KPJ
Panglipuring Tyang Prihatos
Glorious Things of Thee Are Spoken
Informasi Lagu
268
Nomor
Do=D
Nada Dasar
Kode
KPJ 268
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Nada Dasar
Do=D
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Franz Joseph Haydn (1797)
Pencipta Syair
Franz Joseph Haydn (1797)
Cross Ref.
KJ 262, BLP 163, KPK 69, KPKA 262
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Panglipuring tyang prihatos, klangenan ing tyas kula.
Sakathah sumlanging batos, kasirnakken sadaya.
Sing swarga Gusti kang mulya, karsa tumedhak mriki,
nyaur pundhat utang kula, Gusti gung kula puji.
Iba-iba Gusti mlasi bangsa apes lan nistha.
Sing laknat Gusti ngluwari, margi sangsara seda.
Riwe, rah, waspa Paduka neng Getsemane mili.
Ngluwar kula sing ukuman, mbikak margining swargi.
Gusti tinuwek ing galih dening poyok kang sengak.
Bendune Allah kang adil sinanggi Gusti pyambak.
Nggirisi Gusti siniya wonten ardi Golgota,
pasrah sinalib sarira, krana jagad duraka.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Glorious Things of Thee Are Spoken," yang dikenal di Indonesia dengan judul "Kota Sion, Kota Allah" atau "Betapa Indahnya," adalah salah satu himne Kristen paling dicintai dan abadi. Kisah di baliknya adalah perpaduan menakjubkan antara dua mahakarya yang lahir terpisah di dua negara berbeda, diciptakan oleh dua tokoh besar dengan latar belakang yang sangat berbeda, namun akhirnya bersatu untuk menyampaikan pesan iman yang mendalam.
Mari kita selami kisahnya dengan detail:
---
### **Bagian 1: Kelahiran Melodi yang Megah – Karya Franz Joseph Haydn (1797)**
Melodi agung yang kita kenal hari ini lahir bukan sebagai lagu rohani, melainkan sebagai lagu kebangsaan.
1. **Konteks Eropa yang Bergelora:**
Akhir abad ke-18 adalah masa yang penuh gejolak di Eropa. Revolusi Prancis telah mengubah lanskap politik, dan perang-perang Napoleon sedang berkobar, mengancam monarki-monarki lama. Austria, sebagai salah satu kekuatan besar Eropa, merasakan tekanan yang luar biasa.
2. **Inspirasi Patriotik Haydn:**
Franz Joseph Haydn (1732-1809), komponis klasik terkemuka dari Austria, adalah seorang patriot sejati. Ia mengagumi lagu kebangsaan Inggris, "God Save the King," dan merasa bahwa Austria juga membutuhkan sebuah lagu yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme dan loyalitas rakyatnya kepada Kaisar. Ia terinspirasi untuk menciptakan sebuah melodi yang sama megahnya, yang bisa dinyanyikan oleh seluruh rakyat Austria sebagai bentuk dukungan kepada Kaisar Francis II (Franz II).
3. **"Gott erhalte Franz den Kaiser":**
Pada tahun 1797, Haydn menyelesaikan karyanya yang fenomenal: sebuah melodi untuk lagu "Gott erhalte Franz den Kaiser" (Tuhan Selamatkan Kaisar Franz). Melodi ini segera diadopsi sebagai lagu kebangsaan Kekaisaran Austria.
* **Karakteristik Melodi:** Melodi ini sederhana namun sangat kuat, mudah diingat, dan memiliki kesan kemuliaan serta stabilitas. Struktur kuplet-nya (AABA) sangat cocok untuk lagu pujian atau kebangsaan.
* **Penerimaan:** Lagu ini sangat populer dan menjadi simbol identitas Austria selama bertahun-tahun. Haydn sendiri sangat menyukai melodi ini; ia sering memainkannya di piano sebagai hiburan pribadi, terutama di masa tuanya yang sakit-sakitan. Konon, beberapa hari sebelum meninggal, ia memainkannya tiga kali di pianonya.
4. **Perjalanan Melodi Selanjutnya:**
Melodi Haydn ini memiliki sejarah yang panjang dan bervariasi:
* Selama Kekaisaran Austria dan kemudian Austria-Hongaria, melodi ini tetap menjadi lagu kebangsaan dengan lirik yang diadaptasi sesuai pergantian kaisar.
