KPJ
Gusti Yesus Wus Wungu
Informasi Lagu
258
Nomor
Do=C
Nada Dasar
Kode
KPJ 258
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Nada Dasar
Do=C
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
88
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
Lyra Davidica (1708)
Pencipta Syair
Charles Wesley (1739)
Cross Ref.
KJ 188, KK 254, NR 62, KC 107, KPKA 273
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Gusti Yesus wus wungu! Haleluya!
Bumi swarga agirang! Haleluya!
Samnya memuji sokur! Haleluya!
Mring Gusti kang wus mimpang! Haleluya!
Katresnane sampurna! Haleluya!
Kamenangane nyata! Haleluya!
Sunaring surya padhang! Haleluya!
Tinampi kanthi girang! Haleluya!
Gesang malih Sang Raja! Haleluya!
Kita tentrem - raharja! Haleluya!
Pati, endi antupmu? Haleluya!
Kubur, endi kwasamu? Haleluya!
Kubur kwasane sirna! Haleluya!
Naraka tanpa daya! Haleluya!
Teluk dening Sang Kristus! Haleluya!
Binuka taman Pirdus! Haleluya!
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Kristus Bangkit! Soraklah" (Christ the Lord Is Risen Today!) adalah salah satu himne Paskah yang paling dicintai dan sering dinyanyikan di seluruh dunia. Kisah di balik lagu ini adalah jembatan antara tradisi kuno dan kejeniusan puitis seorang reformator. Untuk memahaminya, kita perlu melihat dua aspek utama: tradisi himne Paskah kuno yang diwakili oleh "Lyra Davidica" dan kontribusi tak ternilai dari Charles Wesley.
---
### Bagian 1: Akar Kuno dan Tradisi "Lyra Davidica"
Ketika kita menyebut "Lyra Davidica," penting untuk memahami bahwa ini bukanlah nama seorang penulis tunggal, melainkan judul dari sebuah koleksi atau publikasi himne. Lebih spesifik lagi, "Lyra Davidica" adalah judul sebuah buku himne berbahasa Latin dan Inggris yang diterbitkan pada tahun 1708 di London. Koleksi ini terkenal karena memuat salah satu melodi himne Paskah yang paling ikonik, yang kemudian dikenal sebagai *tune* "Easter Hymn" atau terkadang disebut "Worgan."
Tradisi himne Paskah yang menggemakan seruan "Alleluia!" sudah sangat kuno, jauh sebelum "Lyra Davidica" dicetak. Sejak abad-abad awal Kekristenan, umat Kristen telah merayakan Kebangkitan Kristus dengan sukacita yang meluap-luap, dan "Alleluia" (kata Ibrani yang berarti "Pujilah Tuhan") adalah ekspresi sentral dari sukacita itu.
Ada himne Latin yang sangat tua, seperti "Surrexit Christus hodie" (Christ is Risen Today), yang sudah menggunakan struktur dan seruan Alleluia berulang ini. "Lyra Davidica" (1708) mencetak versi bahasa Inggris dari himne Latin kuno ini, dengan baris-baris seperti:
> "Jesus Christ is Risen today,
> Our triumphant holy Day,
> Who did once upon the Cross,
> Suffer to redeem our Loss.
> Alleluia! Alleluia! Alleluia! Alleluia!"
Jadi, "Lyra Davidica" adalah titik referensi penting yang mengikat himne modern kita ke dalam warisan kaya tradisi himne Paskah yang sudah ada selama berabad-abad, terutama dalam hal melodi dan struktur "Alleluia" yang berulang. Ini memberikan fondasi musikal dan teologis yang kuat.
---
### Bagian 2: Jenius Puitis Charles Wesley (1707-1788)
Charles Wesley adalah salah satu penulis himne paling produktif dan berpengaruh dalam sejarah Kekristenan. Bersama kakaknya, John Wesley, ia adalah salah satu pendiri Gerakan Methodis di Inggris pada abad ke-18. Gerakan ini muncul di tengah kondisi spiritual yang lesu di Inggris, membawa semangat kebangkitan rohani, penekanan pada pengalaman pribadi dengan Tuhan, dan pentingnya penginjilan.
