Informasi Lagu
31
Nomor
Kode
NP 31
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
tak dikenal
Pencipta Syair
Frederick Whitfield
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Dengarkan nama kucinta, Nyanyian jiwaku; Merdu benarlah bunyinya, Penghibur tiap kalbu. Ku kasih padaNya, Yesus Anak Allah; Ku kasih padaNya, Membalas kasihNya.
Terkandung dalam namaNya, KasihNya tak terpri; Hapuslah dosa karena DarahNya yang suci.
Terkandung dalam namaNya, Karunia Tuhanku; Jalanku trang bercahaya, Meski penuh liku.
Terkandung dalam namaNya, JiwaNya yang besar; Bila sedih Dia serta, Penghibur yang benar.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 31
Sejarah Lagu
Lagu **"Dengarkan Nama Kucinta"** (judul asli bahasa Inggris: *“There Is a Name I Love to Hear”*) adalah salah satu himne Kristen yang paling dicintai di dunia. Meskipun banyak orang mengaitkannya dengan Frederick Whitfield, ada kisah yang menyentuh di balik penciptaan liriknya.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Penulis: Frederick Whitfield
Frederick Whitfield (1829–1904) adalah seorang pendeta asal Inggris dari Gereja Anglikan. Ia bukan hanya seorang pengkhotbah yang setia, tetapi juga seorang penulis puisi dan himne yang produktif. Sepanjang hidupnya, ia menulis banyak karya sastra rohani, namun karyanya yang paling abadi dan dikenal luas di seluruh dunia adalah himne ini.

### 2. Inspirasi di Balik Lirik
Kisah penulisan lagu ini berakar pada **ketulusan dan kesederhanaan iman**. Whitfield menulis lirik ini pada tahun 1855, ketika ia baru berusia 26 tahun.

Inspirasinya berasal dari hubungan pribadinya yang mendalam dengan sosok Yesus Kristus. Whitfield merasa bahwa di dunia yang penuh dengan kebisingan, penderitaan, dan nama-nama besar yang diagungkan manusia, hanya ada satu nama yang mampu memberikan kedamaian sejati, penghiburan bagi yang berduka, dan harapan bagi yang putus asa.

Judul aslinya sebenarnya adalah **"I Love to Sing of That Great Love"**. Whitfield ingin menyampaikan bahwa bagi orang percaya, nama "Yesus" bukanlah sekadar nama, melainkan sebuah melodi yang membawa penyembuhan.

### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Jika kita membedah liriknya, Whitfield menekankan beberapa poin teologis yang menyentuh:
* **Penyembuhan:** Nama Yesus digambarkan sebagai obat bagi jiwa yang sakit (*"It soothes the sorrows of the soul and drives away our fears"*).
* **Kasih:** Lagu ini merayakan kasih Tuhan yang tak terbatas, yang rela turun ke dunia untuk menebus manusia.
* **Harapan:** Bagi Whitfield, nama tersebut adalah satu-satunya "lagu" yang ingin ia nyanyikan selamanya, baik di dunia ini maupun di kekekalan nanti.

### 4. Perjalanan Menjadi Lagu yang Populer
Lirik yang ditulis oleh Whitfield awalnya hanyalah sebuah puisi rohani. Kemudian, lirik tersebut dipadukan dengan melodi yang sangat indah dan mudah diingat oleh seorang komposer bernama **Charles Crozat Converse** pada tahun 1868.

Converse memberikan melodi yang bernada lembut, tenang, dan kontemplatif. Kombinasi antara lirik Whitfield yang puitis dan melodi Converse yang harmonis membuat lagu ini segera diadopsi oleh berbagai gereja di seluruh dunia.

### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Ikonik?
"Dengarkan Nama Kucinta" (atau sering disebut *"O How I Love Jesus"* karena bagian refreinnya yang terkenal) menjadi sangat populer karena:
* **Kesederhanaan:** Lagu ini tidak menggunakan bahasa yang rumit. Pesannya langsung menyentuh esensi iman Kristen, yaitu hubungan kasih antara manusia dan Yesus.
* **Repetisi yang Efektif:** Pengulangan kata "O how I love Jesus" membuat lagu ini mudah diingat, bahkan bagi anak-anak maupun orang dewasa di pelosok desa sekalipun.

### Kesimpulan
Frederick Whitfield tidak menulis lagu ini untuk ketenaran atau komersial. Ia menulisnya sebagai **ekspresi pengabdian pribadi**. Ia ingin dunia tahu bahwa di balik segala kesulitan hidup, ada nama yang membawa kedamaian yang melampaui segala akal.

Hingga hari ini, setelah lebih dari 160 tahun, "Dengarkan Nama Kucinta" tetap menjadi lagu yang sering dinyanyikan dalam berbagai kebaktian, dari katedral megah di Eropa hingga gereja-gereja sederhana di Indonesia, menjadi bukti nyata bahwa sebuah tulisan yang lahir dari hati akan selalu bertahan melintasi zaman.