NR
Hai Langit, Bumi, Nyanyilah
Informasi Lagu
42
Nomor
Kode
NR 42
Buku
Nyanyian Rohani
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 286, KK 13
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
6 bait
Hai langit, bumi, nyanyilah,
muliakan Tuhanmu,
ajaiblah hikmat firman-Nya
dan daulat-Nya teguh.
Manusia jatuh dan sesat
tetap lihatlah
kasihan Allah yang besar:
dibri-Nya Anak-Nya.
Tentulah sabda-Nya kekal
penuh anugerah;
di dalam Yesus Kristus pun
dibri-Nya diri-Nya.
Dibrikan-Nya Manusia
sempurna dan kududs
menanggung utang dan beban
dan jadi Penebus.
Di taman dan di Golgota
kasih-Nya yang menang
dan jalan susah dan salib
yaitu jalan trang.
Hai langit, bumi, nynyilah
muliakan Tuhanmu,
ajaiblah gikmat firman-Nya
dan daulat-Nya teguh.
Slide Lirik
6 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu rohani yang megah, "Praise to the Holiest in the Height" (di Indonesia dikenal sebagai "Bumi dan Langit, Pujilah" atau sering juga "Pujilah Sang Maha Kudus"). Penting untuk diklarifikasi sejak awal bahwa lagu ini **sepenuhnya adalah karya John Henry Newman**, bukan Thomas Haweis. Kemungkinan ada kebingungan karena Haweis juga seorang penulis himne, namun "Praise to the Holiest" adalah bagian integral dari salah satu mahakarya Newman.
Berikut adalah kisah lengkapnya:
---
### **Latar Belakang Penulis: John Henry Newman**
John Henry Newman (1801–1890) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah agama Inggris di abad ke-19. Awalnya seorang imam Anglikan dan pemimpin terkemuka Gerakan Oxford, sebuah gerakan yang berusaha mengembalikan tradisi Katolik ke dalam Gereja Inggris, Newman akhirnya menghadapi krisis iman yang mendalam. Setelah bertahun-tahun bergumul, ia mengambil keputusan yang menggemparkan banyak orang pada zamannya: ia beralih ke Katolik Roma pada tahun 1845.
Perpindahan ini tidak mudah dan menimbulkan kontroversi besar, namun Newman tetap teguh pada keyakinannya. Ia kemudian menjadi seorang imam Katolik, pendiri Oratorium St. Philip Neri di Inggris, dan diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Leo XIII pada tahun 1879. Newman adalah seorang teolog, filsuf, penyair, dan penulis yang brilian. Ia dikanonisasi sebagai santo oleh Gereja Katolik pada tahun 2019.
Perjalanan spiritualnya yang kompleks, pergumulan intelektualnya, dan imannya yang mendalam meresapi seluruh karyanya, termasuk puisi panjang yang menjadi asal muasal himne ini.
### **Asal Mula: Puisi "The Dream of Gerontius" (1865)**
Lagu "Praise to the Holiest in the Height" bukanlah sebuah himne yang berdiri sendiri sejak awal. Ia adalah bagian dari sebuah puisi panjang karya Newman yang berjudul **"The Dream of Gerontius"**, yang ditulis pada tahun 1865.
Newman menulis "The Dream of Gerontius" bukan sebagai himne atau oratorio, melainkan sebagai sebuah "latihan religius" (religious exercise) pribadi. Ia menulisnya dengan cepat, konon hanya dalam waktu satu bulan, tanpa niat awal untuk mempublikasikannya secara luas atau menjadikannya setting musik. Puisi ini pertama kali diterbitkan di majalah Katolik *The Month*.
**Apa itu "The Dream of Gerontius"?**
Puisi ini adalah sebuah perjalanan spiritual dan teologis yang menggambarkan pengalaman jiwa seorang pria tua bernama Gerontius (berasal dari bahasa Yunani *geron*, yang berarti "orang tua") dari saat kematiannya hingga penghakimannya di hadapan Allah. Newman mengeksplorasi tema-tema kematian, penghakiman, kasih karunia ilahi, peran malaikat pelindung, dan penyucian jiwa melalui Purgatorium.
Narasi puisi ini terbagi menjadi beberapa bagian:
1. **Kematian Gerontius:** Gerontius berbaring sekarat, ditemani oleh para imam dan pelayan. Ia merenungkan kematian dan menyerahkan jiwanya kepada Tuhan.
2. **Perjalanan Jiwa:** Jiwa Gerontius meninggalkan tubuhnya dan memulai perjalanannya menuju Allah, ditemani oleh Malaikat Pelindung (Angel of the Agony).
3. **Para Malaikat:** Jiwa Gerontius melewati paduan suara para Malaikat, yang menyanyikan puji-pujian atas kebesaran Allah dan keberanian jiwa yang baru saja meninggal.