* Pada awal abad ke-20, melodi ini juga diadopsi oleh Jerman untuk lagu kebangsaan mereka, "Deutschlandlied," meskipun dengan lirik yang berbeda, "Deutschland, Deutschland über alles." Bagian ketiga dari "Deutschlandlied" inilah yang saat ini menjadi lagu kebangsaan Republik Federal Jerman.
Jadi, melodi yang kita dengar dalam "Kota Sion, Kota Allah" adalah melodi yang sama yang digunakan untuk lagu kebangsaan Austria selama lebih dari satu abad, dan masih menjadi bagian dari lagu kebangsaan Jerman hingga hari ini. Dalam buku himne, melodi ini sering disebut sebagai "AUSTRIA" atau "VIENNA."
---
### **Bagian 2: Kelahiran Lirik yang Penuh Harapan – Karya John Newton (1779)**
Sementara melodi Haydn masih belum tercipta, di sebuah paroki kecil di Olney, Inggris, seorang pendeta telah menulis lirik yang suatu hari nanti akan berpadu sempurna dengan melodi tersebut.
1. **Latar Belakang John Newton:**
John Newton (1725-1807) adalah sosok yang luar biasa. Ia dikenal sebagai mantan kapten kapal budak yang bertobat secara radikal dan menjadi seorang pendeta Anglikan yang saleh. Kisah pertobatannya yang dramatis dari kehidupan yang penuh dosa ke dalam iman Kristen adalah inspirasi di balik himne legendarisnya yang lain, "Amazing Grace."
2. **Olney Hymns:**
Pada tahun 1779, Newton bersama dengan sahabatnya, penyair William Cowper, menerbitkan sebuah koleksi lagu rohani yang dikenal sebagai "Olney Hymns." Tujuan mereka adalah untuk menyediakan lagu-lagu yang bisa dinyanyikan dalam ibadah-ibadah mingguan, yang cocok untuk orang-orang biasa dan mengungkapkan kebenaran-kebenaran Alkitab secara sederhana namun mendalam.
3. **Inspirasi untuk Lirik "Glorious Things of Thee Are Spoken":**
Lirik untuk "Glorious Things of Thee Are Spoken" (di beberapa versi diberi judul "Zion, or the City of God") didasarkan pada **Mazmur 87**, terutama ayat 3: "Hal-hal yang mulia disebutkan tentang engkau, ya kota Allah." Mazmur ini menggambarkan Zion sebagai kota kudus Allah, tempat kelahiran orang-orang yang diberkati, dan sumber sukacita bagi seluruh bumi.
4. **Tema Lirik:**
Newton menulis lirik ini untuk menggambarkan gereja sebagai "Kota Allah" yang kekal dan aman. Lirik ini berbicara tentang:
* **Keamanan dan Perlindungan Allah:** Gereja (Zion) dilindungi oleh Tuhan sendiri, seperti "sungai yang mengalir lembut" dan "dinding-dinding keselamatan."
* **Sumber Berkat dan Kehidupan:** Dari gereja mengalir berkat rohani, "air kehidupan" yang menyegarkan jiwa.
* **Identitas dan Warisan Orang Percaya:** Setiap orang percaya adalah "warga negara" dari kota surgawi ini, dengan janji-janji ilahi sebagai bagian dari warisan mereka.
* **Pengharapan Kekal:** Ini adalah kota yang dibangun oleh Tuhan sendiri, sebuah tempat yang tak akan pernah terguncang atau hancur, memberikan pengharapan kekal di tengah ketidakpastian dunia.
Karya Newton ini, yang penuh dengan kedalaman teologis dan kehangatan rohani, adalah ekspresi imannya yang mendalam terhadap janji-janji Allah dan sifat kekal gereja-Nya.
---
### **Bagian 3: Pertemuan yang Ajaib – Melodi dan Lirik Bersatu (Abad ke-19)**
Awalnya, kedua karya agung ini lahir terpisah. Lirik Newton diciptakan pada tahun 1779, sementara melodi Haydn pada tahun 1797. Keduanya tidak ditujukan untuk satu sama lain. Pertemuan mereka terjadi di berbagai himne dan buku lagu rohani pada abad ke-19.
