Informasi Lagu
220
Nomor
Kode
PKJ 220
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Johann Georg Ebeling
Pencipta Syair
Paul Gerhardt
Cross Ref.
GB 248
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 7 bait
Jiwaku, mari, nyanyi! Tuhanmu pujilah, yang dalam t’rang sorgawi dipuji, disembah. Hendak di dunia ini ‘ku turut bermazmur, selagi ‘ku di sini padaNya bersyukur!
Bahagialah selalu yang beriman penuh kepada Allah Yakub, Penolong yang teguh. Tiada manusia hebat dan mulia, yang menandingi Dia; abadi kasihNya!
Dia Yang Mahakuasa, Pencipta semesta; dibuatNya angkasa dan bola dunia, seluruh isi bumi, makhluk yang terbesar, segala yang menghuni bahari yang besar.
Dia yang mahaadil, tindakanNya bersih dan Ia memberkati yang tulus pekerti. Tuhan tetap setia selama-lamanya dan korban kelaliman dibela olehNya.
Dia Yang Mahakasih, Penolong kaum lemah. Yang tak berharap lagi dibuatNya lega; yang lapar boleh makan Tuhan yang memberi; tawanan dibebaskan dari tempat ngeri.
Yang buta dicelikkan kembali matanya. Insan yang dikucilkan kembali harkatnya. Tuhan menaruh kasih kepada yang benar, tetapi orang fasik celakanya besar.
Bolehkah aku ini, manusia lemah, memuji, menghampiri yang Mahamulia? Namun selaku warga di kerajaanNya ‘ku sorak: Tuhan Raja selama-lamanya!
Slide Lirik 7 slide
Slide 1 — PKJ 220 1
Slide 2 — PKJ 220 2
Slide 3 — PKJ 220 3
Slide 4 — PKJ 220 4
Slide 5 — PKJ 220 5
Slide 6 — PKJ 220 6
Slide 7 — PKJ 220 7
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 220
Sejarah Lagu
Lagu **"Jiwaku, Mari, Nyanyi"** (judul asli Jerman: *Du meine Seele, singe*) adalah salah satu mahakarya musik gerejawi dari abad ke-17. Lagu ini merupakan hasil kolaborasi antara seorang penyair besar, **Paul Gerhardt**, dan seorang komposer, **Johann Georg Ebeling**.

Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:

### 1. Konteks Sejarah: Masa Penderitaan
Lagu ini lahir di tengah masa yang sangat kelam dalam sejarah Eropa, yaitu **Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648)**. Paul Gerhardt (1607–1676) hidup sebagai seorang pendeta dan penyair di Jerman pada masa ketika wabah penyakit, kelaparan, dan kehancuran akibat perang melanda hampir seluruh negeri.

Secara pribadi, kehidupan Gerhardt pun penuh tragedi. Ia kehilangan istri dan empat dari lima anaknya di usia dini. Namun, di tengah kepedihan yang luar biasa, iman Gerhardt justru memancar dalam bentuk puisi-puisi pujian yang sangat kuat. Ia tidak menulis tentang "melarikan diri" dari realita, melainkan tentang **kemenangan iman di atas penderitaan**.

### 2. Paul Gerhardt: Sang Penyair "Pujian di Tengah Badai"
Puisi aslinya ditulis sekitar tahun 1666. Dalam lirik bahasa Jermannya, Gerhardt mengajak jiwanya sendiri untuk tidak menyerah pada keputusasaan, melainkan untuk terus memuji Tuhan.

* **Pesan Inti:** Lagu ini adalah perintah kepada diri sendiri. Gerhardt sadar bahwa hatinya mudah menjadi tawar dan takut menghadapi dunia yang kejam. Dengan menulis *"Du meine Seele, singe"* (Jiwaku, mari bernyanyi), ia sedang melakukan "pengkhotbahan" kepada batinnya sendiri agar tetap mengingat kesetiaan Tuhan, meskipun dunia di sekelilingnya sedang runtuh.

### 3. Johann Georg Ebeling: Sang Komposer
Pada tahun 1666, Johann Georg Ebeling (1637–1676), seorang musisi berbakat yang menjadi direktur musik di Berlin, menerbitkan kumpulan lagu-lagu rohani Gerhardt. Ebeling-lah yang menciptakan melodi megah dan penuh semangat yang kita kenal hingga saat ini.

Ebeling sangat mengagumi kedalaman spiritual lirik Gerhardt. Ia menyusun melodi yang tidak cengeng, melainkan melodi yang terdengar seperti sebuah deklarasi atau pernyataan syukur yang agung. Musik ini dirancang agar jemaat yang sedang menderita bisa bangkit dan merasakan kelegaan.

### 4. Makna Teologis
Lirik lagu ini menekankan beberapa poin teologis penting yang menjadi kekuatan bagi jemaat pada masa itu:
* **Kedaulatan Tuhan:** Meskipun dunia penuh dengan ketidakpastian, Tuhan tetap bertahta.
* **Kebaikan Tuhan:** Pujian bukan sekadar kewajiban, melainkan respons atas kasih setia Tuhan yang selalu baru setiap pagi.
* **Ketabahan:** Lagu ini sering digunakan sebagai sarana untuk menguatkan mental (resiliensi). Pesannya adalah: "Bahkan jika aku harus menderita, jiwaku tetap memiliki alasan untuk bernyanyi karena Tuhanku adalah sumber pengharapanku."

### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Bertahan?
Lagu ini bertahan melintasi waktu selama lebih dari 350 tahun karena kejujurannya. Ia tidak menawarkan solusi yang dangkal atas masalah dunia, melainkan menawarkan **perspektif surgawi**.

Bagi banyak orang Kristen di seluruh dunia—termasuk di Indonesia melalui Nyanyian Kidung Baru (NKB 10)—lagu ini menjadi pengingat bahwa:
1. **Bernyanyi adalah tindakan iman:** Ketika kita sulit berdoa, bernyanyi adalah cara kita memaksakan jiwa untuk kembali fokus kepada Tuhan.
2. **Pujian melampaui situasi:** Lagu ini telah dinyanyikan dalam berbagai kondisi, mulai dari pengungsian, rumah sakit, hingga kebaktian hari Minggu yang megah, dan tetap memiliki dampak emosional yang sama.

### Ringkasan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **seorang pria yang kehilangan segalanya secara duniawi, namun menemukan harta yang tidak bisa dicuri oleh perang atau maut**. Bersama dengan musik Ebeling yang bersemangat, lagu ini menjadi "obat" bagi jiwa yang lelah, mengajak kita untuk tetap memandang pada kemuliaan Tuhan di atas segala badai hidup.