Informasi Lagu
39
Nomor
Kode
NR 39
Buku
Nyanyian Rohani
Metronom
0
Cross Ref.
KC 60, KK 179 ,KJ 109 ,MK 66 ,PS 464 ,BE 56 ,KKb 132, NP 55, BN 56, KPJ 233, KPKA 216
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Hai, mari, berhimpun dan bersukaria, turut semua ke Betlehem! Marilah, pandang Tuhan bala sorga! Sembah dan puji Dia (...3x) yang Raja!
Bernyanyilah kamu, tentara malaikat, turut bernyanyi, manusia! Pujilah Tuhan, Jurslamat dunia! Sembah dan puji Dia (...3x) yang Raja!
Yang Mahamulia lahirlah di bumi sama benar dengan kita pun. Datanglah Ia mengampunkan dosa. Sembah dan puji Dia (...3x) yang Raja!
Perjanjian Allah sudah disampaikan, kasih-Nya nyata di dunia. Nyanyi bersorak dan bersukaria! Sembah dan puji Dia (...3x) yang Raja!
Slide Lirik 2 slide
Slide 1 — NR 39 1
Slide 2 — NR 39 2
Partitur / Not
Partitur Chord NR 39
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Adeste Fideles," yang lebih dikenal dalam bahasa Inggris sebagai "O Come All Ye Faithful," dan di Indonesia sebagai "Hai Mari, Berhimpun," adalah sebuah perjalanan yang menarik, penuh misteri, perdebatan, dan latar belakang sejarah yang kaya. Lagu Natal ikonik ini, yang dikreditkan kepada **John Francis Wade**, mencerminkan semangat iman, harapan, dan kadang-kadang, perlawanan politik.

Mari kita selami kisah detailnya:

---

### 1. John Francis Wade: Sosok di Balik Layar

**John Francis Wade** (c. 1711 – 1786) adalah seorang Katolik Inggris yang terpaksa melarikan diri dari tanah airnya karena penganiayaan. Pada abad ke-18, umat Katolik di Inggris menghadapi "Penal Laws" yang ketat, yang membatasi hak-hak mereka dan seringkali memaksa mereka untuk hidup dalam pengasingan atau secara rahasia. Wade menetap di **Douai, Flanders Prancis** (sekarang bagian dari Prancis), yang saat itu merupakan pusat komunitas Katolik Inggris yang diasingkan.

Di Douai, Wade dikenal sebagai seorang guru bahasa Latin, penyalin manuskrip, dan juga seorang musisi gereja. Dia adalah seorang kaligrafer yang terampil, dan sebagian besar karyanya adalah menyalin buku-buku liturgi dan himne untuk komunitas Katolik yang diasingkan. Inilah konteks penting: Wade kemungkinan besar bukan pencipta murni dalam arti modern, melainkan seorang **penyusun, pengaransemen, atau bahkan "penemu"** yang mengumpulkan melodi dan lirik yang mungkin sudah ada dalam bentuk fragmen atau tradisi lisan, lalu memberikannya bentuk yang koheren.

### 2. Latar Belakang Sejarah dan Teori "Kode Rahasia" (Jacobite)

Abad ke-18 adalah masa pergolakan politik di Inggris, terutama terkait dengan **Pemberontakan Jacobite**. Para Jacobite adalah pendukung Dinasti Stuart yang diasingkan (terutama James Francis Edward Stuart, "Old Pretender," dan putranya, Charles Edward Stuart, "Bonnie Prince Charlie"), yang mereka anggap sebagai raja Inggris yang sah, bertentangan dengan Dinasti Hanover yang berkuasa. Banyak umat Katolik di Inggris bersimpati pada perjuangan Jacobite, berharap kembalinya Stuart akan mengakhiri penganiayaan terhadap mereka.

Sebuah teori menarik (meskipun tidak terbukti secara definitif) mengemukakan bahwa "Adeste Fideles" mungkin memiliki makna **Jacobite tersembunyi**. Dalam konteks ini:

* **"Fideles" (orang-orang beriman/setia):** Mungkin merujuk pada para Jacobite yang setia pada Dinasti Stuart yang diasingkan.
* **"Bethlehem":** Dalam bahasa Ibrani berarti "rumah roti," yang bisa diartikan sebagai Inggris.
* **"Regem natum" (raja yang baru lahir):** Bukan merujuk pada Yesus secara eksklusif, tetapi juga pada "raja yang sah" yang belum kembali ke takhtanya, yaitu salah satu dari para Pretender Stuart.
* **"Venite adoremus Dominum" (Marilah kita menyembah Tuhan):** Dapat diartikan sebagai "Marilah kita datang dan menyatakan kesetiaan kita kepada raja yang sejati."

Teori ini menambahkan lapisan intrik pada lagu tersebut, menunjukkan bahwa lagu ini mungkin bukan hanya lagu rohani, tetapi juga seruan terselubung untuk dukungan politik di kalangan komunitas Katolik yang tertindas. Manuskrip Wade yang paling awal diketahui sering ditemukan di kalangan keluarga Jacobite terkemuka.