4. **Penghakiman:** Jiwa Gerontius dibawa ke hadapan takhta Allah, mengalami pertemuan singkat dengan kemuliaan Ilahi, dan kemudian dibawa ke Purgatorium untuk pemurnian.
5. **Perpisahan:** Malaikat Pelindung mengucapkan selamat tinggal kepada jiwa Gerontius di Purgatorium, meyakinkannya tentang kebangkitan dan persatuan akhirnya dengan Allah.
### **Munculnya "Praise to the Holiest in the Height" dalam Puisi**
Lirik "Praise to the Holiest in the Height" muncul pada bagian ketiga dari puisi tersebut, yaitu ketika jiwa Gerontius dalam perjalanannya menuju penghakiman dan melewati paduan suara **Malaikat-Malaikat dari Oratorium Malaikat** (Choir of Angelicals).
Pada momen ini, paduan suara malaikat menyanyikan himne ini sebagai ekspresi penyembahan dan pujian kepada Allah. Ini adalah momen yang sangat agung dan transenden dalam puisi, di mana seluruh ciptaan, baik di surga maupun di bumi, diajak untuk memuji kebesaran dan kasih Allah.
**Lirik aslinya dalam puisi berbunyi:**
> Praise to the Holiest in the height,
> And in the depth be praise:
> In all His words most wonderful;
> Most sure in all His ways!
>
> Oh loving wisdom of our God!
> When all was sin and shame,
> A second Adam to the fight
> And to the rescue came.
>
> Oh generous love! that He who smote
> In Man for man the foe,
> The double agony in Man
> For man should undergo.
>
> And in the Garden unlawfully
> Was taken and bound with cords,
> And beaten and reviled and made
> A mockery with His words.
>
> This is the strain to which are cast
> The spirits of the just;
> The adoration of the Holiest God,
> Which fills the bounds of dust.
Ayat-ayat ini menyoroti atribut-atribut ilahi: kekudusan, kebijaksanaan, dan kasih yang tak terbatas, terutama yang ditunjukkan melalui inkarnasi dan penebusan Kristus ("A second Adam to the fight..."). Ini adalah sebuah pengakuan teologis yang mendalam tentang rencana keselamatan Allah.
### **Dari Puisi Menjadi Himne yang Terkenal: Peran Edward Elgar (1900)**
Meskipun puisi Newman telah dibaca dan dikagumi, bagian "Praise to the Holiest in the Height" tidak menjadi himne yang dikenal luas sampai awal abad ke-20. Peristiwa penting yang mengubahnya adalah ketika komposer Inggris terkemuka, **Sir Edward Elgar**, membuat oratorio berdasarkan puisi ini.
Elgar, seorang Katolik yang taat, sangat tergerak oleh "The Dream of Gerontius" karya Newman. Ia sendiri mengatakan, "Saya tidak pernah memiliki seorang teman yang lebih baik daripada Newman." Pada tahun 1900, Elgar menyelesaikan oratorio epiknya, **"The Dream of Gerontius" (Op. 38)**, yang dengan cepat diakui sebagai salah satu karya choral terbesar dalam sejarah musik Inggris.
Dalam oratorio Elgar, bagian "Praise to the Holiest in the Height" menjadi momen klimaks dan sangat kuat secara musikal. Dinyanyikan oleh paduan suara besar dengan iringan orkestra penuh, himne ini menciptakan suasana kekaguman dan kemegahan surgawi yang luar biasa. Melodi Elgar yang khidmat dan megah menjadi identik dengan lirik Newman, dan bersama-sama, mereka membentuk salah satu himne yang paling dicintai dan sering dinyanyikan dalam tradisi Anglikan maupun Katolik.
Sejak saat itu, bagian lirik "Praise to the Holiest in the Height" dari puisi Newman telah dipisahkan dari konteks oratorio untuk digunakan sebagai himne dalam ibadah. Seringkali, liriknya sedikit dipersingkat atau diadaptasi, tetapi inti dari pujian dan penyembahan tetap sama.
### **Makna dan Warisan**
"Praise to the Holiest in the Height" adalah lebih dari sekadar lagu pujian. Ia adalah sebuah pernyataan teologis yang mendalam tentang:
* **Kekudusan Allah:** Pengakuan akan keagungan dan transendensi Tuhan.
* **Kasih Allah yang Menebus:** Perayaan atas rencana penyelamatan melalui Kristus, yang digambarkan sebagai "Adam Kedua."
* **Hikmat Ilahi:** Kekaguman akan cara-cara Allah yang "paling menakjubkan" dan "paling pasti."
* **Penyembahan Universal:** Ajakan kepada seluruh ciptaan untuk bergabung dalam pujian.
