NP
Ku Cinta PadaMu
My Jesus, I Love Thee
Informasi Lagu
40
Nomor
Kode
NP 40
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Adoniram J. Gordon
Pencipta Syair
William R. Featherston
Cross Ref.
KK 432, KJ 382, NKI 63
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Ku cinta padaMu, Yesus milikku;
Kubuang dosaku sebab kasihMu;
Engkau Penebus dan Juru Slamatku;
Ku cinta padaMu, Yesus milikku.
Ku cinta padaMu sebab kasihMu;
Dosaku dihapus dengan darahMu;
Duri Kau kenakan sebab dosaku;
Ku cinta padaMu, Yesus milikku.
Hidup atau mati, aku hambaMu;
NamaMu kupuji setiap waktu;
Ya, sampai ajalku, tetap kasihku;
Ku cinta padaMu, Yesus milikku.
Di surga yang mulia, istana baka,
Kau akan kupuja senantiasa;
Indahlah mahkota, karuniaMu;
Ku cinta padaMu, Yesus milikku.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Ya Yesus Terkasih"** (judul asli: **"My Jesus, I Love Thee"**) adalah salah satu lagu himne Kristen paling terkenal dan paling menyentuh di dunia. Keindahan lagu ini terletak pada kesederhanaannya yang mendalam, yang lahir dari ketulusan hati seorang pemuda dan disempurnakan oleh seorang penata musik yang peka.
Berikut adalah kisah detail dan mengharukan di balik terciptanya lagu ini, yang melibatkan dua tokoh utama: **William Ralph Featherstone** (penulis lirik) dan **Adoniram Judson Gordon** (pencipta melodi).
---
### Bagian 1: Sang Penulis Lirik – William Ralph Featherstone (Kanada)
Kisah lagu ini dimulai di Montreal, Kanada, sekitar tahun 1864. **William Ralph Featherstone** saat itu adalah seorang pemuda yang masih sangat muda, diperkirakan berusia antara 16 hingga 18 tahun.
Featherstone baru saja mengalami pertobatan rohani yang sangat mendalam dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Dipenuhi dengan rasa syukur, cinta, dan komitmen yang meluap-luap kepada Tuhan, ia duduk dan menulis sebuah puisi pribadi. Puisi itu bukan ditulis untuk diterbitkan atau agar terkenal; itu adalah surat cinta dan doa pribadinya kepada Yesus.
Lirik asli yang ia tulis adalah:
> *My Jesus, I love Thee, I know Thou art mine;*
> *For Thee all the follies of sin I resign;*
> *My gracious Redeemer, my Savior art Thou;*
> *If ever I loved Thee, my Jesus, 'tis now.*
Setelah menulis puisi tersebut, Featherstone mengirimkan salinannya melalui surat kepada bibinya, Mrs. Christian Featherstone, yang tinggal di Los Angeles. Sang bibi sangat tersentuh oleh kedalaman iman keponakannya yang masih muda itu. Ia merasa puisi ini terlalu indah untuk disimpan sendiri. Atas dukungannya, puisi tersebut akhirnya dikirim ke penerbit dan pertama kali diterbitkan secara anonim (tanpa nama penulis) dalam buku kumpulan lagu *The London Hymn Book* di Inggris pada tahun 1864.
**Tragedi yang Singkat:**
William Featherstone tidak pernah menikmati royalti atau ketenaran dari lagu ini. Ia meninggal dunia dalam usia yang sangat muda, yaitu 27 tahun, pada tahun 1873. Sebelum ia wafat, ia bahkan tidak pernah tahu seberapa jauh puisi yang ditulisnya saat remaja itu telah menyentuh hati ribuan orang di seluruh dunia.
---
### Bagian 2: Sang Komposer – Adoniram Judson Gordon (Amerika Serikat)
Meskipun puisi Featherstone sudah diterbitkan, selama bertahun-tahun puisi tersebut dinyanyikan dengan melodi yang kurang cocok dan kurang dikenal. Di sinilah peran **Adoniram Judson Gordon** (1836–1895) dimulai.
A.J. Gordon adalah seorang pendeta Baptis yang sangat dihormati di Boston, pendiri lembaga yang kini menjadi *Gordon College*. Selain seorang pengkhotbah, ia juga seorang musisi yang memiliki kepekaan spiritual yang tinggi.
Pada tahun 1876, Pendeta Gordon sedang menyusun sebuah buku nyanyian baru berjudul *The Service of Song for Baptist Churches*. Saat sedang mencari materi, ia menemukan puisi "My Jesus, I Love Thee" di sebuah buku himne London.
Gordon sangat terpikat oleh kata-katanya. Namun, ketika ia mencoba menyanyikannya dengan melodi yang ada saat itu, ia merasa melodinya sangat tidak memadai. Melodi tersebut terasa dingin dan tidak mampu menyampaikan kehangatan serta kepasrahan yang ada di dalam liriknya.
