KPJ
Gusti Yesus Sinalib
Informasi Lagu
257
Nomor
Kode
KPJ 257
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 175, NR 56, KK 237, KPK 74, KPKA 249
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Gusti Yesus sinalib sinrahken Allah priyangga,
karsa nyangga paukuman myang laknat dados lintuning berkat.
Gustiku kang sinalib, pasrah pyambak mring sedane,
supayane aku padha slameta, sihe winangnsulana.
Gustiku kang sinalib, marga dening durakaku,
mangka aku jenak mring pakareman, pantes tampi ukuman.
Panebusku sinalib, aku iki tebusane.
Kwajibane, aku mbuwang piala margane Gusti seda.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Penebusku Disalib"** (dalam bahasa Jerman asli berjudul ***"Meine Liebe hängt am Kreuz"***) adalah sebuah karya yang sangat mendalam dalam tradisi musik gereja Protestan. Untuk memahami kisah di baliknya, kita harus melihat dua tokoh yang terlibat: **Christian Friedrich Witt** (komponis melodi) dan **Johann Adolph Schlegel** (penulis lirik).
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Konteks Zaman: Pietisme dan Fokus pada Penderitaan Kristus
Lagu ini lahir di era di mana teologi Kristen, khususnya di Jerman, sangat dipengaruhi oleh gerakan **Pietisme**. Gerakan ini menekankan hubungan pribadi yang emosional dan mendalam antara individu dengan Kristus. Fokus utamanya bukan sekadar doktrin yang kaku, melainkan perenungan terhadap penderitaan Yesus di kayu salib sebagai bukti kasih yang personal.
### 2. Johann Adolph Schlegel (Penulis Lirik)
Johann Adolph Schlegel (1721–1793) adalah seorang pendeta dan penyair Jerman yang juga merupakan ayah dari tokoh sastra terkenal, August Wilhelm dan Friedrich Schlegel.
* **Latar Belakang:** Schlegel hidup di masa transisi antara masa Pencerahan (Aufklärung) dan masa yang lebih emosional. Ia dikenal karena kemampuannya menulis lirik yang menggabungkan ketenangan teologis dengan kerendahan hati seorang percaya.
* **Makna Lirik:** Judul aslinya, *Meine Liebe hängt am Kreuz*, secara literal berarti "Cintaku tergantung di atas kayu salib." Kalimat ini adalah pernyataan iman yang provokatif sekaligus intim. Ini merujuk pada kenyataan bahwa pusat dari seluruh kasih sayang, pengharapan, dan hidup si penyair "tergantung" pada peristiwa penyaliban Yesus. Bagi Schlegel, kayu salib bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan tempat di mana kasih Allah secara nyata "dipajang" bagi dunia.
### 3. Christian Friedrich Witt (Komponis Melodi)
Christian Friedrich Witt (sekitar 1660–1716) adalah seorang organis dan komponis yang melayani di istana Gotha, Jerman.
* **Kontribusi:** Witt adalah tokoh penting dalam penyusunan buku nyanyian gereja (*hymnbook*) yang sangat berpengaruh pada zamannya, yaitu *Psalmodia Sacra* (1715).
* **Gaya Musik:** Musik Witt cenderung khidmat, sederhana, namun sangat fokus pada pendalaman emosi teks. Melodi yang ia ciptakan dirancang agar jemaat dapat merenungkan setiap kata yang dinyanyikan. Ia tidak membuat musik yang megah, melainkan musik yang bersifat kontemplatif (mengajak untuk diam dan merenung).
### 4. Kisah di Balik Penggabungan Karya
Sebenarnya, lirik karya Schlegel dan melodi karya Witt disatukan oleh sejarah penyuntingan buku nyanyian gereja di Jerman. Ketika lirik Schlegel yang puitis dan penuh gairah spiritual itu dipadukan dengan melodi Witt yang tenang, lagu ini menjadi sarana peribadatan yang sangat kuat selama masa **Masa Sengsara (Passio)** atau Pekan Suci.