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu himne paling kuat dan menginspirasi, dinyanyikan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Melalui Newman, kita mendapatkan lirik yang meresapi kedalaman iman dan teologi, dan melalui Elgar, kita mendapatkan musik yang mengangkatnya ke tingkat keagungan yang tak tertandingi, memungkinkan "Bumi dan Langit" untuk benar-benar "Pujilah" Sang Mahakudus.
Berikut adalah kisah lengkapnya:
---
### **Latar Belakang Penulis: John Henry Newman**
John Henry Newman (1801–1890) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah agama Inggris di abad ke-19. Awalnya seorang imam Anglikan dan pemimpin terkemuka Gerakan Oxford, sebuah gerakan yang berusaha mengembalikan tradisi Katolik ke dalam Gereja Inggris, Newman akhirnya menghadapi krisis iman yang mendalam. Setelah bertahun-tahun bergumul, ia mengambil keputusan yang menggemparkan banyak orang pada zamannya: ia beralih ke Katolik Roma pada tahun 1845.
Perpindahan ini tidak mudah dan menimbulkan kontroversi besar, namun Newman tetap teguh pada keyakinannya. Ia kemudian menjadi seorang imam Katolik, pendiri Oratorium St. Philip Neri di Inggris, dan diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Leo XIII pada tahun 1879. Newman adalah seorang teolog, filsuf, penyair, dan penulis yang brilian. Ia dikanonisasi sebagai santo oleh Gereja Katolik pada tahun 2019.
Perjalanan spiritualnya yang kompleks, pergumulan intelektualnya, dan imannya yang mendalam meresapi seluruh karyanya, termasuk puisi panjang yang menjadi asal muasal himne ini.
### **Asal Mula: Puisi "The Dream of Gerontius" (1865)**
Lagu "Praise to the Holiest in the Height" bukanlah sebuah himne yang berdiri sendiri sejak awal. Ia adalah bagian dari sebuah puisi panjang karya Newman yang berjudul **"The Dream of Gerontius"**, yang ditulis pada tahun 1865.
Newman menulis "The Dream of Gerontius" bukan sebagai himne atau oratorio, melainkan sebagai sebuah "latihan religius" (religious exercise) pribadi. Ia menulisnya dengan cepat, konon hanya dalam waktu satu bulan, tanpa niat awal untuk mempublikasikannya secara luas atau menjadikannya setting musik. Puisi ini pertama kali diterbitkan di majalah Katolik *The Month*.
**Apa itu "The Dream of Gerontius"?**
Puisi ini adalah sebuah perjalanan spiritual dan teologis yang menggambarkan pengalaman jiwa seorang pria tua bernama Gerontius (berasal dari bahasa Yunani *geron*, yang berarti "orang tua") dari saat kematiannya hingga penghakimannya di hadapan Allah. Newman mengeksplorasi tema-tema kematian, penghakiman, kasih karunia ilahi, peran malaikat pelindung, dan penyucian jiwa melalui Purgatorium.
Narasi puisi ini terbagi menjadi beberapa bagian:
1. **Kematian Gerontius:** Gerontius berbaring sekarat, ditemani oleh para imam dan pelayan. Ia merenungkan kematian dan menyerahkan jiwanya kepada Tuhan.
2. **Perjalanan Jiwa:** Jiwa Gerontius meninggalkan tubuhnya dan memulai perjalanannya menuju Allah, ditemani oleh Malaikat Pelindung (Angel of the Agony).
3. **Para Malaikat:** Jiwa Gerontius melewati paduan suara para Malaikat, yang menyanyikan puji-pujian atas kebesaran Allah dan keberanian jiwa yang baru saja meninggal.
4. **Penghakiman:** Jiwa Gerontius dibawa ke hadapan takhta Allah, mengalami pertemuan singkat dengan kemuliaan Ilahi, dan kemudian dibawa ke Purgatorium untuk pemurnian.
5. **Perpisahan:** Malaikat Pelindung mengucapkan selamat tinggal kepada jiwa Gerontius di Purgatorium, meyakinkannya tentang kebangkitan dan persatuan akhirnya dengan Allah.
### **Munculnya "Praise to the Holiest in the Height" dalam Puisi**
Lirik "Praise to the Holiest in the Height" muncul pada bagian ketiga dari puisi tersebut, yaitu ketika jiwa Gerontius dalam perjalanannya menuju penghakiman dan melewati paduan suara **Malaikat-Malaikat dari Oratorium Malaikat** (Choir of Angelicals).
Pada momen ini, paduan suara malaikat menyanyikan himne ini sebagai ekspresi penyembahan dan pujian kepada Allah. Ini adalah momen yang sangat agung dan transenden dalam puisi, di mana seluruh ciptaan, baik di surga maupun di bumi, diajak untuk memuji kebesaran dan kasih Allah.
**Lirik aslinya dalam puisi berbunyi:**
> Praise to the Holiest in the height,
> And in the depth be praise:
> In all His words most wonderful;
> Most sure in all His ways!