**Latar Belakang Charles Wesley:**
Charles Wesley lahir di Epworth, Lincolnshire, Inggris, anak ke-18 dari Samuel dan Susanna Wesley. Setelah pendidikan di Westminster School dan Christ Church, Oxford, ia menjadi seorang rohaniwan Anglikan. Pengalamannya yang mengubah hidup, yang ia sebut sebagai "konversi" atau "pertobatan" pada Mei 1738 (tak lama sebelum John Wesley mengalami hal serupa), memberinya dorongan besar untuk menulis himne. Ia merasa dipanggil untuk mengekspresikan imannya yang baru ditemukan dan ajaran Methodis melalui nyanyian yang dapat diakses oleh semua orang.
**Kebutuhan akan Himne Baru:**
Pada masa itu, himne yang dinyanyikan di gereja-gereja Anglikan seringkali formal, kaku, dan kurang mengekspresikan pengalaman iman pribadi. Charles Wesley melihat kebutuhan akan lagu-lagu yang dapat membangkitkan emosi, mengajarkan doktrin Alkitab, dan mendorong partisipasi jemaat. Ia percaya bahwa nyanyian adalah alat yang ampuh untuk evangelisasi dan pengajaran.
**Penciptaan "Hymn for Easter-Day":**
Pada tahun 1739, setahun setelah pengalaman pertobatannya, Charles Wesley menerbitkan koleksi himne berjudul "Hymns and Sacred Poems." Di dalamnya, terdapat sebuah himne yang awalnya berjudul **"Hymn for Easter-Day."** Himne inilah yang kemudian kita kenal sebagai "Christ the Lord Is Risen Today!"
Wesley menulis lirik-lirik ini dengan kemungkinan besar sudah akrab dengan melodi "Easter Hymn" dari "Lyra Davidica" atau melodi serupa yang populer pada zamannya. Dia mengambil kerangka dasar dari tradisi himne Paskah (yaitu, penggunaan "Alleluia" yang berulang) dan mengisinya dengan lirik-liriknya sendiri yang kaya secara teologis dan penuh semangat.
**Analisis Lirik Wesley:**
Lirik-lirik Charles Wesley sangat kuat karena:
1. **Deklarasi yang Tegas:** Dimulai dengan seruan yang langsung dan berani: "Christ the Lord is risen today!" Tidak ada keraguan, hanya pernyataan fakta iman yang paling mendasar.
2. **Partisipasi Universal:** "Sons of men and angels say!" (Putra-putra manusia dan malaikat berseru!). Ini menyatukan seluruh ciptaan, baik di bumi maupun di surga, dalam pujian kebangkitan.
3. **Pengulangan "Alleluia!":** Penambahan empat "Alleluia" setelah setiap baris adalah sentuhan brilian. Ini bukan hanya seruan pujian, tetapi juga berfungsi sebagai respons jemaat, menciptakan dinamika *call-and-response* yang meriah dan mudah diikuti. Ini adalah salah satu ciri khas yang membuat himne ini begitu hidup dan mudah diingat.
4. **Kedalaman Teologis:** Setiap bait tidak hanya menyatakan kebangkitan, tetapi juga menguraikan maknanya:
* Bait 2: "Vain the stone, the watch, the seal..." (Sia-sia batu, penjaga, meterai...) menekankan ketidakberdayaan kuasa duniawi di hadapan kebangkitan ilahi.
* Bait 3: "Lives again our glorious King..." (Hidup kembali Raja kita yang mulia...) menyatakan kemenangan Kristus atas dosa dan kematian.
* Bait 4: "Hail the Lord of earth and heaven!" (Salam Raja langit dan bumi!) mengakhiri dengan pujian kepada Kristus sebagai Penguasa yang abadi.
Wesley berhasil menangkap inti sukacita dan kemenangan Paskah dalam kata-kata yang sederhana namun mendalam, mudah diingat, dan sangat menyentuh hati.
