NP
Salib Kristus Kubanggakan
In the Cross of Christ I Glory
Informasi Lagu
69
Nomor
Kode
NP 69
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Ithamar Conkey
Pencipta Syair
John Bowring
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Salib Kristus kubanggakan,
Tak berubah tiap masa;
Kisah suci dipancarkan
Bagi isi dunia.
Bila biduk hidup goncang,
Bimbang, hilang haluan,
Salib Kristus yang gemilang
Jadi sinar harapan.
Bila ada sukacita,
Kasih, damai, dan restu,
Salib Kristus yang menambah
Sinar sukacitaku.
Suka, duka, bala, berkah,
Dikuduskan salibNya;
Rasa damai tak berubah
Dalam Kristus slamanya!
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"In the Cross of Christ I Glory"** (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai **"Salib Kristus Kubanggakan"**) adalah salah satu kidung pujian (hymn) paling mendalam yang pernah ditulis dalam sejarah kekristenan.
Kisah di balik lagu ini melibatkan dua sosok penting: sang penulis lirik, **Sir John Bowring**, dan komposer musiknya, **Ithamar Conkey**. Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Inspirasi Lirik: Sir John Bowring (1825)
Sir John Bowring adalah seorang pria yang luar biasa cerdas. Ia adalah seorang ahli bahasa, diplomat, politisi, dan pernah menjabat sebagai Gubernur Hong Kong. Namun, di balik kariernya yang gemilang, ia adalah seorang pengikut Kristus yang taat.
Ada sebuah legenda (meskipun masih diperdebatkan oleh para sejarawan) yang mengatakan bahwa lirik ini ditulis setelah Bowring melihat reruntuhan **kota kuno Galatia** di Turki. Konon, ia melihat sebuah salib besar yang terpasang di tengah reruntuhan tersebut, yang kemudian menginspirasinya untuk merenungkan bagaimana dunia bisa hancur, kekaisaran runtuh, dan waktu berlalu, namun "Salib Kristus" tetap berdiri teguh sebagai pusat iman.
Inti dari lirik ini adalah **"Paradoks Salib."** Bagi dunia, salib adalah simbol kehinaan dan kematian. Namun, bagi orang percaya, salib adalah simbol kemenangan, kasih, dan kemuliaan.
* *Liriknya merangkum ini dengan sangat indah:*
> "In the cross of Christ I glory, towering o'er the wrecks of time; all the light of sacred story gathers round its head sublime."
> (Di salib Kristus kubanggakan, menjulang di atas reruntuhan waktu; segala terang dari kisah kudus berkumpul di sekitar puncaknya yang agung.)
### 2. Komposisi Musik: Ithamar Conkey (1851)
Lirik yang ditulis Bowring pada tahun 1825 baru mendapatkan musiknya yang paling ikonik bertahun-tahun kemudian oleh **Ithamar Conkey**.
Kisah di balik musik lagu ini jauh lebih personal dan menyedihkan. Conkey adalah seorang organis di sebuah gereja di New York. Suatu hari, ia sedang berjalan-jalan di kota New York dan tiba-tiba mendengar suara lonceng gereja berdentang, menandakan adanya upacara pemakaman.
Ia kemudian masuk ke dalam gereja tersebut untuk berteduh dan mengikuti kebaktian. Saat itu, ia merasa sangat sedih dan tertekan secara emosional. Dalam kondisi hati yang berkecamuk itulah, ia membuka buku lagu dan menemukan lirik puisi milik John Bowring ini.
Sambil duduk di depan organ, ia merasa lirik tersebut sangat menyentuh jiwanya yang sedang terluka. Ia pun mulai mengimprovisasikan melodi. Melodi yang ia ciptakan kemudian diberi nama **"Rathbun"**, yang diambil dari nama seorang penyanyi wanita di paduan suara gerejanya yang sangat ia kagumi, **Bertha Rathbun**.
### 3. Makna Teologis
Lagu ini menjadi sangat berpengaruh karena pesannya yang universal:
* **Reruntuhan Waktu:** Lagu ini mengakui bahwa segala sesuatu di dunia ini (kekayaan, kekuasaan, kesuksesan) bersifat sementara dan akan menjadi "reruntuhan waktu."
* **Stabilitas dalam Perubahan:** Saat hidup penuh dengan badai, kesedihan, dan ketidakpastian (seperti yang dirasakan Conkey saat menulis melodinya), salib tetap menjadi satu-satunya jangkar yang tidak berubah.
* **Kasih yang Menggantikan Kematian:** Liriknya menekankan bahwa salib bukan sekadar kayu, melainkan tempat di mana dosa ditebus dan kasih Tuhan dipancarkan.
### Kesimpulan
Lagu "Salib Kristus Kubanggakan" adalah hasil pertemuan antara **intelektualisme John Bowring** yang melihat sejarah dari perspektif kekekalan, dan **kerentanan emosional Ithamar Conkey** yang mencari penghiburan di tengah duka.
