PKJ
Mari Semua, Kini Bernyanyilah
Nun preiset alle Gottes Barmherzigkeit
Informasi Lagu
21
Nomor
Kode
PKJ 21
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
102
Jumlah Bait
5 bait
Style
FinalWaltz
Pencipta Lagu
Mattaus Apelles von Lowenstern
Pencipta Syair
Mattaus Apelles von Lowenstern
Syair / Lirik
5 bait
Mari semua, kini bernyanyilah, pujilah Tuhan,
agungkan rahmatNya! Dengan syukur menghadap Dia,
Sumber anugerah yang setia, sumber anugerah yang setia.
Tuhanlah Raja seluruh dunia;
sujud sembahlah segala makhlukNya; dengan musik merdu ceria,
para malaikat memuji Dia, para malaikat memuji Dia.
Hai bangsa-bangsa, tinggalkan susahmu: dengar sabdaNya,
bukalah hatiMu! OlehNya jiwamu sentosa:
Ia ampuni segala dosa, Ia ampuni segala dosa.
Sandang dan pangan disediakanNya;
Dialah Bapa, kita asuanNya.
Sinar mentari, curah hujan tanda karunia rahmat Tuhan,
tanda karunia rahmat Tuhan.
Mari semua, kini bernyanyilah, Dialah Tuhan,
agungkan rahmatNya! Sampai kekal tetaplah Dia
Sumber anugerah yang setia,
Sumber anugerah yang setia.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Mari Semua, Kini Bernyanyilah"** (dalam bahasa Jerman asli berjudul ***"Nun preiset alle Gottes Barmherzigkeit"***) adalah salah satu karya himne (kidung) paling berkesan dari era Barok awal. Untuk memahami kisah di baliknya, kita harus melihat konteks kehidupan penulisnya dan latar belakang sejarah Jerman pada masa itu.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Penulis: Matthäus Apelles von Löwenstern
Lagu ini ditulis oleh **Matthäus Apelles von Löwenstern** (1594–1648). Ia adalah sosok yang sangat menarik dalam sejarah musik gerejawi Jerman karena latar belakangnya yang unik:
* **Bukan Musisi Profesional:** Löwenstern bukanlah seorang pendeta atau organis gereja, melainkan seorang **pejabat pemerintah**. Ia adalah seorang diplomat dan administrator di istana Adipati Oels (Silesia).
* **Karier yang Cemerlang:** Karena kesetiaan dan kemampuannya, ia diangkat menjadi bangsawan oleh Kaisar Ferdinand II. Nama aslinya adalah Matthäus Apelles, kemudian ia menambahkan "von Löwenstern" (dari Singa Bintang) sebagai gelar kebangsawanan.
* **Musisi Otodidak:** Meski bekerja di dunia politik, ia memiliki kecintaan yang mendalam pada musik dan puisi. Ia sering menulis lagu sebagai bentuk pengabdian pribadi dan sarana untuk menghibur masyarakat di tengah masa perang.
### 2. Konteks Sejarah: Perang Tiga Puluh Tahun
Kisah lagu ini tidak bisa dilepaskan dari **Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648)**. Ini adalah salah satu konflik paling destruktif dalam sejarah Eropa yang melibatkan perang agama, politik, kelaparan, dan wabah penyakit yang meluluhlantakkan tanah Jerman.
* **Penderitaan Rakyat:** Sebagai seseorang yang terlibat dalam pemerintahan, Löwenstern menyaksikan sendiri bagaimana perang menghancurkan kehidupan rakyat jelata. Selama dekade-dekade itu, Jerman berada dalam kondisi yang sangat suram dan penuh keputusasaan.
* **Tujuan Lagu:** Di tengah runtuhnya tatanan dunia dan kengerian perang, Löwenstern menulis lagu ini bukan untuk merayakan kemenangan militer, melainkan untuk **mengarahkan fokus umat kembali kepada karakter Allah.**
### 3. Makna Lirik: "Nun preiset alle Gottes Barmherzigkeit"
Judul asli lagu ini, *"Nun preiset alle Gottes Barmherzigkeit"*, secara harfiah berarti **"Sekarang, puji semua (akan) belas kasihan Allah."**
* **Teologi Syukur:** Liriknya berfokus pada anugerah Tuhan yang tetap teguh meskipun dunia sedang berantakan. Ia menekankan bahwa kasih setia Allah adalah satu-satunya hal yang tidak berubah ketika kerajaan-kerajaan manusia runtuh.
