KJ
Takkah Patut 'Ku Bernyanyi
Sollt Ich ineinem Gott nicht singen
Informasi Lagu
290
Nomor
Kode
KJ 290
Buku
Kidung Jemaat
Metronom
0
Cross Ref.
KK 430a
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
6 bait
Takkah patut ku bernyanyi syukur bagi Tuhanku,
karna rahmat tak berbanding yang melimpah selalu?
Memang sungguh dan setia, tak terhingga kasihNya
Dan kekal bimbinganNya bagi yang mengabdi Dia.
Biar dunia lenyap, kasih Allah kan tetap.
Bagai burung rajawali melindungi anaknya Tuhan pun
berkali-kali tlah menolong hambaNya. Semenjak dikandung
ibu, waktu aku dibentuk, dan sepanjang umurku ditanganNya
aku hidup. Biar dunia lenyap, kasih Allah kan tetap!
Bahkan PutraNya sendiri rela diserahkanNya; ditebusNya aku ini
oleh kuasa darahNya. Sungguh aku takkan mampu, wahai Sumber
kurnia, dengan rohku yang lemah mengerti kedalamanMu.
Biar dunia lenyap, kasih Allah kan tetap!
Dalam dunia ku dikawal oleh Roh dan FirmanNya yang menuntun
dari awal aku dalam trang baka, hingga hatiku percaya makin kuat
dan teguh, bahwa kuasa seteru, maut dan Iblis, tak berdaya.
Biar dunia lenyap, kasih Allah kan tetap!
Langit, bumi, segalanya diciptakan bagiku; kutemukan semuanya
menyenangkan hatiku. Hewan, unggas dan tumbuhan, darat, laut,
udara pun jadi rahmat bagiku yang kudapat dari Tuhan
Kar’na tak berkesudahan, Bapa, kasih sayangMu,
maka ‘ku bertadah tangan bagai anak padaMu:
b’ri hidupku diiringi oleh kuasa Roh Kudus siang-malam dan terus,
agar Dikau kukasihi sampai umurku genap dan kupuji Kau tetap!
Slide Lirik
6 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Soll ich meinem Gott nicht singen?"** (Dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Takkah Patut 'Ku Bernyanyi"* atau *"Patutkah Ku Tak Bernyanyi"*) adalah sebuah narasi tentang iman yang bertahan di tengah kehancuran perang.
Lagu ini merupakan hasil kolaborasi antara seorang komponis, **Johann Schop**, dan seorang penyair gerejawi terbesar Jerman, **Paul Gerhardt**. Berikut adalah detail kisah dan latar belakangnya:
### 1. Konteks Sejarah: Perang Tiga Puluh Tahun
Lagu ini lahir pada masa **Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648)** di Jerman. Ini adalah salah satu konflik paling destruktif dalam sejarah Eropa. Kelaparan, wabah penyakit, dan pertumpahan darah terjadi di mana-mana.
Paul Gerhardt (1607–1676) hidup melalui masa-masa kelam ini. Ia kehilangan orang tuanya saat masih muda, dan kemudian harus menyaksikan kehancuran negerinya akibat perang yang berkepanjangan. Namun, di tengah penderitaan yang luar biasa ini, Gerhardt tidak menjadi pahit. Sebaliknya, ia menghasilkan karya-karya yang penuh dengan sukacita surgawi dan rasa syukur yang mendalam.
### 2. Hubungan Johann Schop dan Paul Gerhardt
Pada tahun 1641, seorang musisi bernama **Johann Schop** (seorang pemain biola ulung di Hamburg) menciptakan melodi untuk himne ini. Schop dikenal karena gaya musiknya yang elegan dan penuh semangat. Ketika Paul Gerhardt mendengar melodi tersebut, ia tergerak untuk menuliskan lirik yang mencerminkan rasa syukur atas pemeliharaan Tuhan, terlepas dari apa pun keadaan dunia di sekitar mereka.
