Informasi Lagu
105
Nomor
La=C
Nada Dasar
Kode
PKJ 105
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Nada Dasar
La=C
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
100
Jumlah Bait
5 bait
Style
Blockbuster Ballad, ScandShuffle
Pencipta Lagu
Martin G. Schneider (1963)
Pencipta Syair
Martin G. Schneider (1963)
Penerjemah
Yamuger (1988)
Cross Ref.
KMM 77, NKB 111, GB 273, KK 289
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Mengamuklah samudera dan badai menderu; gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh. Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih: Betapa jauh, di manakah labuhan abadi? Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah! Tanpa Dikau semua binasa kelak. Ya Tuhan, tolonglah.
Gereja bagai bahtera pun suka berhenti, tak menempuh samudera, tak ingin berjerih dan hanya masa jayanya selalu dikenang, tak ingat akan dunia yang hampir tenggelam! Gereja yang tak bertekun di dalam tugasnya, tentunya oleh Tuhan pun tak diberi berkah! Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah! Tanpa Dikau semua binasa kelak. Ya Tuhan, tolonglah.
Gereja bagai bahtera diatur awaknya, setiap orang bekerja menurut tugasnya. Semua satu padulah, setia bertekun, demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh. Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk di dalam kasih dan iman dan harap yang teguh. Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah! Tanpa Dikau semua binasa kelak. Ya Tuhan, tolonglah.
Gereja bagai bahtera, muatannya penuh, beraneka manusia yang suka mengeluh, yang hanya ikut maunya, meng’ritik dan sok tahu, sehingga bandar tujuan menjadi makin jauh. Tetapi bila umatNya sedia mendengar, tentulah Tuhan memberi petunjuk yang benar. Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah! Tanpa Dikau semua binasa kelak. Ya Tuhan, tolonglah.
Gereja bagai bahtera di laut yang seram, mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah, kau tak sendirian; teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan! Bersama-sama majulah, bertahan, berteguh; tujuan akhir adalah labuhan Tuhanmu! Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah! Tanpa Dikau semua binasa kelak. Ya Tuhan, tolonglah.
Slide Lirik 10 slide
Slide 1 — PKJ 105 1
Slide 2 — PKJ 105 2
Slide 3 — PKJ 105 3
Slide 4 — PKJ 105 4
Slide 5 — PKJ 105 5
Slide 6 — PKJ 105 6
Slide 7 — PKJ 105 7
Slide 8 — PKJ 105 8
Slide 9 — PKJ 105 9
Slide 10 — PKJ 105 10
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 105
Sejarah Lagu
Kisah mendalam di balik lagu rohani yang sangat dikenal, "Ein Schiff, das sich Gemeinde nennt" atau di Indonesia dikenal sebagai "Gereja Bagai Bahtera". Lagu ini bukan sekadar melodi indah, tetapi juga sebuah narasi yang kaya akan konteks teologis dan sejarah.

**Pencipta: Martin Gotthard Schneider (1930-2017)**

Martin Gotthard Schneider adalah seorang teolog, musisi gereja, dan komposer asal Jerman yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam gerakan "Neues Geistliches Lied" (Lagu Rohani Baru) di Jerman pasca-Perang Dunia II. Gerakan ini bertujuan untuk memperbarui musik gereja dengan gaya yang lebih kontemporer, melodi yang mudah diingat, dan lirik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari jemaat. Schneider percaya bahwa musik gereja harus bisa berbicara kepada hati orang-orang di zaman modern, bukan hanya mengulang tradisi lama.

Schneider dikenal karena kemampuannya menggabungkan kedalaman teologis dengan melodi yang menarik. Ia menulis banyak lagu rohani yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari buku nyanyian gereja Protestan Jerman (Evangelisches Gesangbuch) dan banyak digunakan dalam berbagai pertemuan dan ibadah.

**Kelahiran Lagu: Konteks Kirchentag 1963 di Dortmund**

Kisah "Ein Schiff, das sich Gemeinde nennt" berawal pada tahun **1963**. Pada tahun itu, Gereja Protestan Jerman mengadakan acara besar bernama **Kirchentag** (Kongres Gereja) di kota Dortmund. Kirchentag adalah sebuah forum besar yang diadakan setiap dua tahun sekali, mempertemukan puluhan ribu umat Protestan untuk berdiskusi, beribadah, dan merayakan iman mereka.

Tema Kirchentag tahun 1963 sangat relevan dengan semangat zaman pasca-perang di Jerman yang sedang dalam tahap pembangunan kembali dan mencari identitas baru. Temanya adalah **"Wagt den Schritt – Einheit mit der Welt"** (Beranikan Diri Melangkah – Kesatuan dengan Dunia). Tema ini menyerukan umat Kristen untuk tidak bersembunyi di balik tembok gereja, melainkan berani melangkah keluar, menghadapi tantangan dunia, dan menjadi bagian aktif dalam pembentukan masyarakat.

