Informasi Lagu
68
Nomor
Kode
NP 68
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Hugh Wilson
Pencipta Syair
Isaac Watts
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Sungguhkah Yesus tlah mati, DarahNya pun tumpah? Sungguhkah bagi yang keji Tersiksa Sang Raja?
Sungguhkah karna dosaku Tersalib Almasih? Betapa agung dan penuh RahmatNya tak terpri!
Tak heran pudar sang surya Dan bumi pun kelam Di saat mati Khaliknya, Mengganti yang kejam.
Sungguh besar deritaMu, Tak mampu kubalas: Kubrikan hidupku penuh Dengan tulus ikhlas.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 68
Sejarah Lagu
Lagu **"Alas! And Did My Savior Bleed?"** (dalam bahasa Indonesia dikenal dengan judul **"Sungguhkah Yesus T'lah Mati?"**) adalah salah satu lagu himne paling emosional dan mendalam dalam sejarah kekristenan. Lagu ini tidak hanya sekadar puisi, tetapi sebuah refleksi teologis yang sangat jujur tentang pengorbanan Kristus.

Berikut adalah kisah di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Sang Penulis Lirik: Isaac Watts (1707)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Isaac Watts**, seorang pendeta asal Inggris yang dikenal sebagai "Bapak Himne Bahasa Inggris". Watts menulis lirik ini pada tahun 1707, saat ia berusia 33 tahun.

Kisah di balik lirik ini dimulai dari keprihatinan Watts terhadap ibadah di gerejanya saat itu. Di awal abad ke-18, gereja-gereja di Inggris umumnya hanya menyanyikan Mazmur (pengulangan teks Alkitab secara harfiah) dengan nada yang monoton dan kaku. Watts merasa jemaat kehilangan semangat untuk merespons kasih Tuhan secara pribadi.

Suatu hari, setelah menyampaikan khotbah tentang penderitaan Kristus, Watts merasa belum cukup puas mengungkapkannya hanya melalui pidato. Ia tergerak untuk menulis sebuah puisi yang bisa membantu jemaat "merasakan" beban dosa mereka dan kasih pengampunan Kristus. Ia ingin umat kristiani tidak hanya membaca tentang salib, tetapi *merenungkannya*.

### 2. Makna di Balik Bait Lagu
Lirik ini sebenarnya terinspirasi dari beberapa ayat Alkitab, terutama **Lukas 23:44-45**, yang menceritakan kegelapan yang menyelimuti bumi saat Yesus wafat di kayu salib. Watts menuliskan kalimat yang sangat provokatif:
> *"Alas! and did my Savior bleed? And did my Sovereign die? Would He devote that sacred head for such a worm as I?"*
> *(Sungguhkah Yesus t'lah mati? Tuhanku disalib? Menanggung sakit dan pedih bagi yang hina ini?)*

Watts menggunakan istilah *"for such a worm as I"* (untuk cacing hina seperti aku) bukan untuk merendahkan diri secara tidak sehat, melainkan untuk menekankan betapa besarnya jurang pemisah antara kesucian Tuhan dan keberdosaan manusia. Ia ingin menekankan bahwa penderitaan Yesus sangatlah tidak proporsional dengan siapa kita; itu adalah murni kasih karunia.

### 3. Komposisi Musik: Hugh Wilson (1800-an)
Meskipun liriknya ditulis oleh Watts pada tahun 1707, melodi yang paling ikonik dan sering kita dengar saat ini (yang dikenal dengan nama nada **"Martyrdom"**) disusun oleh **Hugh Wilson** sekitar tahun 1800-an.

Hugh Wilson adalah seorang tukang sepatu (shoemaker) di Skotlandia yang juga seorang musisi amatir yang berbakat. Nama "Martyrdom" (Kesyahidan) diberikan pada melodi ini karena nada minornya yang sangat menyayat hati, sangat cocok dengan tema kematian dan pengorbanan yang ditulis oleh Watts. Perpaduan antara lirik Watts yang introspektif dan melodi Wilson yang melankolis menciptakan atmosfer perenungan yang sangat kuat bagi para pendengarnya.

### 4. Dampak Lagu ini: Kisah Charles Wesley
Salah satu kisah paling terkenal tentang pengaruh lagu ini berkaitan dengan **Charles Wesley**, salah satu tokoh besar kebangunan rohani di Inggris.

Diceritakan bahwa pada saat-saat terakhir hidupnya, Charles Wesley berbaring di tempat tidur dan membacakan bait terakhir dari lagu ini kepada istrinya:
> *"But drops of grief can ne'er repay the debt of love I owe; Here, Lord, I give myself away—'tis all that I can do."*
> *(Air mataku takkan dapat melunasi hutang kasih-Mu; Tuhan, kuberikan diriku—hanya ini yang mampu kuberi.)*

Kalimat terakhir tersebut, *"Here, Lord, I give myself away—'tis all that I can do,"* telah menjadi doa bagi jutaan orang selama berabad-abad sebagai komitmen penyerahan diri total kepada Tuhan.

### Kesimpulan
Lagu "Sungguhkah Yesus T'lah Mati?" bukanlah lagu yang diciptakan untuk perayaan yang gegap gempita. Lagu ini lahir dari kerinduan seorang pria untuk membawa jemaat kembali kepada **esensi salib**. Dengan memadukan lirik yang menanyakan "Mengapa Tuhan mau mati untuk orang seperti saya?" dan melodi yang menyayat hati, lagu ini terus mengingatkan umat kristiani akan harga mahal dari keselamatan yang mereka terima.