### 3. Makna Lirik: Sukacita di Tengah Penderitaan
Lirik aslinya dalam bahasa Jerman (*Soll ich meinem Gott nicht singen?*) adalah sebuah pertanyaan retoris yang menggugah hati. Gerhardt menulis lagu ini sebagai pengingat bagi dirinya sendiri dan jemaat bahwa alasan untuk bernyanyi bagi Tuhan tidak bergantung pada situasi eksternal, melainkan pada karakter Tuhan itu sendiri.
Beberapa poin penting dari liriknya adalah:
* **Penolakan terhadap keputusasaan:** Meskipun dunia sedang kacau (Perang Tiga Puluh Tahun), Gerhardt menegaskan bahwa "nyanyian" atau pujian tidak boleh berhenti.
* **Fokus pada Anugerah:** Lagu ini menekankan bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan, perlindungan, dan kesetiaan.
* **Perspektif Kekekalan:** Lagu ini mengajak umat untuk melihat melampaui penderitaan duniawi menuju sukacita kekal di surga.
### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Keunikan lagu ini terletak pada **kontrasnya**:
1. **Musik:** Melodi Johann Schop yang ceria dan optimis.
2. **Konteks:** Ditulis di tengah masa ketika banyak orang justru ingin "meratap".
Lagu ini menjadi semacam "jangkar" bagi orang Kristen pada masa itu. Ketika banyak orang kehilangan rumah, harta, dan keluarga, lagu ini memberikan perspektif bahwa "Tuhan adalah milikku, dan aku milik Tuhan," sebuah ikatan yang tidak bisa diputuskan oleh perang apa pun.
### 5. Warisan Lagu
Di Jerman, lagu ini tetap menjadi salah satu himne *Lukas-Passion* dan karya rohani yang paling dicintai. Dalam bahasa Indonesia, lagu ini sering ditemukan di buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini mengajarkan bahwa **pujian bukanlah hasil dari situasi yang baik, melainkan keputusan iman.** Paul Gerhardt dan Johann Schop menunjukkan bahwa bahkan di masa tergelap dalam sejarah hidup seseorang, manusia memiliki kapasitas untuk menyanyi bagi Sang Pencipta jika mereka menaruh fokus pada kasih setia Allah yang tidak pernah berubah.
Jika Anda menyanyikannya hari ini, ingatlah bahwa setiap baitnya ditulis oleh seseorang yang sedang hidup di tengah reruntuhan perang, namun memilih untuk melihat melampaui reruntuhan tersebut dan memandang kemuliaan Tuhan.
Lagu ini merupakan hasil kolaborasi antara seorang komponis, **Johann Schop**, dan seorang penyair gerejawi terbesar Jerman, **Paul Gerhardt**. Berikut adalah detail kisah dan latar belakangnya:
### 1. Konteks Sejarah: Perang Tiga Puluh Tahun
Lagu ini lahir pada masa **Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648)** di Jerman. Ini adalah salah satu konflik paling destruktif dalam sejarah Eropa. Kelaparan, wabah penyakit, dan pertumpahan darah terjadi di mana-mana.
Paul Gerhardt (1607–1676) hidup melalui masa-masa kelam ini. Ia kehilangan orang tuanya saat masih muda, dan kemudian harus menyaksikan kehancuran negerinya akibat perang yang berkepanjangan. Namun, di tengah penderitaan yang luar biasa ini, Gerhardt tidak menjadi pahit. Sebaliknya, ia menghasilkan karya-karya yang penuh dengan sukacita surgawi dan rasa syukur yang mendalam.
### 2. Hubungan Johann Schop dan Paul Gerhardt
Pada tahun 1641, seorang musisi bernama **Johann Schop** (seorang pemain biola ulung di Hamburg) menciptakan melodi untuk himne ini. Schop dikenal karena gaya musiknya yang elegan dan penuh semangat. Ketika Paul Gerhardt mendengar melodi tersebut, ia tergerak untuk menuliskan lirik yang mencerminkan rasa syukur atas pemeliharaan Tuhan, terlepas dari apa pun keadaan dunia di sekitar mereka.
