NP
Hai Dengar Suara Yesus
Hark, the Voice of Jesus Calling
Informasi Lagu
289
Nomor
Kode
NP 289
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Wolfgang A. Mozart
Pencipta Syair
Daniel March
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Hai dengar suara Yesus: "Ada tugas bagimu;
Padi tlah menguning masak; Siapa mau ke ladangKu?"
PahalaNya sudah siap, Panggilan berkumandang;
Siapakah rela menjawab: "Utuslah hamba skarang?"
Jika tak dapat merantau, Dan mencari yang sesat,
Britakanlah Injil Yesus, Pada orang yang dekat.
Sokonglah sebanyak mungkin, Injil yang dikabarkan;
Apa pun yang kauberikan, Tuhan sangat berkenan.
Bila kau dipanggil Yesus, Karna banyak yang sesat,
Jangan hanya kau menjawab: "Apa harus kubuat?"
Trimalah dengan gembira, Tugas yang dibrikanNya;
Jawab tanpa bimbang ragu: "Utuslah hamba segra!"
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Hark, the Voice of Jesus Calling"** (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai **"Hai, Dengar Suara Yesus"**) adalah salah satu himne pengutusan yang paling berpengaruh dalam tradisi Kristen.
Ada beberapa poin penting untuk meluruskan sejarahnya, karena lagu ini sebenarnya merupakan perpaduan antara lirik yang ditulis oleh seorang penginjil Amerika dan melodi yang sering dikaitkan dengan komposisi musik klasik.
Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Penulis Lirik: Daniel March (1868)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Daniel March** (1816–1909), seorang pendeta Kongregasional di Amerika Serikat. Ia menulisnya pada tahun 1868.
Kisah di balik lirik ini berakar pada semangat **Misi Pekabaran Injil** yang sedang marak di Amerika pada abad ke-19. Daniel March menulis lagu ini sebagai respons terhadap perikop Alkitab dalam **Yesaya 6:8**, yang berbunyi: *"Lalu aku mendengar suara Tuhan berfirman: 'Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang akan pergi untuk Aku?' Maka sahutku: 'Ini aku, utuslah aku!'"*
March ingin menciptakan sebuah lagu yang tidak hanya berisi pujian, tetapi juga **tantangan praktis** bagi jemaat untuk terlibat langsung dalam pelayanan—baik sebagai misionaris di luar negeri, guru sekolah Minggu, maupun orang yang melayani mereka yang berkekurangan di lingkungan sekitar. Liriknya sangat spesifik: *"Kalau tak dapat kau pergi, ke seberang lautan... kau dapat berbuat sesuatu."* Ini adalah pesan inklusif yang mengatakan bahwa setiap orang punya peran dalam pelayanan.
### 2. Melodi: "Ellacombe" (Kaitan dengan Mozart?)
Di sinilah letak kebingungan yang sering terjadi. Melodi yang paling umum digunakan untuk lirik ini adalah melodi yang disebut **"Ellacombe"**.
* **Apakah ini karya Mozart?** Secara historis, lagu ini **bukan** karya orisinal Wolfgang Amadeus Mozart.
* **Asal-usul Melodi:** Melodi "Ellacombe" pertama kali muncul dalam buku nyanyian gereja Katolik Jerman berjudul *Gesangbuch der Herzogl. Hofkapelle* yang diterbitkan di **Mainz pada tahun 1784**.
* **Mengapa dikaitkan dengan Mozart?** Pada masa itu, gaya musik klasik Wina (di mana Mozart adalah tokoh utamanya) sangat mendominasi musik gerejawi di Jerman. Banyak melodi dari periode tersebut memiliki karakteristik yang mirip dengan gaya penulisan Mozart. Karena kepopuleran Mozart, banyak lagu dari era yang sama sering dikaitkan dengannya, atau "dipinjam" gaya musikalnya dalam aransemen-aransemen di kemudian hari. Namun, secara musikologis, "Ellacombe" adalah melodi rakyat Jerman (German folk melody) yang kemudian diadaptasi menjadi himne.
### 3. Pesan Utama Lagu
Kekuatan lagu ini terletak pada **nuansa panggilan (calling)**. Jika kita membedah bait-baitnya:
* **Bait 1:** Adalah ajakan bagi mereka yang memiliki panggilan besar ("ke ladang yang luas").
* **Bait 2:** Memberikan penghiburan bagi mereka yang merasa tidak mampu atau tidak punya "bakat besar." Lagu ini menegaskan bahwa Tuhan tidak mencari keahlian duniawi, melainkan ketersediaan hati.
* **Bait 3:** Mengingatkan bahwa waktu untuk bekerja bagi Tuhan sangat singkat ("Hari hampir malam").
### 4. Makna dalam Ibadah
Lagu ini menjadi lagu standar dalam ibadah-ibadah yang menekankan pelayanan (seperti ibadah perutusan atau pengutusan misionaris). Di Indonesia, lagu ini sangat populer dalam tradisi Gereja-gereja Protestan (seperti dalam buku *Kidung Jemaat* No. 424).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini bukanlah sebuah drama besar, melainkan sebuah **refleksi iman yang tenang namun mendesak**. Ia adalah hasil dari kerinduan seorang pendeta untuk mengajak jemaatnya berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi pelaku pelayanan. Meskipun melodi "Ellacombe" sering disalahpahami sebagai karya Mozart, keindahan melodi tersebut tetap abadi dan sangat cocok dengan lirik yang penuh semangat pengabdian tersebut.
