Informasi Lagu
75
Nomor
Kode
PKJ 75
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional Toraja, Marakka
Pencipta Syair
Tiku Rari
Cross Ref.
KK 204
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 2 bait
Tuhanku, biarlah kini hambaMu pergi sesuai firmanMu, dalam damai sejahtera. Kurnia s’lamatMu t’lah dilihat mataku. S’lamatMu yang Kau b’ri dihadapan dunia.
Tuhanku, s’lamatMu adalah t’rang yang kekal, dan terang itulah jadi pernyataanMu. Dan semua bangsa lain akan lihat nyatanya. TerangMu jadilah kemuliaan umatMu.
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 75
Sejarah Lagu
Lagu **"Tuhanku, Biarlah Kini Hambamu Pergi"** (yang dalam liturgi gereja dikenal sebagai *Nunc Dimittis*) memiliki sejarah yang unik dan menyentuh saat diadopsi ke dalam konteks budaya Toraja melalui aransemen **Tiku Rari**.

Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihatnya dari dua sisi: **asal-usul teologisnya** dan **konteks inkulturasi budaya Toraja** yang dilakukan oleh Tiku Rari.

---

### 1. Asal-usul Teologis: Nunc Dimittis
Secara teks, lagu ini berasal dari **Lukas 2:29-32**. Ini adalah doa syukur Simeon, seorang pria saleh di Yerusalem yang telah dijanjikan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Sang Mesias. Ketika Maria dan Yusuf membawa bayi Yesus ke Bait Allah, Simeon menyambut bayi itu, menggendong-Nya, dan mengucapkan doa ini:

> *"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu..."*

Lagu ini merupakan "nyanyian pelepasan" yang melambangkan kedamaian, penyerahan diri, dan keyakinan akan janji Tuhan.

### 2. Sosok Tiku Rari dan Konteks Toraja
**Tiku Rari** adalah tokoh musik gerejawi dan budayawan asal Toraja yang memiliki dedikasi besar dalam memasukkan elemen musik etnis ke dalam liturgi Kristen. Dalam budaya Toraja, musik bukan sekadar pengiring, tetapi media untuk mengungkapkan kedukaan yang mendalam sekaligus pengharapan akan kehidupan kekal.

Kisah di balik versi Tiku Rari bukanlah sebuah "legenda penciptaan" tunggal, melainkan sebuah **proses inkulturasi**:

* **Penerjemahan Suasana:** Tiku Rari menyadari bahwa masyarakat Toraja memiliki ritual kematian yang sangat kompleks (*Rambu Solo'*). Namun, dalam iman Kristen, kematian bukan lagi akhir yang menakutkan, melainkan sebuah "perpulangan" yang tenang. Tiku Rari berusaha membawa nuansa doa Simeon (kedamaian) ke dalam nada-nada yang akrab dengan jiwa orang Toraja.
* **Penggunaan Musik Tradisional:** Tiku Rari mengolah melodi lagu ini dengan memperhatikan tangga nada dan harmoni yang khas Toraja—seringkali menggunakan pola vokal yang mengalir (melismatis) dan tenang, menyerupai nyanyian ratapan tradisional (*Pa'marakka*) namun dengan pesan teologis yang memulihkan.
* **Tujuan Liturgis:** Lagu ini sering digunakan di Toraja pada saat ibadah pemakaman atau saat ibadah malam (sebagai doa penutup). Tiku Rari ingin agar jemaat tidak melihat kematian sebagai sesuatu yang asing, melainkan sebagai momen di mana seseorang "pergi dalam damai" (seperti Simeon), yang sangat relevan dengan pengharapan orang Toraja akan keselamatan di akhirat.

### 3. Makna Mendalam dalam Versi Tiku Rari
Apa yang membuat versi Tiku Rari begitu berkesan bagi masyarakat Toraja?

1. **Dukacita yang Berpengharapan:** Dalam budaya Toraja, kematian adalah peristiwa besar. Tiku Rari mengubah perspektif "ratapan" menjadi "pelepasan". Melalui lagu ini, keluarga yang ditinggalkan diajak untuk merelakan almarhum dengan perasaan tenang, karena mereka percaya bahwa sang almarhum telah "melihat keselamatan Tuhan".
2. **Kekuatan Lirik dan Melodi:** Tiku Rari mampu menyelaraskan keanggunan teks kuno (Simeon) dengan estetika suara masyarakat pegunungan Toraja yang jujur dan teduh. Lagu ini sering dibawakan dengan paduan suara (koor) yang harmoninya berlapis-lapis, mencerminkan kebersamaan komunitas Toraja dalam menghadapi dukacita.

### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah **pertemuan antara iman Kristen dengan kearifan lokal.** Tiku Rari tidak sekadar menerjemahkan teks Alkitab, tetapi ia "membumikan" doa Simeon agar dapat dirasakan oleh orang Toraja sebagai sebuah pelukan Tuhan di saat-saat terakhir kehidupan.

Lagu ini menjadi warisan karena berhasil mengubah rasa takut akan kematian menjadi sebuah **"kemenangan damai"**. Hingga hari ini, setiap kali lagu ini dinyanyikan dalam irama khas Tiku Rari di tanah Toraja, jemaat diajak untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan percaya bahwa kematian adalah gerbang menuju damai yang dijanjikan Tuhan.