---
### Bagian 3: Dampak dan Warisan
Segera setelah penerbitannya, "Hymn for Easter-Day" karya Charles Wesley menyebar dengan cepat dalam gerakan Methodis dan kemudian ke seluruh denominasi Protestan. Lagu ini menjadi simbol perayaan Paskah yang tak terpisahkan.
**Mengapa Lagu Ini Bertahan:**
* **Melodi yang Berkesan:** Melodi "Easter Hymn" yang ceria dan mudah dinyanyikan, dikombinasikan dengan lirik Wesley, menciptakan kombinasi yang tak tertandingi.
* **Pesan yang Jelas:** Pesan kebangkitan adalah inti dari iman Kristen, dan himne ini menyatakannya dengan kejelasan dan sukacita yang tak tertandingi.
* **Partisipasi Jemaat:** Struktur "Alleluia" yang berulang mendorong seluruh jemaat untuk bersorak bersama, menciptakan pengalaman ibadah yang energik dan penuh semangat.
* **Waktu yang Tepat:** Himne ini muncul di saat orang-orang mencari ekspresi iman yang lebih pribadi dan hidup, dan itu sangat sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hingga hari ini, "Kristus Bangkit! Soraklah" tetap menjadi salah satu lagu Paskah yang paling populer. Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dan dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia setiap tahun. Lagu ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah karya puitis yang diilhami dapat menjembatani generasi, melintasi budaya, dan terus-menerus menyatakan kebenaran abadi tentang kebangkitan Kristus dengan sukacita yang tak lekang oleh waktu.
Jadi, ketika Anda menyanyikan "Kristus Bangkit! Soraklah!" Anda tidak hanya menyanyikan sebuah himne, tetapi Anda juga berpartisipasi dalam tradisi pujian kuno, menghormati warisan spiritual Charles Wesley, dan bergabung dengan paduan suara universal yang merayakan kemenangan Sang Kristus atas maut.
---
### Bagian 1: Akar Kuno dan Tradisi "Lyra Davidica"
Ketika kita menyebut "Lyra Davidica," penting untuk memahami bahwa ini bukanlah nama seorang penulis tunggal, melainkan judul dari sebuah koleksi atau publikasi himne. Lebih spesifik lagi, "Lyra Davidica" adalah judul sebuah buku himne berbahasa Latin dan Inggris yang diterbitkan pada tahun 1708 di London. Koleksi ini terkenal karena memuat salah satu melodi himne Paskah yang paling ikonik, yang kemudian dikenal sebagai *tune* "Easter Hymn" atau terkadang disebut "Worgan."
Tradisi himne Paskah yang menggemakan seruan "Alleluia!" sudah sangat kuno, jauh sebelum "Lyra Davidica" dicetak. Sejak abad-abad awal Kekristenan, umat Kristen telah merayakan Kebangkitan Kristus dengan sukacita yang meluap-luap, dan "Alleluia" (kata Ibrani yang berarti "Pujilah Tuhan") adalah ekspresi sentral dari sukacita itu.
Ada himne Latin yang sangat tua, seperti "Surrexit Christus hodie" (Christ is Risen Today), yang sudah menggunakan struktur dan seruan Alleluia berulang ini. "Lyra Davidica" (1708) mencetak versi bahasa Inggris dari himne Latin kuno ini, dengan baris-baris seperti:
> "Jesus Christ is Risen today,
> Our triumphant holy Day,
> Who did once upon the Cross,
> Suffer to redeem our Loss.
> Alleluia! Alleluia! Alleluia! Alleluia!"
Jadi, "Lyra Davidica" adalah titik referensi penting yang mengikat himne modern kita ke dalam warisan kaya tradisi himne Paskah yang sudah ada selama berabad-abad, terutama dalam hal melodi dan struktur "Alleluia" yang berulang. Ini memberikan fondasi musikal dan teologis yang kuat.