### 3. Makna Lirik: Sukacita di Tengah Penderitaan
Lirik aslinya dalam bahasa Jerman (*Soll ich meinem Gott nicht singen?*) adalah sebuah pertanyaan retoris yang menggugah hati. Gerhardt menulis lagu ini sebagai pengingat bagi dirinya sendiri dan jemaat bahwa alasan untuk bernyanyi bagi Tuhan tidak bergantung pada situasi eksternal, melainkan pada karakter Tuhan itu sendiri.
Beberapa poin penting dari liriknya adalah:
* **Penolakan terhadap keputusasaan:** Meskipun dunia sedang kacau (Perang Tiga Puluh Tahun), Gerhardt menegaskan bahwa "nyanyian" atau pujian tidak boleh berhenti.
* **Fokus pada Anugerah:** Lagu ini menekankan bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan, perlindungan, dan kesetiaan.
* **Perspektif Kekekalan:** Lagu ini mengajak umat untuk melihat melampaui penderitaan duniawi menuju sukacita kekal di surga.
### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Keunikan lagu ini terletak pada **kontrasnya**:
1. **Musik:** Melodi Johann Schop yang ceria dan optimis.
2. **Konteks:** Ditulis di tengah masa ketika banyak orang justru ingin "meratap".
Lagu ini menjadi semacam "jangkar" bagi orang Kristen pada masa itu. Ketika banyak orang kehilangan rumah, harta, dan keluarga, lagu ini memberikan perspektif bahwa "Tuhan adalah milikku, dan aku milik Tuhan," sebuah ikatan yang tidak bisa diputuskan oleh perang apa pun.
### 5. Warisan Lagu
Di Jerman, lagu ini tetap menjadi salah satu himne *Lukas-Passion* dan karya rohani yang paling dicintai. Dalam bahasa Indonesia, lagu ini sering ditemukan di buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini mengajarkan bahwa **pujian bukanlah hasil dari situasi yang baik, melainkan keputusan iman.** Paul Gerhardt dan Johann Schop menunjukkan bahwa bahkan di masa tergelap dalam sejarah hidup seseorang, manusia memiliki kapasitas untuk menyanyi bagi Sang Pencipta jika mereka menaruh fokus pada kasih setia Allah yang tidak pernah berubah.
Jika Anda menyanyikannya hari ini, ingatlah bahwa setiap baitnya ditulis oleh seseorang yang sedang hidup di tengah reruntuhan perang, namun memilih untuk melihat melampaui reruntuhan tersebut dan memandang kemuliaan Tuhan.
Cross Reference
KK 430a
Takkah Patut 'Ku Bernyanyi
KK
Sama Tema
Pengucapan Syukur dan Persembahan
Bumi dan Langit, Pujilah
KJ
Sekarang B'ri Syukur
KJ
Sekarang B'ri Syukur
KJ
Mari, Puji Raja Sorga
KJ
Tuhan, Pencipta Semesta
KJ
Mari Bersyukur Semua
KJ
Tabuh Gendang!
KJ
Puji Yesus
KJ
Beribu Lidah Patutlah
KJ
Andai 'Ku Punya Banyak Lidah
KJ
Anak-anak, Puji Nama Allah
KJ
Kau, Yesus, Raja Mahakaya
KJ
Selama Bumi Didiami
KJ
Bersyukur kepada Tuhan
KJ
Andaikan, Yesus, Kau Bukan Milikku
KJ
Aku Bawa dan Berikan
KJ
Kub'ri Persembahan
KJ
Pujilah Khalik Semesta
KJ
Pujilah Khalik Semesta
KJ