Informasi Lagu
169
Nomor
do=f
Nada Dasar
Kode
KK 169
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=f
Ketukan
2/4 ketuk
Metronom
96
Pencipta Lagu
Plymouth Collection
Pencipta Syair
George Stringer Rowe
Penerjemah
Yamuger, 1981
Cross Ref.
KJ 111, MK 43b
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 1 bait
1. Di palungan dibaringkan Putra Allah yang kudus; tidur-Nya di kandang hewan, kandang domba dan lembu. Berbahagia gembala mendengar beritanya, segera pergi ke sana dan pada-Nya menyembah. 2. Berbahagia semua yang mendapat kabarnya, apalagi yang menyambut Dia dalam hatinya. Anak suci, Juruslamat, kandang hewan rumah-Mu, Sudilah, ya Yesus, turun juga dalam hatiku. 3. Hatiku Engkau dapati, bagai kandang tak bersih; Maukah Tuhan mendiami hati hina dan keji? Tuhan Yesus mari masuk, buat natal bagiku, Hatiku jadikan surgaoleh kehadiran-Mu. 4. Dan kepada tiap orang yang hatinya membeku, karna tidak menghayati arti kelahiran-Mu, brilah, Tuhan, dari surgasuka cita yang kudus agar ikut merayakan Hari Lahir Penebus! Syair: Cradled in a Manger Meanly, George Stringer Rowe (1830-1913) terj. Yamuger, 1981 Lagu: Plymouth Collection, 1855
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KK 169 1
Slide 2 — KK 169 2
Slide 3 — KK 169 3
Slide 4 — KK 169 4
Partitur / Not
Partitur Chord KK 169
Sejarah Lagu
Lagu **"Di Palungan Dibaringkan"** (judul asli bahasa Inggris: *Cradled in a Manger Meanly*) adalah sebuah kidung Natal klasik yang memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi Protestan Inggris.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Penulis Lirik: George Stringer Rowe
Lirik lagu ini ditulis oleh **George Stringer Rowe** (1828–1909), seorang pendeta metodis asal Inggris yang juga dikenal sebagai penulis dan misionaris. Rowe adalah sosok yang sangat dihormati di kalangan Gereja Metodis Inggris pada zamannya.

Ia menulis lagu ini dengan tujuan untuk menekankan kontras yang ekstrem antara kemuliaan surgawi Kristus dengan kerendahan hati kedatangan-Nya di dunia. Fokus utamanya adalah mengajak jemaat untuk merenungkan kasih Tuhan yang rela turun ke dunia dalam kondisi yang paling tidak layak—sebuah palungan—demi menebus umat manusia.

### 2. Sumber Publikasi: *The Plymouth Collection*
Lagu ini sering dikaitkan dengan *The Plymouth Collection*. Penting untuk dicatat bahwa *The Plymouth Collection of Hymns and Tunes* (diterbitkan tahun 1855) adalah buku nyanyian yang disunting oleh **Henry Ward Beecher**, seorang pengkhotbah terkenal dari Plymouth Church di Brooklyn, New York.

Meskipun lagu ini muncul dalam berbagai kumpulan kidung (hymnal) di abad ke-19, kehadirannya dalam tradisi lagu-lagu Natal mencerminkan semangat kebangunan rohani pada masa itu yang sangat menekankan "Teologi Penjelmaan" (*The Theology of Incarnation*).

### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Kisah di balik lagu ini tidak terletak pada sebuah peristiwa dramatis, melainkan pada **eksegesis (penafsiran) teologis** terhadap peristiwa Natal. Lirik aslinya (*Cradled in a Manger Meanly*) secara harfiah berarti "Dibaringkan di palungan yang hina".

Beberapa poin utama yang ingin disampaikan dalam lagu ini:
* **Kontras Kerendahan:** Lagu ini secara detail melukiskan bagaimana Raja alam semesta tidak lahir di istana, melainkan di kandang hewan. "Meanly" (hina/sederhana) digunakan untuk menyoroti kontras antara status-Nya sebagai Allah dan kondisi fisik tempat kelahiran-Nya.
* **Panggilan Ibadah:** Lagu ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah ajakan bagi orang percaya untuk berlutut dan menyembah Sang Bayi.
* **Kerendahan Hati sebagai Teladan:** Bagi pengikut Metodis pada masa itu, kelahiran Yesus yang sederhana dianggap sebagai standar etika bagi orang Kristen untuk hidup sederhana dan penuh kerendahan hati.

### 4. Melodi dan Adaptasi
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer karena diterjemahkan dengan indah ke dalam Bahasa Indonesia. Melodi yang digunakan sering kali terasa khidmat dan kontemplatif, mencerminkan suasana malam Natal yang tenang namun penuh makna.

### Mengapa lagu ini tetap bertahan?
Lagu ini tetap bertahan selama lebih dari 150 tahun bukan karena kemegahan musiknya, melainkan karena **pesan intinya yang universal**. Di dunia yang sering kali mengejar kemewahan dan status, *Di Palungan Dibaringkan* menjadi pengingat tahunan bahwa:
1. Tuhan hadir di tempat yang paling tidak terduga dan paling rendah.
2. Agama Kristen berpusat pada kasih yang rela mengosongkan diri (*kenosis*).

**Kesimpulan:**
Kisah di balik *Di Palungan Dibaringkan* adalah kisah tentang upaya seorang pendeta abad ke-19 untuk menerjemahkan keajaiban teologis Natal ke dalam bahasa yang sederhana namun menyentuh hati. Lagu ini mengajak kita untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk perayaan Natal dan merenungkan satu fakta mendasar: **Tuhan turun ke bumi, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kelemahan seorang bayi di atas palungan.**