1. **Peran Editor Himne:**
Para editor himne pada abad ke-19, yang mencari melodi yang cocok untuk lirik-lirik rohani yang ada, menemukan bahwa melodi "Gott erhalte Franz den Kaiser" memiliki kualitas yang sangat cocok untuk himne. Kestabilan, kemegahan, dan kesederhanaannya membuatnya sangat mudah diadaptasi.
2. **Kesesuaian yang Sempurna:**
Ketika melodi Haydn dipadukan dengan lirik Newton, hasilnya sungguh ajaib.
* Melodi yang **megah dan stabil** dari Haydn dengan sempurna menggemakan tema lirik Newton tentang **keamanan dan kekekalan** "Kota Allah."
* Setiap nada terasa pas, seolah-olah memang diciptakan untuk membawa kata-kata tentang perlindungan ilahi, berkat rohani, dan pengharapan yang teguh.
* Kesan formalitas dan kekuatan melodi Haydn memberikan gravitasi dan otoritas pada pernyataan-pernyataan iman yang terdapat dalam lirik Newton.
Pertemuan ini menghasilkan sebuah himne yang sangat kuat, di mana musik memperkuat pesan teks secara luar biasa, dan teks memberikan makna rohani yang mendalam pada musik.
---
### **Kesimpulan: Sebuah Warisan yang Kekal**
"Glorious Things of Thee Are Spoken" adalah contoh luar biasa bagaimana seni, bahkan yang lahir dari tujuan sekuler, dapat diangkat dan digunakan untuk memuliakan Tuhan. Ini adalah hasil kolaborasi tak terduga antara seorang komponis patriotik dari Austria dan seorang pendeta yang bertobat dari Inggris.
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi mercusuar pengharapan dan kenyamanan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Ketika kita menyanyikannya, kita tidak hanya melantunkan sebuah lagu indah, tetapi juga mengenang warisan dua tokoh besar yang, melalui cara mereka masing-masing, telah memperkaya dunia dengan keindahan musik dan kedalaman spiritual. Lagu ini mengingatkan kita akan keberadaan Kota Allah yang kekal, sumber keamanan, berkat, dan pengharapan bagi setiap orang percaya.
Mari kita selami kisahnya dengan detail:
---
### **Bagian 1: Kelahiran Melodi yang Megah – Karya Franz Joseph Haydn (1797)**
Melodi agung yang kita kenal hari ini lahir bukan sebagai lagu rohani, melainkan sebagai lagu kebangsaan.
1. **Konteks Eropa yang Bergelora:**
Akhir abad ke-18 adalah masa yang penuh gejolak di Eropa. Revolusi Prancis telah mengubah lanskap politik, dan perang-perang Napoleon sedang berkobar, mengancam monarki-monarki lama. Austria, sebagai salah satu kekuatan besar Eropa, merasakan tekanan yang luar biasa.
2. **Inspirasi Patriotik Haydn:**
Franz Joseph Haydn (1732-1809), komponis klasik terkemuka dari Austria, adalah seorang patriot sejati. Ia mengagumi lagu kebangsaan Inggris, "God Save the King," dan merasa bahwa Austria juga membutuhkan sebuah lagu yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme dan loyalitas rakyatnya kepada Kaisar. Ia terinspirasi untuk menciptakan sebuah melodi yang sama megahnya, yang bisa dinyanyikan oleh seluruh rakyat Austria sebagai bentuk dukungan kepada Kaisar Francis II (Franz II).
3. **"Gott erhalte Franz den Kaiser":**
Pada tahun 1797, Haydn menyelesaikan karyanya yang fenomenal: sebuah melodi untuk lagu "Gott erhalte Franz den Kaiser" (Tuhan Selamatkan Kaisar Franz). Melodi ini segera diadopsi sebagai lagu kebangsaan Kekaisaran Austria.
* **Karakteristik Melodi:** Melodi ini sederhana namun sangat kuat, mudah diingat, dan memiliki kesan kemuliaan serta stabilitas. Struktur kuplet-nya (AABA) sangat cocok untuk lagu pujian atau kebangsaan.
* **Penerimaan:** Lagu ini sangat populer dan menjadi simbol identitas Austria selama bertahun-tahun. Haydn sendiri sangat menyukai melodi ini; ia sering memainkannya di piano sebagai hiburan pribadi, terutama di masa tuanya yang sakit-sakitan. Konon, beberapa hari sebelum meninggal, ia memainkannya tiga kali di pianonya.