Untuk mendukung tema yang kuat ini, panitia Kirchentag menugaskan Martin Gotthard Schneider untuk menciptakan sebuah lagu baru yang bisa menangkap esensi pesan tersebut dan mudah dinyanyikan oleh ribuan peserta. Schneider menerima tantangan ini dan dengan cepat menulis baik lirik maupun musiknya.

**Metafora Bahtera (Kapal) dan Maknanya**

Pilihan metafora kapal atau bahtera (Schiff) untuk menggambarkan gereja bukanlah hal baru dalam tradisi Kristen. Metafora ini memiliki akar yang dalam:

1. **Bahtera Nuh:** Menggambarkan gereja sebagai tempat perlindungan dari "banjir" atau kekacauan dunia, yang membawa umat beriman menuju keselamatan.
2. **Perahu Petrus:** Murid-murid Yesus yang sebagian besar adalah nelayan, sering berlayar di Danau Galilea. Perahu Petrus sering dianggap sebagai simbol gereja perdana, yang meskipun kecil dan rapuh, dikemudikan oleh Yesus Kristus sendiri.
3. **Gereja sebagai Pelayaran:** Sepanjang sejarah, gereja juga digambarkan sebagai sebuah kapal yang berlayar di "lautan dunia" (saeculum), menghadapi badai godaan dan tantangan, namun memiliki tujuan akhir yaitu Kerajaan Allah.

Martin Gotthard Schneider dengan cerdas mengambil metafora kuno ini dan memberinya interpretasi yang segar dan dinamis, sangat cocok dengan tema Kirchentag 1963:

* **"Ein Schiff, das sich Gemeinde nennt" (Sebuah kapal yang disebut jemaat/gereja):** Ini menekankan bahwa gereja bukanlah bangunan statis atau institusi kaku, melainkan sebuah komunitas orang-orang (Gemeinde) yang bergerak bersama.
* **"fährte durch das Meer der Zeit" (berlayar melalui lautan waktu):** Menggambarkan perjalanan sejarah gereja dan setiap individu dalam kehidupan, menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.
* **"Es trägt, die an Bord sind, durch Sturm und durch Brandung" (Ia membawa mereka yang di dalamnya, melalui badai dan ombak):** Melambangkan kehidupan yang penuh dengan kesulitan, keraguan, penderitaan, dan konflik. Gereja adalah tempat di mana orang-orang menemukan kekuatan dan harapan untuk menghadapinya.
* **"Es bringt, die an Bord sind, dereinst in die Ewigkeit" (Ia membawa mereka yang di dalamnya, kelak menuju kekekalan):** Menunjukkan tujuan akhir dari perjalanan iman, yaitu kehidupan kekal bersama Tuhan.
* **Pentingnya partisipasi aktif:** Lirik lagu ini juga menyerukan kepada setiap anggota jemaat untuk tidak hanya menjadi penumpang pasif, tetapi menjadi bagian dari kru yang aktif – memegang kemudi, mengendalikan layar, dan berlayar bersama. Ini sejalan dengan tema "Wagt den Schritt" (Beranikan Diri Melangkah) yang menyerukan keterlibatan aktif dalam dunia. Kapten dari kapal ini tentu saja adalah Kristus sendiri, yang membimbing perjalanan.

**Penerimaan dan Dampak**

Ketika "Ein Schiff, das sich Gemeinde nennt" diperkenalkan di Kirchentag Dortmund 1963, lagu ini langsung mendapatkan sambutan luar biasa. Melodinya yang mudah diingat dan liriknya yang kuat serta relevan dengan pengalaman iman banyak orang membuatnya cepat populer. Lagu ini menjadi semacam "anthem" bagi gerakan rohani baru dan juga bagi semangat keterlibatan gereja dalam dunia.

Sejak saat itu, lagu ini telah menjadi salah satu lagu rohani yang paling banyak dinyanyikan dan dicintai di Jerman dan seluruh dunia. Ia telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia dengan judul **"Gereja Bagai Bahtera"**. Di Indonesia, lagu ini juga sangat populer di berbagai denominasi gereja dan sering dinyanyikan dalam ibadah, pertemuan pemuda, atau acara-acara gerejawi lainnya.

**Warisan Abadi**

"Gereja Bagai Bahtera" tetap relevan hingga hari ini. Pesannya tentang gereja sebagai komunitas yang dinamis, yang menghadapi tantangan hidup bersama, yang dipimpin oleh Kristus menuju tujuan kekal, dan yang menyerukan partisipasi aktif setiap anggotanya, adalah pesan yang tak lekang oleh waktu. Lagu ini terus menjadi sumber inspirasi, harapan, dan panggilan untuk bertumbuh dalam iman dan melayani sesama.

Demikianlah kisah detail di balik lagu "Gereja Bagai Bahtera / Ein Schiff, das sich Gemeinde nennt", sebuah karya Martin Gotthard Schneider yang berhasil mengabadikan makna gereja dan iman dalam sebuah metafora yang kuat dan melodi yang tak terlupakan.