* **Panggilan Bersama:** Kata "Mari Semua" (Nun preiset alle) adalah seruan komunal. Löwenstern ingin menyatukan suara umat Kristen yang terpecah belah oleh perang untuk mengakui bahwa di atas segala kekacauan, Allah tetap berdaulat dan penuh belas kasihan.
### 4. Warisan Musik
Lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja Lutheran di Jerman. Beberapa poin menarik tentang pengaruh musiknya:
* **Melodi yang Kuat:** Löwenstern sendiri yang menggubah melodi lagu ini. Melodinya dikenal memiliki karakteristik yang kokoh, megah, namun tetap mudah dinyanyikan oleh jemaat (tipe himne *chorale*).
* **Digunakan oleh Tokoh Besar:** Komposer besar seperti **Johann Sebastian Bach** sangat menghargai himne-himne dari era ini. Melodi atau semangat dari lagu-lagu karya Löwenstern sering kali menjadi inspirasi bagi pengembangan musik gerejawi di masa setelahnya.
* **Pesan yang Relevan:** Lagu ini tetap dinyanyikan hingga hari ini di berbagai belahan dunia (termasuk di banyak gereja di Indonesia) karena pesannya yang universal: sebuah ajakan untuk memuji Tuhan sebagai sumber pengharapan utama, terutama di saat-saat tersulit dalam hidup.
### Kesimpulan
Kisah dibalik *"Nun preiset alle Gottes Barmherzigkeit"* adalah kisah tentang **ketabahan iman**. Matthäus Apelles von Löwenstern berhasil mengubah penderitaan akibat Perang Tiga Puluh Tahun menjadi sebuah pengakuan iman yang indah. Ia membuktikan bahwa di tengah "suara dentuman meriam" perang, suara puji-pujian kepada Allah harus tetap terdengar lebih nyaring sebagai tanda bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berkesudahan.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Penulis: Matthäus Apelles von Löwenstern
Lagu ini ditulis oleh **Matthäus Apelles von Löwenstern** (1594–1648). Ia adalah sosok yang sangat menarik dalam sejarah musik gerejawi Jerman karena latar belakangnya yang unik:
* **Bukan Musisi Profesional:** Löwenstern bukanlah seorang pendeta atau organis gereja, melainkan seorang **pejabat pemerintah**. Ia adalah seorang diplomat dan administrator di istana Adipati Oels (Silesia).
* **Karier yang Cemerlang:** Karena kesetiaan dan kemampuannya, ia diangkat menjadi bangsawan oleh Kaisar Ferdinand II. Nama aslinya adalah Matthäus Apelles, kemudian ia menambahkan "von Löwenstern" (dari Singa Bintang) sebagai gelar kebangsawanan.
* **Musisi Otodidak:** Meski bekerja di dunia politik, ia memiliki kecintaan yang mendalam pada musik dan puisi. Ia sering menulis lagu sebagai bentuk pengabdian pribadi dan sarana untuk menghibur masyarakat di tengah masa perang.
### 2. Konteks Sejarah: Perang Tiga Puluh Tahun
Kisah lagu ini tidak bisa dilepaskan dari **Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648)**. Ini adalah salah satu konflik paling destruktif dalam sejarah Eropa yang melibatkan perang agama, politik, kelaparan, dan wabah penyakit yang meluluhlantakkan tanah Jerman.
* **Penderitaan Rakyat:** Sebagai seseorang yang terlibat dalam pemerintahan, Löwenstern menyaksikan sendiri bagaimana perang menghancurkan kehidupan rakyat jelata. Selama dekade-dekade itu, Jerman berada dalam kondisi yang sangat suram dan penuh keputusasaan.