### 3. Asal Mula Lirik dan Melodi: Debat dan Konsensus

Ini adalah bagian paling misterius dan diperdebatkan dari kisah ini:

#### a. Lirik (Adeste Fideles)
Kredit untuk lirik Latin biasanya diberikan kepada Wade. Manuskrip tertua dari "Adeste Fideles" yang berisi baik lirik maupun melodi dalam bentuk yang kita kenal sekarang, berasal dari koleksi **John Francis Wade pada tahun 1751**. Namun, sangat mungkin bahwa Wade mengumpulkan dan merangkai potongan-potongan himne Latin yang sudah ada sebelumnya. Gaya liriknya sangat sesuai dengan tradisi himne Latin abad pertengahan.

#### b. Melodi
Asal-usul melodi yang megah dan ikonik ini bahkan lebih diperdebatkan:

* **John Reading (1685-1764):** Beberapa mengklaim melodi tersebut digubah oleh John Reading, seorang organis Inggris yang bekerja di Winchester Cathedral pada awal abad ke-18. Namun, klaim ini seringkali disalahpahami dengan John Reading yang berbeda (seorang komposer lain dengan nama yang sama) yang hidup pada periode yang lebih awal. Bukti kuat untuk klaim ini masih lemah.
* **Raja Yohanes IV dari Portugal (1604-1656):** Ada klaim yang menyatakan melodi ini digubah oleh Raja Yohanes IV, seorang raja yang juga seorang komposer berbakat. Namun, klaim ini umumnya dianggap tidak berdasar atau merupakan misinterpretasi.
* **Sumber Rakyat/Tradisional:** Konsensus yang paling kuat di kalangan musikolog adalah bahwa melodi tersebut kemungkinan besar adalah **adaptasi atau aransemen dari melodi rakyat yang lebih tua atau melodi yang sudah dikenal umum** pada masa Wade. Wade, sebagai penyalin dan musisi, akan terbiasa dengan melodi-melodi ini dan dengan piawai mengadaptasinya agar sesuai dengan lirik yang ia kumpulkan. Karakteristik melodi yang "abadi" ini mungkin berasal dari akar-akar yang lebih kuno.

Terlepas dari siapa pencipta murninya, **Wade-lah yang mengabadikan dan menyatukan lirik dan melodi dalam bentuk yang kita kenal sekarang**, dan manuskripnya menjadi sumber utama penyebaran lagu tersebut.

### 4. Penyebaran Awal dan Popularitas di Inggris

Awalnya, "Adeste Fideles" beredar secara manual dalam manuskrip-manuskrip Wade di antara komunitas Katolik Inggris yang diasingkan di benua Eropa. Kemudian, lagu ini dibawa kembali ke Inggris.

Popularitasnya di Inggris Raya meroket berkat seorang organis bernama **Samuel Webbe the Elder (1740-1816)**, yang mempublikasikan versi lagu ini. Namun, langkah paling penting menuju popularitas global datang dari **Frederick Oakeley (1802–1880)**.

* **Frederick Oakeley:** Seorang pendeta Anglikan yang kemudian berpindah ke Katolik, menerjemahkan "Adeste Fideles" ke dalam bahasa Inggris pada tahun **1841** dengan judul **"O Come All Ye Faithful."** Terjemahan ini sangat berhasil dan segera menjadi standar di gereja-gereja Anglikan dan Katolik di seluruh dunia berbahasa Inggris.

Terjemahan Oakeley-lah yang membuka jalan bagi "Adeste Fideles" untuk melampaui batas-batas liturgi Latin dan menjadi lagu Natal yang dikenal dan dicintai secara universal.

### 5. Warisan Global: "Hai Mari, Berhimpun" dan Lainnya

Sejak terjemahan Oakeley, "O Come All Ye Faithful" telah diterjemahkan ke dalam lusinan, bahkan ratusan bahasa di seluruh dunia. Di Indonesia, lagu ini dikenal luas sebagai **"Hai Mari, Berhimpun,"** menjadi salah satu lagu Natal yang wajib dinyanyikan di gereja-gereja dan perayaan Natal.

Lagu ini telah diaransemen oleh berbagai komposer, dinyanyikan oleh paduan suara, penyanyi solo, dan musisi dari berbagai genre, memperkuat statusnya sebagai salah satu lagu Natal paling penting dan abadi sepanjang masa.

---

### Kesimpulan

"Adeste Fideles" adalah lebih dari sekadar lagu Natal. Ini adalah sebuah mahakarya yang lahir dari latar belakang penganiayaan agama dan gejolak politik, dibentuk oleh tangan seorang penyalin yang setia, dan diangkat ke status ikonik melalui terjemahan yang tepat waktu. Misteri seputar penciptaan murninya hanya menambah daya tariknya, menjadikannya bukti abadi akan kekuatan musik untuk menyampaikan iman, harapan, dan pesan yang melampaui waktu dan budaya. Dari Douai yang terpencil hingga katedral-katedral megah dan rumah-rumah di seluruh dunia, "Hai Mari, Berhimpun" terus mengajak kita semua untuk datang dan menyembah.