Ada beberapa poin penting untuk meluruskan sejarahnya, karena lagu ini sebenarnya merupakan perpaduan antara lirik yang ditulis oleh seorang penginjil Amerika dan melodi yang sering dikaitkan dengan komposisi musik klasik.
Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Penulis Lirik: Daniel March (1868)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Daniel March** (1816–1909), seorang pendeta Kongregasional di Amerika Serikat. Ia menulisnya pada tahun 1868.
Kisah di balik lirik ini berakar pada semangat **Misi Pekabaran Injil** yang sedang marak di Amerika pada abad ke-19. Daniel March menulis lagu ini sebagai respons terhadap perikop Alkitab dalam **Yesaya 6:8**, yang berbunyi: *"Lalu aku mendengar suara Tuhan berfirman: 'Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang akan pergi untuk Aku?' Maka sahutku: 'Ini aku, utuslah aku!'"*
March ingin menciptakan sebuah lagu yang tidak hanya berisi pujian, tetapi juga **tantangan praktis** bagi jemaat untuk terlibat langsung dalam pelayanan—baik sebagai misionaris di luar negeri, guru sekolah Minggu, maupun orang yang melayani mereka yang berkekurangan di lingkungan sekitar. Liriknya sangat spesifik: *"Kalau tak dapat kau pergi, ke seberang lautan... kau dapat berbuat sesuatu."* Ini adalah pesan inklusif yang mengatakan bahwa setiap orang punya peran dalam pelayanan.
### 2. Melodi: "Ellacombe" (Kaitan dengan Mozart?)
Di sinilah letak kebingungan yang sering terjadi. Melodi yang paling umum digunakan untuk lirik ini adalah melodi yang disebut **"Ellacombe"**.
* **Apakah ini karya Mozart?** Secara historis, lagu ini **bukan** karya orisinal Wolfgang Amadeus Mozart.
* **Asal-usul Melodi:** Melodi "Ellacombe" pertama kali muncul dalam buku nyanyian gereja Katolik Jerman berjudul *Gesangbuch der Herzogl. Hofkapelle* yang diterbitkan di **Mainz pada tahun 1784**.
* **Mengapa dikaitkan dengan Mozart?** Pada masa itu, gaya musik klasik Wina (di mana Mozart adalah tokoh utamanya) sangat mendominasi musik gerejawi di Jerman. Banyak melodi dari periode tersebut memiliki karakteristik yang mirip dengan gaya penulisan Mozart. Karena kepopuleran Mozart, banyak lagu dari era yang sama sering dikaitkan dengannya, atau "dipinjam" gaya musikalnya dalam aransemen-aransemen di kemudian hari. Namun, secara musikologis, "Ellacombe" adalah melodi rakyat Jerman (German folk melody) yang kemudian diadaptasi menjadi himne.
### 3. Pesan Utama Lagu
Kekuatan lagu ini terletak pada **nuansa panggilan (calling)**. Jika kita membedah bait-baitnya:
* **Bait 1:** Adalah ajakan bagi mereka yang memiliki panggilan besar ("ke ladang yang luas").
* **Bait 2:** Memberikan penghiburan bagi mereka yang merasa tidak mampu atau tidak punya "bakat besar." Lagu ini menegaskan bahwa Tuhan tidak mencari keahlian duniawi, melainkan ketersediaan hati.
* **Bait 3:** Mengingatkan bahwa waktu untuk bekerja bagi Tuhan sangat singkat ("Hari hampir malam").
### 4. Makna dalam Ibadah
Lagu ini menjadi lagu standar dalam ibadah-ibadah yang menekankan pelayanan (seperti ibadah perutusan atau pengutusan misionaris). Di Indonesia, lagu ini sangat populer dalam tradisi Gereja-gereja Protestan (seperti dalam buku *Kidung Jemaat* No. 424).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini bukanlah sebuah drama besar, melainkan sebuah **refleksi iman yang tenang namun mendesak**. Ia adalah hasil dari kerinduan seorang pendeta untuk mengajak jemaatnya berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi pelaku pelayanan. Meskipun melodi "Ellacombe" sering disalahpahami sebagai karya Mozart, keindahan melodi tersebut tetap abadi dan sangat cocok dengan lirik yang penuh semangat pengabdian tersebut.
Sama Tema
Umat Allah, Pelayanan dan Pengabdian
Mari Bekerja S'karang
NP
Mari Kumpulkan
NP
Antarkan, Masukkan
NP
Ya, Tuhan T'lah Datang
NP
Yang Kami Baktikan
NP
Pimpinlah HambaMu
NP
Jiwa Raga Kubaktikan
NP
Jiwa Raga Kubaktikan
NP
Berita Baik
NP
B'ri yang Terbaik
NP
Kau Sanggupkah? Tanya Jesus
NP
Banyakkan Kasihku
NP
Persembahan Hati
NP
HambaMu Mohon Pimpinan
NP
Kus'rahkan HidupKu Karnamu
NP
Tuhan, BagiMu
NP
Pikul Salib
NP