Gordon kemudian berdoa dan mencari inspirasi. Melalui saat-saat teduhnya, Tuhan mengaruniakan sebuah melodi baru yang lembut, agung, dan sangat menyentuh ke dalam pikirannya. Melodi itulah yang kita kenal sekarang (yang dalam buku-buku himne dinamai melodi **"GORDON"**).
Ketika melodi ciptaan Gordon dipadukan dengan lirik karya Featherstone, terciptalah sebuah mahakarya. Lagu ini segera menyebar ke seluruh gereja di Amerika, Inggris, dan akhirnya ke seluruh dunia, termasuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
---
### Makna Mendalam di Balik Bait-Bait Lagu
Lagu ini memiliki perkembangan emosi dan iman yang luar biasa dari bait ke bait:
1. **Bait Pertama (Penyerahan Diri):**
* *“Ya Yesus terkasih, Engkau milikku…”*
* Ini adalah deklarasi kepemilikan bersama. Penulis menyadari bahwa demi Yesus, ia rela membuang semua kesenangan dosa duniawi (*"all the follies of sin I resign"*).
2. **Bait Kedua (Kasih yang Membalas Kasih):**
* *“Kukasihani-Mu karena lebih dulu Engkau mengasihiku…”*
* Penulis merenungkan pengorbanan Kristus di kayu salib, mahkota duri yang menusuk dahi-Nya, dan menyatakan bahwa jika ia pernah mengasihi Yesus, maka saat inilah puncaknya.
3. **Bait Ketiga (Kesetiaan hingga Maut):**
* *“Selama ku hidup, kupuji nama-Mu…”*
* Lirik aslinya berbunyi: *"I’ll love Thee in life, I will love Thee in death..."* (Aku akan mengasihi-Mu saat hidup, dan aku akan mengasihi-Mu saat maut menjemput). Mengingat William Featherstone meninggal di usia muda, bait ini menjadi sangat profetis dan mengharukan. Bahkan saat napas terakhir berhembus, kasih kepada Yesus tidak luntur.
4. **Bait Keempat (Keberadaan Kekal di Surga):**
* *“Di dalam istana megah dan mulia…”*
* Penulis menatap masa depan kekal di surga, di mana ia akan memakai mahkota dan bernyanyi selamanya tentang kasihnya kepada Yesus.
---
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu "Ya Yesus Terkasih" adalah kisah tentang **kolaborasi ilahi lintas batas negara dan waktu**. Seorang remaja berusia 16 tahun di Kanada menuliskan isi hatinya yang paling jujur kepada Tuhan, dan bertahun-tahun kemudian, seorang pendeta di Boston diberi kepekaan oleh Tuhan untuk menciptakan melodi yang menyempurnakannya.
Hingga hari ini, lagu ini terus dinyanyikan di saat kebaktian, momen pertobatan, saat teduh pribadi, bahkan di upacara pemakaman sebagai penghiburan, mengingatkan setiap orang percaya akan cinta yang mula-mula kepada Juru Selamat.
Berikut adalah kisah detail dan mengharukan di balik terciptanya lagu ini, yang melibatkan dua tokoh utama: **William Ralph Featherstone** (penulis lirik) dan **Adoniram Judson Gordon** (pencipta melodi).
---
### Bagian 1: Sang Penulis Lirik – William Ralph Featherstone (Kanada)
Kisah lagu ini dimulai di Montreal, Kanada, sekitar tahun 1864. **William Ralph Featherstone** saat itu adalah seorang pemuda yang masih sangat muda, diperkirakan berusia antara 16 hingga 18 tahun.
Featherstone baru saja mengalami pertobatan rohani yang sangat mendalam dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Dipenuhi dengan rasa syukur, cinta, dan komitmen yang meluap-luap kepada Tuhan, ia duduk dan menulis sebuah puisi pribadi. Puisi itu bukan ditulis untuk diterbitkan atau agar terkenal; itu adalah surat cinta dan doa pribadinya kepada Yesus.
Lirik asli yang ia tulis adalah:
> *My Jesus, I love Thee, I know Thou art mine;*
> *For Thee all the follies of sin I resign;*
> *My gracious Redeemer, my Savior art Thou;*
> *If ever I loved Thee, my Jesus, 'tis now.*
Setelah menulis puisi tersebut, Featherstone mengirimkan salinannya melalui surat kepada bibinya, Mrs. Christian Featherstone, yang tinggal di Los Angeles. Sang bibi sangat tersentuh oleh kedalaman iman keponakannya yang masih muda itu. Ia merasa puisi ini terlalu indah untuk disimpan sendiri. Atas dukungannya, puisi tersebut akhirnya dikirim ke penerbit dan pertama kali diterbitkan secara anonim (tanpa nama penulis) dalam buku kumpulan lagu *The London Hymn Book* di Inggris pada tahun 1864.
**Tragedi yang Singkat:**
William Featherstone tidak pernah menikmati royalti atau ketenaran dari lagu ini. Ia meninggal dunia dalam usia yang sangat muda, yaitu 27 tahun, pada tahun 1873. Sebelum ia wafat, ia bahkan tidak pernah tahu seberapa jauh puisi yang ditulisnya saat remaja itu telah menyentuh hati ribuan orang di seluruh dunia.
