Informasi Lagu
155
Nomor
Do = D
Nada Dasar
Kode
NR 155
Buku
Nyanyian Rohani
Nada Dasar
Do = D
Ketukan
6/8 ketuk
Metronom
40
Jumlah Bait
3 bait
Style
FinalWaltz
Pencipta Lagu
Tradisional Inggris
Pencipta Syair
Horatius Bonar (1846)
Cross Ref.
KPJ 53, KJ 144b, KK 442, KC 232, KPKA 80
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Suara Yesus kudengar: "Hai, mari yang penat, kuangkat dari bahumu bebanmu yang berat." Tlah aku datang, yang lelah, penuh kedukaan. Dan kudapati pada-Nya tempat perhentian.
Suara Yesus kudengar: "Kemari, minumlah, telah sedia air hayat; hai, minum, hiduplah." Tlah aku datang, amat haus kuminum air kudus, dan hati serta nyawaku sembuh, segar terus.
Suara Yesus kudengar: "Ku ini Trang baka. Tengadah! Awanmu lenyap dan fajar merekah." Tlah aku pandang, Tuhanku, cahaya sinar-Mu, dan jalanku tetap terang, sampai ke ajalku.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — NR 155 1
Slide 2 — NR 155 2
Slide 3 — NR 155 3
Partitur / Not
Partitur Chord NR 155
Sejarah Lagu
Lagu **"Suara Yesus Kudengar"** (judul asli: *I Heard the Voice of Jesus Say*) adalah salah satu himne (kidung pujian) paling ikonik dalam tradisi Kristen dunia. Lagu ini tidak hanya memiliki melodi yang menenangkan, tetapi juga latar belakang yang sangat mendalam terkait kehidupan sang penulisnya, **Horatius Bonar**.

Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:

### 1. Sang Penulis: Horatius Bonar (1808–1889)
Horatius Bonar adalah seorang pendeta asal Skotlandia yang dikenal sebagai "Pangeran Penulis Lagu Rohani Skotlandia." Ia hidup di era di mana gereja sedang mengalami pergolakan teologis. Bonar adalah sosok yang sangat rendah hati, namun memiliki pemahaman teologis yang sangat kaya dan puitis.

### 2. Inspirasi di Balik Lirik
Lagu ini ditulis oleh Bonar pada tahun **1846**. Liriknya terinspirasi langsung dari **Matius 11:28**, yang berbunyi: *"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."*

Bonar ingin menciptakan sebuah karya yang menggambarkan perjalanan jiwa manusia dalam mencari kedamaian sejati. Ia membagi lagu ini menjadi tiga bait yang mencerminkan tiga tahapan pengalaman iman:

* **Bait Pertama:** Fokus pada **Undangan**. Jiwa yang letih datang kepada Yesus dan menemukan istirahat. *"Suara Yesus kudengar, 'Mari datanglah, hai yang penat dan lelah, ke dalam-Ku saja.'"*
* **Bait Kedua:** Fokus pada **Kepuasan**. Jiwa yang haus menemukan air kehidupan. *"Suara Yesus kudengar, 'Aku sumber hayat; datanglah, minumlah segera, jiwamu kan segar.'"*
* **Bait Ketiga:** Fokus pada **Terang**. Jiwa yang mencari arah menemukan Yesus sebagai terang dunia. *"Suara Yesus kudengar, 'Akulah Terangmu; pandanglah Aku, jalannya, dan hidup bagimu.'"*

### 3. Melodi yang Ikonik: *The English Traditional*
Meskipun Bonar menulis liriknya, melodi yang paling umum digunakan saat ini, yang dikenal dengan nama **"Kingsfold"**, memiliki sejarahnya sendiri.

Melodi *Kingsfold* sebenarnya adalah **lagu rakyat Inggris (Traditional English Folk Tune)** yang berjudul *"Dives and Lazarus."* Lagu rakyat ini memiliki melodi yang sangat melankolis dan indah. Ralph Vaughan Williams, seorang komposer Inggris yang terkenal, kemudian mengadaptasi melodi ini dan memasangkannya dengan lirik Horatius Bonar pada tahun 1906 untuk buku nyanyian *The English Hymnal*.

Perpaduan antara lirik Bonar yang penuh dengan pengharapan surgawi dan melodi rakyat yang membumi menciptakan efek emosional yang sangat kuat bagi para pendengarnya.

### 4. Makna Teologis yang Mendalam
Kekuatan utama lagu ini terletak pada **hubungan personal** antara individu dan Yesus. Bonar tidak menulis lagu ini sebagai khotbah yang kaku, melainkan sebagai sebuah "percakapan pribadi."

Pengulangan kalimat *"Suara Yesus kudengar"* di awal setiap bait menunjukkan bahwa iman bukanlah hasil dari pencarian intelektual yang jauh, melainkan respons terhadap panggilan lembut Tuhan yang selalu tersedia bagi siapa saja yang mau mendengarkan.

### 5. Mengapa Lagu ini Tetap Relevan?
Hingga hari ini, *I Heard the Voice of Jesus Say* tetap dinyanyikan di berbagai gereja di seluruh dunia (termasuk di Indonesia dalam buku nyanyian *Kidung Jemaat* No. 329). Lagu ini sering dinyanyikan dalam momen-momen:
* **Perjamuan Kudus:** Karena melambangkan persekutuan dengan Kristus.
* **Duka Cita:** Karena memberikan janji istirahat bagi jiwa yang berduka.
* **Pertobatan:** Karena menggambarkan undangan terbuka bagi mereka yang merasa gagal atau lelah dengan hidup.

**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah pengingat bahwa keindahan yang abadi seringkali lahir dari kombinasi antara kerendahan hati seorang penulis yang mencintai Tuhan dan warisan budaya (melodi rakyat) yang menyentuh jiwa manusia. Horatius Bonar berhasil mengubah undangan alkitabiah yang kuno menjadi sebuah lagu yang terasa segar dan relevan di setiap generasi.