NP
Almasih Maju dan Berp'rang
The Son of God Goes Forth to War
Informasi Lagu
258
Nomor
Kode
NP 258
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Henry S. Cutler
Pencipta Syair
Reginald Heber
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Almasih maju dan berprang, Lihat benderaNya!
Tentu tentaraNya menang; Siapa ikut serta?
Orang yang minum cawanNya, Sengsara dan duka,
Brani memikul salibNya, Ikutlah sertaNya.
DikorbankanNya diriNya sebagai jaminan,
Supaya oleh BapaNya, Kita dislamatkan.
Pembunuh pun didoakan dengan penuh cinta,
Agar dapat pengampunan; Siapa ikut serta?
Setiap rasul Almasih tidak mengindahkan
Pedang dan salib yang pedih, Karna keyakinan;
Walau dibakar dan hancur, Dibuang ke singa,
Tiada juga mau undur; Siapa ikut serta?
Tentara Yesus yang menang, Berkumpul di surga,
Menyanyi ramai dan riang, Sekitar takhtaNya;
Mereka sudah bertahan dalam aniaya;
Bri kami kuasa, ya Tuhan, Untuk ikut serta!
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"The Son of God Goes Forth to War"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Almasih Maju dan Berperang"*) adalah salah satu lagu himne Kristen yang paling kuat dan kontroversial, yang membawa semangat perjuangan spiritual.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan dan makna lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Reginald Heber (1819)
Reginald Heber adalah seorang uskup Anglikan di Calcutta, India. Ia menulis lirik ini pada tahun 1819 sebagai lagu untuk hari peringatan **St. Stefanus** (martir Kristen pertama yang dicatat dalam Alkitab).
Heber ingin menggambarkan bahwa kekristenan bukanlah jalan yang mudah atau santai, melainkan sebuah peperangan rohani yang memerlukan pengorbanan dan keberanian. Dalam liriknya, Heber menelusuri jejak para pahlawan iman—mulai dari para martir awal, para rasul, hingga mereka yang menderita demi Kristus.
### 2. Komposer Musik: Henry S. Cutler (1862)
Meskipun liriknya ditulis pada 1819, melodi yang paling terkenal dan digunakan hingga saat ini diciptakan oleh **Henry S. Cutler** pada tahun 1862.
Cutler adalah seorang organis di Gereja Episkopal *Trinity Church* di New York City. Ia menciptakan melodi ini (yang diberi nama *“All Saints New”*) di tengah suasana **Perang Saudara Amerika (American Civil War)**. Pada masa itu, suasana di Amerika Serikat sangat kelam, penuh dengan berita kematian di medan perang. Melodi gubahan Cutler yang megah, tegas, dan berwibawa terasa sangat relevan dengan suasana bangsa yang sedang berperang, sehingga lagu ini menjadi sangat populer di kalangan tentara dan gereja saat itu.
### 3. Makna Teologis di Balik Lirik
Lagu ini sering disalahpahami oleh orang modern sebagai seruan untuk "perang fisik" atau kekerasan. Namun, jika dibaca dengan teliti, lirik ini sebenarnya berbicara tentang **peperangan rohani (spiritual warfare)**:
* **Panggilan untuk Berkorban:** Bait-bait lagu ini merujuk pada para martir yang telah memberikan nyawa mereka (seperti Stefanus, para Rasul, dan orang-orang kudus). Pesannya adalah bahwa mengikuti Kristus berarti memikul salib dan siap menghadapi penderitaan demi kebenaran.
* **Keteguhan Iman:** Lirik seperti *"Who best can drink his cup of woe, triumphant over pain"* (Siapa yang paling sanggup meminum cawan penderitaan-Nya dan menang atas rasa sakit) menekankan ketabahan moral.
* **Dunia sebagai Medan Perang:** Heber memandang dunia sebagai tempat yang rusak oleh dosa. Mengikut Yesus berarti maju melawan arus dunia yang jahat, bukan dengan pedang fisik, melainkan dengan keteguhan iman dan kasih.
### 4. Resepsi dan Kontroversi
Lagu ini telah menuai pujian sekaligus kritik selama berabad-abad:
* **Pujian:** Banyak orang Kristen menganggap lagu ini sebagai "himne keberanian" (hymn of courage) yang membangkitkan semangat saat seseorang menghadapi tantangan hidup yang berat.
* **Kritik:** Pada era modern, beberapa kritikus menganggap metafora "berperang" terlalu agresif. Namun, para teolog membela lagu ini dengan argumen bahwa metafora perang adalah bahasa Alkitabiah (seperti dalam surat-surat Rasul Paulus tentang "memakai seluruh perlengkapan senjata Allah") untuk menggambarkan perjuangan melawan godaan dan kejahatan di dalam diri serta dunia.