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"Dunia yang berpusat pada Salib"**:
* **Pengakuan Dosa:** Liriknya mengajak penyanyi untuk menyadari bahwa penderitaan Kristus adalah akibat dari dosa manusia.
* **Respon Kasih:** Alih-alih hanya merasa bersalah, lagu ini mengajak orang percaya untuk menanggapi kasih Kristus dengan cinta yang serupa—yaitu menggantungkan seluruh hidup mereka pada apa yang telah Kristus selesaikan di atas kayu salib.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu ini bertahan melintasi berabad-abad karena kejujurannya. Di saat dunia modern sering kali mengaburkan makna salib, lagu ini memberikan pengingat visual (melalui liriknya) bahwa iman Kristen berakar pada satu titik historis: **Yesus yang tergantung di kayu salib.**
Dalam tradisi gereja (termasuk di Indonesia, di mana lagu ini sering diterjemahkan sebagai *"Penebusku Disalib"*), lagu ini sering dinyanyikan dengan tempo lambat untuk menciptakan suasana sakral di mana jemaat diajak untuk membayangkan secara mental kasih Allah yang luar biasa besar tersebut.
**Kesimpulan:**
Lagu ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah **ekspresi kerohanian pribadi**. Ini adalah pengakuan seorang manusia (Schlegel) yang diiringi oleh melodi yang khidmat (Witt), yang menyatakan bahwa seluruh arti hidupnya, arah cintanya, dan tujuan keselamatannya telah "digantungkan" di kayu salib tempat Yesus mati.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Konteks Zaman: Pietisme dan Fokus pada Penderitaan Kristus
Lagu ini lahir di era di mana teologi Kristen, khususnya di Jerman, sangat dipengaruhi oleh gerakan **Pietisme**. Gerakan ini menekankan hubungan pribadi yang emosional dan mendalam antara individu dengan Kristus. Fokus utamanya bukan sekadar doktrin yang kaku, melainkan perenungan terhadap penderitaan Yesus di kayu salib sebagai bukti kasih yang personal.
### 2. Johann Adolph Schlegel (Penulis Lirik)
Johann Adolph Schlegel (1721–1793) adalah seorang pendeta dan penyair Jerman yang juga merupakan ayah dari tokoh sastra terkenal, August Wilhelm dan Friedrich Schlegel.
* **Latar Belakang:** Schlegel hidup di masa transisi antara masa Pencerahan (Aufklärung) dan masa yang lebih emosional. Ia dikenal karena kemampuannya menulis lirik yang menggabungkan ketenangan teologis dengan kerendahan hati seorang percaya.
* **Makna Lirik:** Judul aslinya, *Meine Liebe hängt am Kreuz*, secara literal berarti "Cintaku tergantung di atas kayu salib." Kalimat ini adalah pernyataan iman yang provokatif sekaligus intim. Ini merujuk pada kenyataan bahwa pusat dari seluruh kasih sayang, pengharapan, dan hidup si penyair "tergantung" pada peristiwa penyaliban Yesus. Bagi Schlegel, kayu salib bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan tempat di mana kasih Allah secara nyata "dipajang" bagi dunia.
### 3. Christian Friedrich Witt (Komponis Melodi)
Christian Friedrich Witt (sekitar 1660–1716) adalah seorang organis dan komponis yang melayani di istana Gotha, Jerman.
* **Kontribusi:** Witt adalah tokoh penting dalam penyusunan buku nyanyian gereja (*hymnbook*) yang sangat berpengaruh pada zamannya, yaitu *Psalmodia Sacra* (1715).
* **Gaya Musik:** Musik Witt cenderung khidmat, sederhana, namun sangat fokus pada pendalaman emosi teks. Melodi yang ia ciptakan dirancang agar jemaat dapat merenungkan setiap kata yang dinyanyikan. Ia tidak membuat musik yang megah, melainkan musik yang bersifat kontemplatif (mengajak untuk diam dan merenung).