---
### Bagian 2: Jenius Puitis Charles Wesley (1707-1788)
Charles Wesley adalah salah satu penulis himne paling produktif dan berpengaruh dalam sejarah Kekristenan. Bersama kakaknya, John Wesley, ia adalah salah satu pendiri Gerakan Methodis di Inggris pada abad ke-18. Gerakan ini muncul di tengah kondisi spiritual yang lesu di Inggris, membawa semangat kebangkitan rohani, penekanan pada pengalaman pribadi dengan Tuhan, dan pentingnya penginjilan.
**Latar Belakang Charles Wesley:**
Charles Wesley lahir di Epworth, Lincolnshire, Inggris, anak ke-18 dari Samuel dan Susanna Wesley. Setelah pendidikan di Westminster School dan Christ Church, Oxford, ia menjadi seorang rohaniwan Anglikan. Pengalamannya yang mengubah hidup, yang ia sebut sebagai "konversi" atau "pertobatan" pada Mei 1738 (tak lama sebelum John Wesley mengalami hal serupa), memberinya dorongan besar untuk menulis himne. Ia merasa dipanggil untuk mengekspresikan imannya yang baru ditemukan dan ajaran Methodis melalui nyanyian yang dapat diakses oleh semua orang.
**Kebutuhan akan Himne Baru:**
Pada masa itu, himne yang dinyanyikan di gereja-gereja Anglikan seringkali formal, kaku, dan kurang mengekspresikan pengalaman iman pribadi. Charles Wesley melihat kebutuhan akan lagu-lagu yang dapat membangkitkan emosi, mengajarkan doktrin Alkitab, dan mendorong partisipasi jemaat. Ia percaya bahwa nyanyian adalah alat yang ampuh untuk evangelisasi dan pengajaran.
**Penciptaan "Hymn for Easter-Day":**
Pada tahun 1739, setahun setelah pengalaman pertobatannya, Charles Wesley menerbitkan koleksi himne berjudul "Hymns and Sacred Poems." Di dalamnya, terdapat sebuah himne yang awalnya berjudul **"Hymn for Easter-Day."** Himne inilah yang kemudian kita kenal sebagai "Christ the Lord Is Risen Today!"
Wesley menulis lirik-lirik ini dengan kemungkinan besar sudah akrab dengan melodi "Easter Hymn" dari "Lyra Davidica" atau melodi serupa yang populer pada zamannya. Dia mengambil kerangka dasar dari tradisi himne Paskah (yaitu, penggunaan "Alleluia" yang berulang) dan mengisinya dengan lirik-liriknya sendiri yang kaya secara teologis dan penuh semangat.
**Analisis Lirik Wesley:**
Lirik-lirik Charles Wesley sangat kuat karena:
1. **Deklarasi yang Tegas:** Dimulai dengan seruan yang langsung dan berani: "Christ the Lord is risen today!" Tidak ada keraguan, hanya pernyataan fakta iman yang paling mendasar.
2. **Partisipasi Universal:** "Sons of men and angels say!" (Putra-putra manusia dan malaikat berseru!). Ini menyatukan seluruh ciptaan, baik di bumi maupun di surga, dalam pujian kebangkitan.
3. **Pengulangan "Alleluia!":** Penambahan empat "Alleluia" setelah setiap baris adalah sentuhan brilian. Ini bukan hanya seruan pujian, tetapi juga berfungsi sebagai respons jemaat, menciptakan dinamika *call-and-response* yang meriah dan mudah diikuti. Ini adalah salah satu ciri khas yang membuat himne ini begitu hidup dan mudah diingat.
4. **Kedalaman Teologis:** Setiap bait tidak hanya menyatakan kebangkitan, tetapi juga menguraikan maknanya:
* Bait 2: "Vain the stone, the watch, the seal..." (Sia-sia batu, penjaga, meterai...) menekankan ketidakberdayaan kuasa duniawi di hadapan kebangkitan ilahi.
* Bait 3: "Lives again our glorious King..." (Hidup kembali Raja kita yang mulia...) menyatakan kemenangan Kristus atas dosa dan kematian.