### Kesimpulan
"Almasih Maju dan Berperang" adalah sebuah komposisi yang lahir dari dua masa yang penuh pergumulan: masa tugas pelayanan Reginald Heber di India yang penuh tantangan, dan masa perang saudara di Amerika yang dialami Henry S. Cutler.
Lagu ini tetap bertahan selama lebih dari 200 tahun karena pesannya yang universal: bahwa **kebenaran sering kali memerlukan harga yang mahal**, dan kesetiaan kepada Kristus adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan keberanian setiap hari.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan dan makna lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Reginald Heber (1819)
Reginald Heber adalah seorang uskup Anglikan di Calcutta, India. Ia menulis lirik ini pada tahun 1819 sebagai lagu untuk hari peringatan **St. Stefanus** (martir Kristen pertama yang dicatat dalam Alkitab).
Heber ingin menggambarkan bahwa kekristenan bukanlah jalan yang mudah atau santai, melainkan sebuah peperangan rohani yang memerlukan pengorbanan dan keberanian. Dalam liriknya, Heber menelusuri jejak para pahlawan iman—mulai dari para martir awal, para rasul, hingga mereka yang menderita demi Kristus.
### 2. Komposer Musik: Henry S. Cutler (1862)
Meskipun liriknya ditulis pada 1819, melodi yang paling terkenal dan digunakan hingga saat ini diciptakan oleh **Henry S. Cutler** pada tahun 1862.
Cutler adalah seorang organis di Gereja Episkopal *Trinity Church* di New York City. Ia menciptakan melodi ini (yang diberi nama *“All Saints New”*) di tengah suasana **Perang Saudara Amerika (American Civil War)**. Pada masa itu, suasana di Amerika Serikat sangat kelam, penuh dengan berita kematian di medan perang. Melodi gubahan Cutler yang megah, tegas, dan berwibawa terasa sangat relevan dengan suasana bangsa yang sedang berperang, sehingga lagu ini menjadi sangat populer di kalangan tentara dan gereja saat itu.
### 3. Makna Teologis di Balik Lirik
Lagu ini sering disalahpahami oleh orang modern sebagai seruan untuk "perang fisik" atau kekerasan. Namun, jika dibaca dengan teliti, lirik ini sebenarnya berbicara tentang **peperangan rohani (spiritual warfare)**:
* **Panggilan untuk Berkorban:** Bait-bait lagu ini merujuk pada para martir yang telah memberikan nyawa mereka (seperti Stefanus, para Rasul, dan orang-orang kudus). Pesannya adalah bahwa mengikuti Kristus berarti memikul salib dan siap menghadapi penderitaan demi kebenaran.
* **Keteguhan Iman:** Lirik seperti *"Who best can drink his cup of woe, triumphant over pain"* (Siapa yang paling sanggup meminum cawan penderitaan-Nya dan menang atas rasa sakit) menekankan ketabahan moral.
* **Dunia sebagai Medan Perang:** Heber memandang dunia sebagai tempat yang rusak oleh dosa. Mengikut Yesus berarti maju melawan arus dunia yang jahat, bukan dengan pedang fisik, melainkan dengan keteguhan iman dan kasih.
### 4. Resepsi dan Kontroversi
Lagu ini telah menuai pujian sekaligus kritik selama berabad-abad:
* **Pujian:** Banyak orang Kristen menganggap lagu ini sebagai "himne keberanian" (hymn of courage) yang membangkitkan semangat saat seseorang menghadapi tantangan hidup yang berat.
* **Kritik:** Pada era modern, beberapa kritikus menganggap metafora "berperang" terlalu agresif. Namun, para teolog membela lagu ini dengan argumen bahwa metafora perang adalah bahasa Alkitabiah (seperti dalam surat-surat Rasul Paulus tentang "memakai seluruh perlengkapan senjata Allah") untuk menggambarkan perjuangan melawan godaan dan kejahatan di dalam diri serta dunia.
### Kesimpulan
"Almasih Maju dan Berperang" adalah sebuah komposisi yang lahir dari dua masa yang penuh pergumulan: masa tugas pelayanan Reginald Heber di India yang penuh tantangan, dan masa perang saudara di Amerika yang dialami Henry S. Cutler.
Lagu ini tetap bertahan selama lebih dari 200 tahun karena pesannya yang universal: bahwa **kebenaran sering kali memerlukan harga yang mahal**, dan kesetiaan kepada Kristus adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan keberanian setiap hari.