---
### Bagian 2: Sang Komposer – Adoniram Judson Gordon (Amerika Serikat)
Meskipun puisi Featherstone sudah diterbitkan, selama bertahun-tahun puisi tersebut dinyanyikan dengan melodi yang kurang cocok dan kurang dikenal. Di sinilah peran **Adoniram Judson Gordon** (1836–1895) dimulai.
A.J. Gordon adalah seorang pendeta Baptis yang sangat dihormati di Boston, pendiri lembaga yang kini menjadi *Gordon College*. Selain seorang pengkhotbah, ia juga seorang musisi yang memiliki kepekaan spiritual yang tinggi.
Pada tahun 1876, Pendeta Gordon sedang menyusun sebuah buku nyanyian baru berjudul *The Service of Song for Baptist Churches*. Saat sedang mencari materi, ia menemukan puisi "My Jesus, I Love Thee" di sebuah buku himne London.
Gordon sangat terpikat oleh kata-katanya. Namun, ketika ia mencoba menyanyikannya dengan melodi yang ada saat itu, ia merasa melodinya sangat tidak memadai. Melodi tersebut terasa dingin dan tidak mampu menyampaikan kehangatan serta kepasrahan yang ada di dalam liriknya.
Gordon kemudian berdoa dan mencari inspirasi. Melalui saat-saat teduhnya, Tuhan mengaruniakan sebuah melodi baru yang lembut, agung, dan sangat menyentuh ke dalam pikirannya. Melodi itulah yang kita kenal sekarang (yang dalam buku-buku himne dinamai melodi **"GORDON"**).
Ketika melodi ciptaan Gordon dipadukan dengan lirik karya Featherstone, terciptalah sebuah mahakarya. Lagu ini segera menyebar ke seluruh gereja di Amerika, Inggris, dan akhirnya ke seluruh dunia, termasuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
---
### Makna Mendalam di Balik Bait-Bait Lagu
Lagu ini memiliki perkembangan emosi dan iman yang luar biasa dari bait ke bait:
1. **Bait Pertama (Penyerahan Diri):**
* *“Ya Yesus terkasih, Engkau milikku…”*
* Ini adalah deklarasi kepemilikan bersama. Penulis menyadari bahwa demi Yesus, ia rela membuang semua kesenangan dosa duniawi (*"all the follies of sin I resign"*).
2. **Bait Kedua (Kasih yang Membalas Kasih):**
* *“Kukasihani-Mu karena lebih dulu Engkau mengasihiku…”*
* Penulis merenungkan pengorbanan Kristus di kayu salib, mahkota duri yang menusuk dahi-Nya, dan menyatakan bahwa jika ia pernah mengasihi Yesus, maka saat inilah puncaknya.
3. **Bait Ketiga (Kesetiaan hingga Maut):**
* *“Selama ku hidup, kupuji nama-Mu…”*
* Lirik aslinya berbunyi: *"I’ll love Thee in life, I will love Thee in death..."* (Aku akan mengasihi-Mu saat hidup, dan aku akan mengasihi-Mu saat maut menjemput). Mengingat William Featherstone meninggal di usia muda, bait ini menjadi sangat profetis dan mengharukan. Bahkan saat napas terakhir berhembus, kasih kepada Yesus tidak luntur.
4. **Bait Keempat (Keberadaan Kekal di Surga):**
* *“Di dalam istana megah dan mulia…”*
* Penulis menatap masa depan kekal di surga, di mana ia akan memakai mahkota dan bernyanyi selamanya tentang kasihnya kepada Yesus.
---
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu "Ya Yesus Terkasih" adalah kisah tentang **kolaborasi ilahi lintas batas negara dan waktu**. Seorang remaja berusia 16 tahun di Kanada menuliskan isi hatinya yang paling jujur kepada Tuhan, dan bertahun-tahun kemudian, seorang pendeta di Boston diberi kepekaan oleh Tuhan untuk menciptakan melodi yang menyempurnakannya.
Hingga hari ini, lagu ini terus dinyanyikan di saat kebaktian, momen pertobatan, saat teduh pribadi, bahkan di upacara pemakaman sebagai penghiburan, mengingatkan setiap orang percaya akan cinta yang mula-mula kepada Juru Selamat.
Cross Reference
Kemuliaan dan Hormat
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Puji Yesus
NP
Ya Yesus, Bila Kukenang
NP
Sumber Hidupku, Ya Yesus
NP
Tuhanku Yesus
NP
Turunlah, Kasih Ilahi
NP
Tuhan Penebus Kupuja
NP
Dengarkan Nama Kucinta
NP
Puji NamaNya
NP
Mulia NamaMu, Tuhan!
NP
Puji Yesus Kristus
NP
Aku Ingin Menyanyikan
NP
Seribu Lidah Berpadu
NP
Hai Kristen, Pujilah
NP
Kasih Juru S'lamatku
NP
Kasihku T'rimalah, Tuhan
NP
Ku Memuji Penebusku
NP