* **Tujuan Lagu:** Di tengah runtuhnya tatanan dunia dan kengerian perang, Löwenstern menulis lagu ini bukan untuk merayakan kemenangan militer, melainkan untuk **mengarahkan fokus umat kembali kepada karakter Allah.**
### 3. Makna Lirik: "Nun preiset alle Gottes Barmherzigkeit"
Judul asli lagu ini, *"Nun preiset alle Gottes Barmherzigkeit"*, secara harfiah berarti **"Sekarang, puji semua (akan) belas kasihan Allah."**
* **Teologi Syukur:** Liriknya berfokus pada anugerah Tuhan yang tetap teguh meskipun dunia sedang berantakan. Ia menekankan bahwa kasih setia Allah adalah satu-satunya hal yang tidak berubah ketika kerajaan-kerajaan manusia runtuh.
* **Panggilan Bersama:** Kata "Mari Semua" (Nun preiset alle) adalah seruan komunal. Löwenstern ingin menyatukan suara umat Kristen yang terpecah belah oleh perang untuk mengakui bahwa di atas segala kekacauan, Allah tetap berdaulat dan penuh belas kasihan.
### 4. Warisan Musik
Lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja Lutheran di Jerman. Beberapa poin menarik tentang pengaruh musiknya:
* **Melodi yang Kuat:** Löwenstern sendiri yang menggubah melodi lagu ini. Melodinya dikenal memiliki karakteristik yang kokoh, megah, namun tetap mudah dinyanyikan oleh jemaat (tipe himne *chorale*).
* **Digunakan oleh Tokoh Besar:** Komposer besar seperti **Johann Sebastian Bach** sangat menghargai himne-himne dari era ini. Melodi atau semangat dari lagu-lagu karya Löwenstern sering kali menjadi inspirasi bagi pengembangan musik gerejawi di masa setelahnya.
* **Pesan yang Relevan:** Lagu ini tetap dinyanyikan hingga hari ini di berbagai belahan dunia (termasuk di banyak gereja di Indonesia) karena pesannya yang universal: sebuah ajakan untuk memuji Tuhan sebagai sumber pengharapan utama, terutama di saat-saat tersulit dalam hidup.
### Kesimpulan
Kisah dibalik *"Nun preiset alle Gottes Barmherzigkeit"* adalah kisah tentang **ketabahan iman**. Matthäus Apelles von Löwenstern berhasil mengubah penderitaan akibat Perang Tiga Puluh Tahun menjadi sebuah pengakuan iman yang indah. Ia membuktikan bahwa di tengah "suara dentuman meriam" perang, suara puji-pujian kepada Allah harus tetap terdengar lebih nyaring sebagai tanda bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berkesudahan.
Sama Tema
Puji-pujian dan Pembukaan Ibadah
Abadi Tak Nampak
PKJ
Mulia, Mulia NamaNya
PKJ
Ajaib NamaNya
PKJ
Angkatlah Hatimu Pada Tuhan
PKJ
Bersoraklah dan Puji Tuhan
PKJ
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
PKJ
Bersyukurlah Pada Tuhan
PKJ
Bukalah Gapura Indah
PKJ
Dengan Malaikat, Angkatlah
PKJ
Dengan Semarak Majulah
PKJ
Inilah Hari Minggu
PKJ
Kami Muliakan NamaMu
PKJ
Kita Masuk RumahNya
PKJ
Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan
PKJ
Kusiapkan Hatiku, Tuhan
PKJ
Mari, Kawan-Kawan, Nyanyi Gembira
PKJ
Mari Kita Puji
PKJ
Mari Masuk ke RumahNya
PKJ
Mari Sembah
PKJ
Mari Semua, Mari Sembah Tuhan
PKJ
Marilah Kita Siapkan Hati Kita
PKJ
Marilah Memuji
PKJ
Marilah, Pujilah Allah
PKJ
Muliakan Nama Tuhan
PKJ
Nyanyikanlah Haleluya
PKJ
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
PKJ
Nyanyikan Tuhanmu Haleluya
PKJ
Patut Segenap yang Ada
PKJ
Puji Tuhan Allah
PKJ
Puji Tuhan, Pujilah NamaNya
PKJ
Puji Tuhan, Pujilah NamaNya
PKJ
Pujilah Allah, Pujilah
PKJ
Soraklah, Hai UmatNya
PKJ
Suci, Suci, Suci
PKJ
Yesus, Raja Damai
PKJ