* Bait 4: "Hail the Lord of earth and heaven!" (Salam Raja langit dan bumi!) mengakhiri dengan pujian kepada Kristus sebagai Penguasa yang abadi.
Wesley berhasil menangkap inti sukacita dan kemenangan Paskah dalam kata-kata yang sederhana namun mendalam, mudah diingat, dan sangat menyentuh hati.
---
### Bagian 3: Dampak dan Warisan
Segera setelah penerbitannya, "Hymn for Easter-Day" karya Charles Wesley menyebar dengan cepat dalam gerakan Methodis dan kemudian ke seluruh denominasi Protestan. Lagu ini menjadi simbol perayaan Paskah yang tak terpisahkan.
**Mengapa Lagu Ini Bertahan:**
* **Melodi yang Berkesan:** Melodi "Easter Hymn" yang ceria dan mudah dinyanyikan, dikombinasikan dengan lirik Wesley, menciptakan kombinasi yang tak tertandingi.
* **Pesan yang Jelas:** Pesan kebangkitan adalah inti dari iman Kristen, dan himne ini menyatakannya dengan kejelasan dan sukacita yang tak tertandingi.
* **Partisipasi Jemaat:** Struktur "Alleluia" yang berulang mendorong seluruh jemaat untuk bersorak bersama, menciptakan pengalaman ibadah yang energik dan penuh semangat.
* **Waktu yang Tepat:** Himne ini muncul di saat orang-orang mencari ekspresi iman yang lebih pribadi dan hidup, dan itu sangat sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hingga hari ini, "Kristus Bangkit! Soraklah" tetap menjadi salah satu lagu Paskah yang paling populer. Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dan dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia setiap tahun. Lagu ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah karya puitis yang diilhami dapat menjembatani generasi, melintasi budaya, dan terus-menerus menyatakan kebenaran abadi tentang kebangkitan Kristus dengan sukacita yang tak lekang oleh waktu.
Jadi, ketika Anda menyanyikan "Kristus Bangkit! Soraklah!" Anda tidak hanya menyanyikan sebuah himne, tetapi Anda juga berpartisipasi dalam tradisi pujian kuno, menghormati warisan spiritual Charles Wesley, dan bergabung dengan paduan suara universal yang merayakan kemenangan Sang Kristus atas maut.
Cross Reference
KJ 188, KK 254, NR 62, KC 107, KPKA 273
Kristus Bangkit! Soraklah
KC
Kristus Bangkit! Soraklah
KJ
Kristus Bangkit! Soraklah
KK
Gusti Wus Wungu
KPKA
Hari Ini yang Kudus, Haleluya
NR
Sama Tema
Kidung Paskah
Abdining Sang Yehuwah
KPJ
Aneng Salib Paduka
KPJ
Dosa Punapa
KPJ
Gusti Gesang Malih
KPJ
Gusti Kang Sumare
KPJ
Gusti Neng Taman Getsemane
KPJ
Gusti Sampun Wungu
KPJ
Gusti Sinalib Ing Golgota
KPJ
Gusti Yesus Sinalib
KPJ
Ing Ardi Golgota
KPJ
Ing Dinten Adi Puniki
KPJ
Ing Golgota
KPJ
Kwaosing Asma Paduka
KPJ
Lah Wonten Swara Gumiyak
KPJ
Luwar
KPJ
Neng Pucak Ardi
KPJ
Nulada Mring Sang Pamarta
KPJ
Pamarta Kula Agesang
KPJ
Panglipuring Tyang Prihatos
KPJ
Saiba Sangsarane Gusti
KPJ
Sang Kristus Sinangsara
KPJ
Sang Pamarta Seda Paduka
KPJ
Sihe Allah Maring Jagad
KPJ
Sinten Ingkang Tan Anglentrih
KPJ
Sinten Kang Sumarah
KPJ
Srana Mandeng Ing Salib
KPJ
Swawi Pra Kanca
KPJ
Taman Getsemane Kang Sepi
KPJ
Wonten Darah Suci Mancur
KPJ
Yen Mandeng Salibing Gusti
KPJ