan Henry tidak dapat menghadiri pemakaman istrinya karena luka bakarnya yang parah.
* **Putranya yang Terluka (1863):** Dua tahun setelah kematian istrinya, putra sulungnya, Charles Appleton Longfellow, pergi berperang secara diam-diam untuk membela pihak Utara (Union). Charles tertembak di bagian punggung, dan pelurunya hampir mengenai tulang belakangnya, yang membuatnya lumpuh sebagian.
### 3. Proses Penulisan: Titik Terendah
Pada Hari Natal tahun 1863, Longfellow duduk di rumahnya. Ia merasa dunia sedang hancur. Perang saudara memecah belah bangsanya, putra kesayangannya terancam cacat seumur hidup, dan ia masih meratapi kematian istrinya.
Ia mendengar suara lonceng gereja berdentang di kejauhan pada pagi Natal itu. Awalnya, alih-alih merasa damai, suara lonceng itu justru terasa seperti ejekan baginya. Ia merasa bahwa pesan "Damai di bumi, niat baik di antara manusia" (*Peace on earth, good will to men*) sudah tidak relevan lagi dengan realitas dunia yang penuh kebencian dan kematian.
Dalam bait puisinya, ia menulis:
> *"And in despair I bowed my head; 'There is no peace on earth,' I said; 'For hate is strong, And mocks the song Of peace on earth, good will to men!'"*
> (Dan dalam keputusasaan aku menundukkan kepala; 'Tidak ada kedamaian di bumi,' kataku; 'Karena kebencian itu kuat, dan mengejek lagu tentang damai di bumi, niat baik bagi manusia!')
### 4. Perubahan Hati
Namun, saat lonceng terus berdentang, Longfellow mengalami pergeseran perspektif. Ia menyadari bahwa meski manusia penuh dengan kejahatan dan perang, Tuhan tetap berdaulat. Ia mengakhiri puisinya dengan keyakinan bahwa kebenaran akan menang dan Tuhan tidak diam.
> *"Then pealed the bells more loud and deep: 'God is not dead, nor doth He sleep! The Wrong shall fail, The Right prevail, With peace on earth, good will to men!'"*
> (Kemudian lonceng berdentang lebih keras dan dalam: 'Tuhan tidak mati, dan Dia tidak tidur! Yang salah akan gagal, yang benar akan menang, dengan kedamaian di bumi, niat baik bagi manusia!')
### 5. Komposisi Musik
Meskipun puisi tersebut ditulis pada tahun 1863, melodi yang paling terkenal yang kita dengar hari ini disusun oleh **John Baptiste Calkin** pada tahun 1872. Calkin adalah seorang organis gereja asal Inggris. Melodi yang ia ciptakan memberikan nuansa khidmat sekaligus megah yang sangat cocok dengan pesan kemenangan iman Longfellow di atas keputusasaan.
### Kesimpulan
"I Heard the Bells on Christmas Day" menjadi lagu Natal yang unik karena lagu ini jujur tentang penderitaan manusia. Lagu ini mengakui bahwa dunia memang tempat yang penuh konflik, namun pesan Natal adalah sebuah harapan yang melampaui semua tragedi tersebut. Longfellow membuktikan bahwa bahkan di tengah "malam" yang paling gelap dalam hidup seseorang, lonceng harapan tetap bisa berdentang.
Sama Tema
Tritunggal, Yesus Kristus, Kelahiran
Palungan di Kandang
NP
Hai Betlehem Efrata
NP
Malam Kudus
NP
Di Waktu Malam yang Cerah
NP
Hai Malaikat dari Surga
NP
Noel, Noel
NP
Suara Malak nan Merdu
NP
Camkan Lagu yang Merdu
NP
Gembala Menjaga Dombanya
NP
Hari Natal Tuhanku
NP
Bintang di Timur
NP
Kami Tiga Orang Majus
NP
Hai Mari Berhimpun
NP
Di Neg'ri Raja Daud
NP
TakhtaMu Kautinggalkan
NP
Ada Lagu Merdu
NP
Hai Dunia, Bersukalah!
NP
Kabarkan dari Gunung
NP
B'rilah Hormat
NP