Hingga saat ini, lagu ini tetap dinyanyikan di banyak gereja di seluruh dunia sebagai pengingat bahwa di tengah dunia yang terus berubah dan mengalami "keruntuhan," iman kepada Kristus dan karya-Nya di atas salib adalah satu-satunya hal yang memberikan kepastian dan kemuliaan sejati.
Kisah di balik lagu ini melibatkan dua sosok penting: sang penulis lirik, **Sir John Bowring**, dan komposer musiknya, **Ithamar Conkey**. Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Inspirasi Lirik: Sir John Bowring (1825)
Sir John Bowring adalah seorang pria yang luar biasa cerdas. Ia adalah seorang ahli bahasa, diplomat, politisi, dan pernah menjabat sebagai Gubernur Hong Kong. Namun, di balik kariernya yang gemilang, ia adalah seorang pengikut Kristus yang taat.
Ada sebuah legenda (meskipun masih diperdebatkan oleh para sejarawan) yang mengatakan bahwa lirik ini ditulis setelah Bowring melihat reruntuhan **kota kuno Galatia** di Turki. Konon, ia melihat sebuah salib besar yang terpasang di tengah reruntuhan tersebut, yang kemudian menginspirasinya untuk merenungkan bagaimana dunia bisa hancur, kekaisaran runtuh, dan waktu berlalu, namun "Salib Kristus" tetap berdiri teguh sebagai pusat iman.
Inti dari lirik ini adalah **"Paradoks Salib."** Bagi dunia, salib adalah simbol kehinaan dan kematian. Namun, bagi orang percaya, salib adalah simbol kemenangan, kasih, dan kemuliaan.
* *Liriknya merangkum ini dengan sangat indah:*
> "In the cross of Christ I glory, towering o'er the wrecks of time; all the light of sacred story gathers round its head sublime."
> (Di salib Kristus kubanggakan, menjulang di atas reruntuhan waktu; segala terang dari kisah kudus berkumpul di sekitar puncaknya yang agung.)
### 2. Komposisi Musik: Ithamar Conkey (1851)
Lirik yang ditulis Bowring pada tahun 1825 baru mendapatkan musiknya yang paling ikonik bertahun-tahun kemudian oleh **Ithamar Conkey**.
Kisah di balik musik lagu ini jauh lebih personal dan menyedihkan. Conkey adalah seorang organis di sebuah gereja di New York. Suatu hari, ia sedang berjalan-jalan di kota New York dan tiba-tiba mendengar suara lonceng gereja berdentang, menandakan adanya upacara pemakaman.
Ia kemudian masuk ke dalam gereja tersebut untuk berteduh dan mengikuti kebaktian. Saat itu, ia merasa sangat sedih dan tertekan secara emosional. Dalam kondisi hati yang berkecamuk itulah, ia membuka buku lagu dan menemukan lirik puisi milik John Bowring ini.
Sambil duduk di depan organ, ia merasa lirik tersebut sangat menyentuh jiwanya yang sedang terluka. Ia pun mulai mengimprovisasikan melodi. Melodi yang ia ciptakan kemudian diberi nama **"Rathbun"**, yang diambil dari nama seorang penyanyi wanita di paduan suara gerejanya yang sangat ia kagumi, **Bertha Rathbun**.
### 3. Makna Teologis
Lagu ini menjadi sangat berpengaruh karena pesannya yang universal:
* **Reruntuhan Waktu:** Lagu ini mengakui bahwa segala sesuatu di dunia ini (kekayaan, kekuasaan, kesuksesan) bersifat sementara dan akan menjadi "reruntuhan waktu."
* **Stabilitas dalam Perubahan:** Saat hidup penuh dengan badai, kesedihan, dan ketidakpastian (seperti yang dirasakan Conkey saat menulis melodinya), salib tetap menjadi satu-satunya jangkar yang tidak berubah.
* **Kasih yang Menggantikan Kematian:** Liriknya menekankan bahwa salib bukan sekadar kayu, melainkan tempat di mana dosa ditebus dan kasih Tuhan dipancarkan.
### Kesimpulan
Lagu "Salib Kristus Kubanggakan" adalah hasil pertemuan antara **intelektualisme John Bowring** yang melihat sejarah dari perspektif kekekalan, dan **kerentanan emosional Ithamar Conkey** yang mencari penghiburan di tengah duka.
Hingga saat ini, lagu ini tetap dinyanyikan di banyak gereja di seluruh dunia sebagai pengingat bahwa di tengah dunia yang terus berubah dan mengalami "keruntuhan," iman kepada Kristus dan karya-Nya di atas salib adalah satu-satunya hal yang memberikan kepastian dan kemuliaan sejati.