Informasi Lagu
304
Nomor
Kode
NP 304
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Philip P. Bliss
Pencipta Syair
Frances Ridley Havergal
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Kusrahkan hidupKu agar kau ditebus; Tertumpah darahKu agar kau slamat trus. Kusrahkan hidupKu karnaMu: Apakah balasanmu? Kusrahkan hidupKu karnamu: Apakah balasanmu?
Kutinggalkan surga, TakhtaKu yang mulia, Untuk dunia fana, Untukmu yang hina. Semua Kutinggalkan karnamu: Apakah balasanmu? Semua Kutinggalkan karnamu: Apakah balasanmu?
Dan Aku mendrita sengsara yang dahsyat, Agar kau bebaslah dan hidupmu slamat. Semuanya Kutanggung karnamu: Apakah balasanmu? Semuanya Kutanggung karnamu: Apakah balasanmu?
Kubawa bagimu anugrah surgawi: Keslamatan penuh, Ampun serta kasih. Besar anugrahKu bagimu: Apakah balasanmu? Besar anugrahKu bagimu: Apakah balasanmu?
Partitur / Not
Partitur Chord NP 304
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"I Gave My Life for Thee"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Ku S’rahkan Hidupku Karnamu"* atau *"Telah Kub’ri Diriku"*) adalah salah satu kisah yang paling mengharukan dalam sejarah musik gerejawi. Lagu ini lahir dari perpaduan antara sebuah lukisan, momen perenungan yang mendalam, dan tangan dingin dua tokoh musik Kristen ternama: **Frances Ridley Havergal** dan **Philip P. Bliss**.

Berikut adalah detail kisahnya:

### 1. Inspirasi Awal: Sebuah Lukisan di Jerman
Pada tahun 1858, Frances Ridley Havergal, seorang penulis himne asal Inggris yang berbakat, sedang mengunjungi Dusseldorf, Jerman. Saat ia berkunjung ke sebuah galeri seni, matanya tertuju pada sebuah lukisan yang menggambarkan Tuhan Yesus yang sedang menderita di kayu salib.

Di bawah lukisan tersebut, terdapat sebuah tulisan dalam bahasa Jerman yang berbunyi: *"Ich habe das für dich getan; was hast du für mich getan?"* (Aku telah melakukan ini untukmu; apa yang telah kau lakukan untuk-Ku?).

Kalimat itu langsung menusuk hati Frances. Ia terdiam cukup lama di depan lukisan tersebut, merenungkan pengorbanan Kristus yang sangat besar bagi dirinya secara pribadi. Ia membayangkan kasih Tuhan yang begitu radikal hingga rela memberikan hidup-Nya. Saat itu juga, Frances mulai menuliskan bait demi bait lirik dalam bahasa Inggris yang terinspirasi dari pertanyaan di bawah lukisan itu.

### 2. Proses Penulisan yang "Sempurna"
Frances menulis lirik tersebut dalam satu tarikan napas (konon di atas secarik kertas). Namun, setelah selesai menulis, ia merasa bahwa hasilnya "belum cukup baik." Ia menganggap liriknya terlalu sederhana dan tidak layak untuk menyatakan kasih Tuhan yang begitu agung.

Karena merasa tidak puas, ia meremas kertas tersebut dan melemparkannya ke perapian. Namun, kertas itu tidak terbakar sepenuhnya—sebagian liriknya masih terbaca dengan jelas. Ia kemudian mengambilnya kembali, membacanya lagi, dan merasakan adanya sentuhan Tuhan di dalamnya. Ia pun menyimpannya di sakunya.

### 3. Bertemu dengan Philip P. Bliss
Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1871, Frances bertemu dengan **Philip P. Bliss**, seorang komposer dan pemimpin pujian terkenal di Amerika. Mereka bertemu di sebuah konferensi di Inggris. Saat itu, Frances memberikan beberapa tulisan puisinya kepada Bliss, termasuk naskah "I Gave My Life for Thee" yang sempat ia remas dulu.

Philip P. Bliss, yang dikenal dengan kemampuannya menciptakan melodi yang menyentuh jiwa (ia adalah penulis lagu *It Is Well With My Soul* dan *Hold the Fort*), segera terpesona oleh lirik tersebut. Ia merasa bahwa kata-kata Frances sangat kuat dan membutuhkan melodi yang khidmat namun reflektif. Bliss kemudian menggubah musik untuk lirik tersebut.

### 4. Makna di Balik Liriknya
Lirik lagu ini adalah sebuah "dialog spiritual" antara Kristus dan orang percaya:
* **Kristus bertanya:** "Aku telah memberikan hidup-Ku untukmu, darah-Ku telah tertumpah agar engkau bisa ditebus. Aku meninggalkan kemuliaan surga bagi-Mu."
* **Respon orang percaya:** "Apa yang telah aku berikan kembali kepada-Mu?"

Lagu ini bukan sekadar lagu tentang penebusan, melainkan lagu tentang **penyerahan diri**. Ini adalah tantangan bagi setiap orang Kristen untuk meninjau kembali apakah hidup mereka sudah sepadan dengan pengorbanan yang telah diberikan Yesus.

### 5. Warisan Lagu Ini
Lagu ini menjadi salah satu lagu yang paling sering dinyanyikan dalam kebaktian-kebaktian penginjilan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Kisah di balik terciptanya lagu ini sering dibagikan oleh para pengkhotbah untuk menggugah jemaat agar mau memberikan hidup mereka sepenuhnya bagi Tuhan.

Hingga hari ini, "I Gave My Life for Thee" tetap menjadi pengingat yang tajam namun penuh kasih. Bagi Frances Ridley Havergal, lagu ini adalah bukti bahwa sebuah tulisan yang hampir musnah di perapian bisa menjadi saluran berkat yang abadi bagi jutaan orang di seluruh dunia, karena kata-kata itu lahir dari perenungan yang jujur akan kasih Tuhan.

**Bait yang paling ikonik:**
*"I gave My life for thee, My precious blood I shed, That thou might'st ransomed be, And quickened from the dead. I gave, I gave My life for thee, What hast Thou given for Me?"*