### 4. Kisah di Balik Penggabungan Karya
Sebenarnya, lirik karya Schlegel dan melodi karya Witt disatukan oleh sejarah penyuntingan buku nyanyian gereja di Jerman. Ketika lirik Schlegel yang puitis dan penuh gairah spiritual itu dipadukan dengan melodi Witt yang tenang, lagu ini menjadi sarana peribadatan yang sangat kuat selama masa **Masa Sengsara (Passio)** atau Pekan Suci.
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"Dunia yang berpusat pada Salib"**:
* **Pengakuan Dosa:** Liriknya mengajak penyanyi untuk menyadari bahwa penderitaan Kristus adalah akibat dari dosa manusia.
* **Respon Kasih:** Alih-alih hanya merasa bersalah, lagu ini mengajak orang percaya untuk menanggapi kasih Kristus dengan cinta yang serupa—yaitu menggantungkan seluruh hidup mereka pada apa yang telah Kristus selesaikan di atas kayu salib.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu ini bertahan melintasi berabad-abad karena kejujurannya. Di saat dunia modern sering kali mengaburkan makna salib, lagu ini memberikan pengingat visual (melalui liriknya) bahwa iman Kristen berakar pada satu titik historis: **Yesus yang tergantung di kayu salib.**
Dalam tradisi gereja (termasuk di Indonesia, di mana lagu ini sering diterjemahkan sebagai *"Penebusku Disalib"*), lagu ini sering dinyanyikan dengan tempo lambat untuk menciptakan suasana sakral di mana jemaat diajak untuk membayangkan secara mental kasih Allah yang luar biasa besar tersebut.
**Kesimpulan:**
Lagu ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah **ekspresi kerohanian pribadi**. Ini adalah pengakuan seorang manusia (Schlegel) yang diiringi oleh melodi yang khidmat (Witt), yang menyatakan bahwa seluruh arti hidupnya, arah cintanya, dan tujuan keselamatannya telah "digantungkan" di kayu salib tempat Yesus mati.
Cross Reference
KJ 175, NR 56, KK 237, KPK 74, KPKA 249
Penebusku Disalib
KJ
Penebusku Disalib
KK
Gusti Kasalib
KPK
Gusti Yesus Sinalib
KPKA
Penebusku Disalib
NR
Sama Tema
Kidung Paskah
Abdining Sang Yehuwah
KPJ
Aneng Salib Paduka
KPJ
Dosa Punapa
KPJ
Gusti Gesang Malih
KPJ
Gusti Kang Sumare
KPJ
Gusti Neng Taman Getsemane
KPJ
Gusti Sampun Wungu
KPJ
Gusti Sinalib Ing Golgota
KPJ
Gusti Yesus Wus Wungu
KPJ
Ing Ardi Golgota
KPJ
Ing Dinten Adi Puniki
KPJ
Ing Golgota
KPJ
Kwaosing Asma Paduka
KPJ
Lah Wonten Swara Gumiyak
KPJ
Luwar
KPJ
Neng Pucak Ardi
KPJ
Nulada Mring Sang Pamarta
KPJ
Pamarta Kula Agesang
KPJ
Panglipuring Tyang Prihatos
KPJ
Saiba Sangsarane Gusti
KPJ
Sang Kristus Sinangsara
KPJ
Sang Pamarta Seda Paduka
KPJ
Sihe Allah Maring Jagad
KPJ
Sinten Ingkang Tan Anglentrih
KPJ
Sinten Kang Sumarah
KPJ
Srana Mandeng Ing Salib
KPJ
Swawi Pra Kanca
KPJ
Taman Getsemane Kang Sepi
KPJ
Wonten Darah Suci Mancur
KPJ
Yen Mandeng Salibing Gusti
KPJ