NP
Puji NamaNya
O for a Thousand Tongues to Sing
Informasi Lagu
32
Nomor
Kode
NP 32
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
tak dikenal
Pencipta Syair
Charles Wesley
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Seribu lidah berpadu,
Terpujilah nama Tuhan!
Skalian nyanyi bagiMu,
Terpujilah nama Tuhan!
Puji namaNya, Puji namaNya,
Terpujilah nama Tuhan!
Puji namaNya, Puji namaNya,
Terpujilah nama Tuhan!
Nama Yesus menghiburkan,
Terpujilah nama Tuhan!
Dan nyanyian kesayangan,
Terpujilah nama Tuhan!
Kuasa dosa binasa,
Terpujilah nama Tuhan!
Bersihlah najis dan noda,
Terpujilah nama Tuhan!
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"O for a Thousand Tongues to Sing"** (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai **"Puji Nama-Nya"**) adalah salah satu himne Kristen yang paling berpengaruh di dunia. Lagu ini bukan sekadar puji-pujian, melainkan sebuah pernyataan iman yang lahir dari pengalaman pertobatan yang dramatis.
Berikut adalah kisah di balik lagu karya **Charles Wesley** ini:
### 1. Sosok Charles Wesley
Charles Wesley (1707–1788) adalah adik dari John Wesley, pendiri gerakan Metodis. Keduanya adalah pengkhotbah yang sangat berpengaruh di Inggris pada abad ke-18. Namun, sebelum menjadi pemimpin rohani yang besar, Charles mengalami masa pencarian spiritual yang intens dan penuh kegelisahan.
### 2. Peristiwa Pertobatan (21 Mei 1738)
Kisah di balik lagu ini berakar pada hari pertobatan Charles Wesley. Pada tanggal 21 Mei 1738, Charles sedang sakit parah di London. Dalam kondisi yang lemah, ia merasa sangat hampa secara rohani dan merindukan kedamaian dalam Kristus.
Setelah membaca Alkitab dan berdoa, ia merasa hatinya "tersentuh" dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang ia gambarkan sebagai pembebasan dari belenggu dosa. Pengalaman ini memberikan perubahan radikal dalam hidupnya—dari seorang yang skeptis dan merasa tidak layak, menjadi seseorang yang dipenuhi oleh sukacita yang meluap-luap.
### 3. Asal Usul Lirik: "O, seandainya aku punya seribu lidah!"
Tepat satu tahun setelah pertobatannya, pada tanggal 21 Mei 1739, Charles Wesley menulis puisi panjang untuk merayakan peringatan hari pertobatannya tersebut. Puisi aslinya berjudul *"For the Anniversary Day of One’s Conversion."*
Bait pertama yang terkenal itu berbunyi:
> *"O for a thousand tongues to sing / My great Redeemer's praise!"*
> (O, seandainya aku punya seribu lidah untuk menyanyikan / Puji-pujian bagi Penebusku yang agung!)
Ungkapan **"seribu lidah"** bukanlah sekadar kiasan puitis biasa. Konon, ungkapan ini terinspirasi dari percakapan Charles dengan **Peter Böhler**, seorang misionaris Moravia yang membimbingnya. Böhler pernah berkata kepada Charles, *"Jika aku memiliki seribu lidah, aku akan menggunakannya untuk memuliakan Kristus."*
Kalimat ini begitu membekas di hati Charles sehingga ia menuangkannya ke dalam bait lagu tersebut untuk mengungkapkan bahwa satu lidah saja tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa besarnya kasih Allah yang telah menebus dosanya.
### 4. Makna Teologis
Dalam lirik lengkapnya (yang aslinya terdiri dari 18 bait), Charles menekankan beberapa poin penting:
* **Kuasa Nama Yesus:** Lagu ini memuliakan nama Yesus yang "mematahkan kuasa dosa" dan "membebaskan tawanan."
* **Kasih bagi Semua:** Charles menekankan bahwa kabar baik ini bukan hanya untuk orang tertentu, tetapi untuk semua orang, termasuk "orang berdosa yang paling hina."
* **Penyembuhan:** Ia menulis tentang Yesus yang menyembuhkan mereka yang patah hati dan memberikan harapan kepada mereka yang putus asa.
### 5. Warisan
Meskipun lagu ini awalnya ditulis sebagai puisi, namun karena kekuatannya, lagu ini segera diadopsi menjadi nyanyian jemaat di lingkungan gereja Metodis. Lagu ini sering ditempatkan sebagai lagu pembuka dalam buku nyanyian himne Metodis sebagai bentuk syukur atas kasih karunia Tuhan.
Melodi yang kita kenal sekarang (sering disebut *Azmon*) sebenarnya baru dipadukan dengan lirik ini jauh setelah Charles meninggal, namun perpaduan tersebut menciptakan lagu yang sangat agung dan penuh kemenangan.
### Kesimpulan
"Puji Nama-Nya" adalah bukti nyata bagaimana sebuah pengalaman pribadi—sebuah momen di mana seseorang merasa diampuni—bisa meledak menjadi ungkapan syukur yang abadi. Charles Wesley tidak hanya menulis lagu; ia sedang mencurahkan isi hatinya yang meluap, menyatakan bahwa meski ia memiliki seribu lidah pun, itu tetap tidak akan cukup untuk memuji kebaikan Tuhan yang telah menebus jiwanya.