4. **Perjalanan Melodi Selanjutnya:**
Melodi Haydn ini memiliki sejarah yang panjang dan bervariasi:
* Selama Kekaisaran Austria dan kemudian Austria-Hongaria, melodi ini tetap menjadi lagu kebangsaan dengan lirik yang diadaptasi sesuai pergantian kaisar.
* Pada awal abad ke-20, melodi ini juga diadopsi oleh Jerman untuk lagu kebangsaan mereka, "Deutschlandlied," meskipun dengan lirik yang berbeda, "Deutschland, Deutschland über alles." Bagian ketiga dari "Deutschlandlied" inilah yang saat ini menjadi lagu kebangsaan Republik Federal Jerman.
Jadi, melodi yang kita dengar dalam "Kota Sion, Kota Allah" adalah melodi yang sama yang digunakan untuk lagu kebangsaan Austria selama lebih dari satu abad, dan masih menjadi bagian dari lagu kebangsaan Jerman hingga hari ini. Dalam buku himne, melodi ini sering disebut sebagai "AUSTRIA" atau "VIENNA."
---
### **Bagian 2: Kelahiran Lirik yang Penuh Harapan – Karya John Newton (1779)**
Sementara melodi Haydn masih belum tercipta, di sebuah paroki kecil di Olney, Inggris, seorang pendeta telah menulis lirik yang suatu hari nanti akan berpadu sempurna dengan melodi tersebut.
1. **Latar Belakang John Newton:**
John Newton (1725-1807) adalah sosok yang luar biasa. Ia dikenal sebagai mantan kapten kapal budak yang bertobat secara radikal dan menjadi seorang pendeta Anglikan yang saleh. Kisah pertobatannya yang dramatis dari kehidupan yang penuh dosa ke dalam iman Kristen adalah inspirasi di balik himne legendarisnya yang lain, "Amazing Grace."
2. **Olney Hymns:**
Pada tahun 1779, Newton bersama dengan sahabatnya, penyair William Cowper, menerbitkan sebuah koleksi lagu rohani yang dikenal sebagai "Olney Hymns." Tujuan mereka adalah untuk menyediakan lagu-lagu yang bisa dinyanyikan dalam ibadah-ibadah mingguan, yang cocok untuk orang-orang biasa dan mengungkapkan kebenaran-kebenaran Alkitab secara sederhana namun mendalam.
3. **Inspirasi untuk Lirik "Glorious Things of Thee Are Spoken":**
Lirik untuk "Glorious Things of Thee Are Spoken" (di beberapa versi diberi judul "Zion, or the City of God") didasarkan pada **Mazmur 87**, terutama ayat 3: "Hal-hal yang mulia disebutkan tentang engkau, ya kota Allah." Mazmur ini menggambarkan Zion sebagai kota kudus Allah, tempat kelahiran orang-orang yang diberkati, dan sumber sukacita bagi seluruh bumi.
4. **Tema Lirik:**
Newton menulis lirik ini untuk menggambarkan gereja sebagai "Kota Allah" yang kekal dan aman. Lirik ini berbicara tentang:
* **Keamanan dan Perlindungan Allah:** Gereja (Zion) dilindungi oleh Tuhan sendiri, seperti "sungai yang mengalir lembut" dan "dinding-dinding keselamatan."
* **Sumber Berkat dan Kehidupan:** Dari gereja mengalir berkat rohani, "air kehidupan" yang menyegarkan jiwa.
* **Identitas dan Warisan Orang Percaya:** Setiap orang percaya adalah "warga negara" dari kota surgawi ini, dengan janji-janji ilahi sebagai bagian dari warisan mereka.
* **Pengharapan Kekal:** Ini adalah kota yang dibangun oleh Tuhan sendiri, sebuah tempat yang tak akan pernah terguncang atau hancur, memberikan pengharapan kekal di tengah ketidakpastian dunia.
Karya Newton ini, yang penuh dengan kedalaman teologis dan kehangatan rohani, adalah ekspresi imannya yang mendalam terhadap janji-janji Allah dan sifat kekal gereja-Nya.