>
> Oh loving wisdom of our God!
> When all was sin and shame,
> A second Adam to the fight
> And to the rescue came.
>
> Oh generous love! that He who smote
> In Man for man the foe,
> The double agony in Man
> For man should undergo.
>
> And in the Garden unlawfully
> Was taken and bound with cords,
> And beaten and reviled and made
> A mockery with His words.
>
> This is the strain to which are cast
> The spirits of the just;
> The adoration of the Holiest God,
> Which fills the bounds of dust.
Ayat-ayat ini menyoroti atribut-atribut ilahi: kekudusan, kebijaksanaan, dan kasih yang tak terbatas, terutama yang ditunjukkan melalui inkarnasi dan penebusan Kristus ("A second Adam to the fight..."). Ini adalah sebuah pengakuan teologis yang mendalam tentang rencana keselamatan Allah.
### **Dari Puisi Menjadi Himne yang Terkenal: Peran Edward Elgar (1900)**
Meskipun puisi Newman telah dibaca dan dikagumi, bagian "Praise to the Holiest in the Height" tidak menjadi himne yang dikenal luas sampai awal abad ke-20. Peristiwa penting yang mengubahnya adalah ketika komposer Inggris terkemuka, **Sir Edward Elgar**, membuat oratorio berdasarkan puisi ini.
Elgar, seorang Katolik yang taat, sangat tergerak oleh "The Dream of Gerontius" karya Newman. Ia sendiri mengatakan, "Saya tidak pernah memiliki seorang teman yang lebih baik daripada Newman." Pada tahun 1900, Elgar menyelesaikan oratorio epiknya, **"The Dream of Gerontius" (Op. 38)**, yang dengan cepat diakui sebagai salah satu karya choral terbesar dalam sejarah musik Inggris.
Dalam oratorio Elgar, bagian "Praise to the Holiest in the Height" menjadi momen klimaks dan sangat kuat secara musikal. Dinyanyikan oleh paduan suara besar dengan iringan orkestra penuh, himne ini menciptakan suasana kekaguman dan kemegahan surgawi yang luar biasa. Melodi Elgar yang khidmat dan megah menjadi identik dengan lirik Newman, dan bersama-sama, mereka membentuk salah satu himne yang paling dicintai dan sering dinyanyikan dalam tradisi Anglikan maupun Katolik.
Sejak saat itu, bagian lirik "Praise to the Holiest in the Height" dari puisi Newman telah dipisahkan dari konteks oratorio untuk digunakan sebagai himne dalam ibadah. Seringkali, liriknya sedikit dipersingkat atau diadaptasi, tetapi inti dari pujian dan penyembahan tetap sama.
### **Makna dan Warisan**
"Praise to the Holiest in the Height" adalah lebih dari sekadar lagu pujian. Ia adalah sebuah pernyataan teologis yang mendalam tentang:
* **Kekudusan Allah:** Pengakuan akan keagungan dan transendensi Tuhan.
* **Kasih Allah yang Menebus:** Perayaan atas rencana penyelamatan melalui Kristus, yang digambarkan sebagai "Adam Kedua."
* **Hikmat Ilahi:** Kekaguman akan cara-cara Allah yang "paling menakjubkan" dan "paling pasti."
* **Penyembahan Universal:** Ajakan kepada seluruh ciptaan untuk bergabung dalam pujian.
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu himne paling kuat dan menginspirasi, dinyanyikan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Melalui Newman, kita mendapatkan lirik yang meresapi kedalaman iman dan teologi, dan melalui Elgar, kita mendapatkan musik yang mengangkatnya ke tingkat keagungan yang tak tertandingi, memungkinkan "Bumi dan Langit" untuk benar-benar "Pujilah" Sang Mahakudus.
Cross Reference
Sama Tema
Hari Raya Kejadian Tuhan
Terbitlah dari Awan-awan
NR
Muliakanlah, Muliakanlah Tuhan Allah
NR
S'lamat, S'lamat Datang, Yesus Tuhanku
NR
Malam Kudus, Sunyi Senyap
NR
Terbit Sepucuk Taruk
NR
Yang Tuhan di Sorga Menjadi Rendah
NR
Anak Maryam, Bimbinglah
NR
Ya Anak Kecil, Ya Anak Lembut
NR
Di Betlehem T'lah Jadi
NR
Adalah di Kota Daud
NR
Dari Pulau dan Benua
NR
Hai Mari, Berhimpun dan Bersukaria
NR
Hai Gembala Efrata
NR
Hai, Puji Hu, Bersukacita
NR
Mari, Puji Jurs'lamat
NR
Putri Sion, bergemar
NR
Tuhanku Yesus
NR
Tetap Kuharap denga Suka
NR
Sekarang Biarlah
NR