Berikut adalah kisah di balik lagu karya **Charles Wesley** ini:
### 1. Sosok Charles Wesley
Charles Wesley (1707–1788) adalah adik dari John Wesley, pendiri gerakan Metodis. Keduanya adalah pengkhotbah yang sangat berpengaruh di Inggris pada abad ke-18. Namun, sebelum menjadi pemimpin rohani yang besar, Charles mengalami masa pencarian spiritual yang intens dan penuh kegelisahan.
### 2. Peristiwa Pertobatan (21 Mei 1738)
Kisah di balik lagu ini berakar pada hari pertobatan Charles Wesley. Pada tanggal 21 Mei 1738, Charles sedang sakit parah di London. Dalam kondisi yang lemah, ia merasa sangat hampa secara rohani dan merindukan kedamaian dalam Kristus.
Setelah membaca Alkitab dan berdoa, ia merasa hatinya "tersentuh" dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang ia gambarkan sebagai pembebasan dari belenggu dosa. Pengalaman ini memberikan perubahan radikal dalam hidupnya—dari seorang yang skeptis dan merasa tidak layak, menjadi seseorang yang dipenuhi oleh sukacita yang meluap-luap.
### 3. Asal Usul Lirik: "O, seandainya aku punya seribu lidah!"
Tepat satu tahun setelah pertobatannya, pada tanggal 21 Mei 1739, Charles Wesley menulis puisi panjang untuk merayakan peringatan hari pertobatannya tersebut. Puisi aslinya berjudul *"For the Anniversary Day of One’s Conversion."*
Bait pertama yang terkenal itu berbunyi:
> *"O for a thousand tongues to sing / My great Redeemer's praise!"*
> (O, seandainya aku punya seribu lidah untuk menyanyikan / Puji-pujian bagi Penebusku yang agung!)
Ungkapan **"seribu lidah"** bukanlah sekadar kiasan puitis biasa. Konon, ungkapan ini terinspirasi dari percakapan Charles dengan **Peter Böhler**, seorang misionaris Moravia yang membimbingnya. Böhler pernah berkata kepada Charles, *"Jika aku memiliki seribu lidah, aku akan menggunakannya untuk memuliakan Kristus."*
Kalimat ini begitu membekas di hati Charles sehingga ia menuangkannya ke dalam bait lagu tersebut untuk mengungkapkan bahwa satu lidah saja tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa besarnya kasih Allah yang telah menebus dosanya.
### 4. Makna Teologis
Dalam lirik lengkapnya (yang aslinya terdiri dari 18 bait), Charles menekankan beberapa poin penting:
* **Kuasa Nama Yesus:** Lagu ini memuliakan nama Yesus yang "mematahkan kuasa dosa" dan "membebaskan tawanan."
* **Kasih bagi Semua:** Charles menekankan bahwa kabar baik ini bukan hanya untuk orang tertentu, tetapi untuk semua orang, termasuk "orang berdosa yang paling hina."
* **Penyembuhan:** Ia menulis tentang Yesus yang menyembuhkan mereka yang patah hati dan memberikan harapan kepada mereka yang putus asa.
### 5. Warisan
Meskipun lagu ini awalnya ditulis sebagai puisi, namun karena kekuatannya, lagu ini segera diadopsi menjadi nyanyian jemaat di lingkungan gereja Metodis. Lagu ini sering ditempatkan sebagai lagu pembuka dalam buku nyanyian himne Metodis sebagai bentuk syukur atas kasih karunia Tuhan.
Melodi yang kita kenal sekarang (sering disebut *Azmon*) sebenarnya baru dipadukan dengan lirik ini jauh setelah Charles meninggal, namun perpaduan tersebut menciptakan lagu yang sangat agung dan penuh kemenangan.
### Kesimpulan
"Puji Nama-Nya" adalah bukti nyata bagaimana sebuah pengalaman pribadi—sebuah momen di mana seseorang merasa diampuni—bisa meledak menjadi ungkapan syukur yang abadi. Charles Wesley tidak hanya menulis lagu; ia sedang mencurahkan isi hatinya yang meluap, menyatakan bahwa meski ia memiliki seribu lidah pun, itu tetap tidak akan cukup untuk memuji kebaikan Tuhan yang telah menebus jiwanya.
Kemuliaan dan Hormat
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Puji Yesus
NP
Ya Yesus, Bila Kukenang
NP
Sumber Hidupku, Ya Yesus
NP
Tuhanku Yesus
NP
Turunlah, Kasih Ilahi
NP
Tuhan Penebus Kupuja
NP
Dengarkan Nama Kucinta
NP
Mulia NamaMu, Tuhan!
NP
Puji Yesus Kristus
NP
Aku Ingin Menyanyikan
NP
Seribu Lidah Berpadu
NP
Hai Kristen, Pujilah
NP
Kasih Juru S'lamatku
NP
Kasihku T'rimalah, Tuhan
NP
Ku Cinta PadaMu
NP
Ku Memuji Penebusku
NP