---
### **Bagian 3: Pertemuan yang Ajaib – Melodi dan Lirik Bersatu (Abad ke-19)**
Awalnya, kedua karya agung ini lahir terpisah. Lirik Newton diciptakan pada tahun 1779, sementara melodi Haydn pada tahun 1797. Keduanya tidak ditujukan untuk satu sama lain. Pertemuan mereka terjadi di berbagai himne dan buku lagu rohani pada abad ke-19.
1. **Peran Editor Himne:**
Para editor himne pada abad ke-19, yang mencari melodi yang cocok untuk lirik-lirik rohani yang ada, menemukan bahwa melodi "Gott erhalte Franz den Kaiser" memiliki kualitas yang sangat cocok untuk himne. Kestabilan, kemegahan, dan kesederhanaannya membuatnya sangat mudah diadaptasi.
2. **Kesesuaian yang Sempurna:**
Ketika melodi Haydn dipadukan dengan lirik Newton, hasilnya sungguh ajaib.
* Melodi yang **megah dan stabil** dari Haydn dengan sempurna menggemakan tema lirik Newton tentang **keamanan dan kekekalan** "Kota Allah."
* Setiap nada terasa pas, seolah-olah memang diciptakan untuk membawa kata-kata tentang perlindungan ilahi, berkat rohani, dan pengharapan yang teguh.
* Kesan formalitas dan kekuatan melodi Haydn memberikan gravitasi dan otoritas pada pernyataan-pernyataan iman yang terdapat dalam lirik Newton.
Pertemuan ini menghasilkan sebuah himne yang sangat kuat, di mana musik memperkuat pesan teks secara luar biasa, dan teks memberikan makna rohani yang mendalam pada musik.
---
### **Kesimpulan: Sebuah Warisan yang Kekal**
"Glorious Things of Thee Are Spoken" adalah contoh luar biasa bagaimana seni, bahkan yang lahir dari tujuan sekuler, dapat diangkat dan digunakan untuk memuliakan Tuhan. Ini adalah hasil kolaborasi tak terduga antara seorang komponis patriotik dari Austria dan seorang pendeta yang bertobat dari Inggris.
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi mercusuar pengharapan dan kenyamanan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Ketika kita menyanyikannya, kita tidak hanya melantunkan sebuah lagu indah, tetapi juga mengenang warisan dua tokoh besar yang, melalui cara mereka masing-masing, telah memperkaya dunia dengan keindahan musik dan kedalaman spiritual. Lagu ini mengingatkan kita akan keberadaan Kota Allah yang kekal, sumber keamanan, berkat, dan pengharapan bagi setiap orang percaya.
Cross Reference
KJ 262, BLP 163, KPK 69, KPKA 262
Kota Sion, Kota Allah
BLP
Kota Sion, Kota Allah
KJ
Sihipun Gusti Ketawis Saking Anggenipun Nglampahi
KPK
Panglipur Kang Sejati
KPKA
Sama Tema
Kidung Paskah
Abdining Sang Yehuwah
KPJ
Aneng Salib Paduka
KPJ
Dosa Punapa
KPJ
Gusti Gesang Malih
KPJ
Gusti Kang Sumare
KPJ
Gusti Neng Taman Getsemane
KPJ
Gusti Sampun Wungu
KPJ
Gusti Sinalib Ing Golgota
KPJ
Gusti Yesus Sinalib
KPJ
Gusti Yesus Wus Wungu
KPJ
Ing Ardi Golgota
KPJ
Ing Dinten Adi Puniki
KPJ
Ing Golgota
KPJ
Kwaosing Asma Paduka
KPJ
Lah Wonten Swara Gumiyak
KPJ
Luwar
KPJ
Neng Pucak Ardi
KPJ
Nulada Mring Sang Pamarta
KPJ
Pamarta Kula Agesang
KPJ
Saiba Sangsarane Gusti
KPJ
Sang Kristus Sinangsara
KPJ
Sang Pamarta Seda Paduka
KPJ
Sihe Allah Maring Jagad
KPJ
Sinten Ingkang Tan Anglentrih
KPJ
Sinten Kang Sumarah
KPJ
Srana Mandeng Ing Salib
KPJ
Swawi Pra Kanca
KPJ
Taman Getsemane Kang Sepi
KPJ
Wonten Darah Suci Mancur
KPJ
Yen Mandeng Salibing Gusti
KPJ