NP
Pujilah Yesus yang Mulia
All Hail the Power of Jesus' Name
Informasi Lagu
24
Nomor
Kode
NP 24
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
William Shrubsole
Pencipta Syair
Edward Perronet
Cross Ref.
KJ 222b, KK 271, KP 18, NP 24
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Pujilah Yesus yang mulia,
Berkuasa namaNya!
Sujudlah, hai malak surga,
Nobatkan Rajamu! (2x)
Hai bangsa kudus, milikNya,
Tebusan darahNya,
Anugrah Allah pujilah,
Nobatkan Rajamu! (2x)
Segala bangsa di dunia,
Setiap makhlukNya,
Gemakan puji kuasaNya,
Nobatkan Rajamu! (2x)
Dengan umatNya di surga
Kita sembah Dia!
Padukan syukur padaNya,
Nobatkan Rajamu! (2x)
Amin.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"All Hail the Power of Jesus' Name"** (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi **"Pujilah Yesus yang Mulia"**) adalah sebuah narasi tentang keberanian iman, pengabdian, dan kejeniusan musikal yang melintasi zaman.
Lagu ini sebenarnya merupakan kolaborasi antara dua tokoh besar dalam sejarah Kekristenan Inggris abad ke-18: **Edward Perronet** (penulis lirik) dan **William Shrubsole** (komposer melodi yang paling terkenal, *Diadem*).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Sang Penulis Lirik: Edward Perronet (1726–1792)
Edward Perronet adalah seorang putra pendeta Anglikan yang kemudian menjadi rekan dekat John Wesley, tokoh pendiri Gereja Metodis. Namun, karena perbedaan pandangan teologis—terutama ketidaksetujuan Perronet terhadap struktur hierarki gereja formal—ia akhirnya memilih untuk meninggalkan Gereja Inggris dan melayani sebagai pendeta independen di Canterbury.
Perronet adalah seorang yang sangat mencintai Yesus. Konon, bait pertama dari lagu ini lahir dari sebuah pengalaman rohani yang mendalam. Saat ia sedang merenungkan kemuliaan Yesus, ia menuliskan baris pertama: *"All hail the power of Jesus' name! Let angels prostrate fall."* (Pujilah nama Yesus yang mulia! Biarlah para malaikat sujud menyembah).
Lirik ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1779 di dalam majalah *Gospel Magazine*. Menariknya, Perronet awalnya menerbitkan puisi ini secara anonim karena ia dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati dan kontroversial di mata gereja mapan.
### 2. Kisah Unik: "Mahkota untuk Yesus"
Terdapat sebuah cerita populer (meskipun sulit diverifikasi secara sejarah murni, namun sangat sering dikutip) mengenai inspirasi di balik liriknya. Perronet konon pernah mengalami penganiayaan karena imannya. Ketika ia diserang oleh massa di Inggris karena berkhotbah di luar struktur gereja resmi, ia berdiri tegak dan menyatakan bahwa satu-satunya "Mahkota" yang layak disembah adalah Yesus Kristus. Kalimat *"Bring forth the royal diadem, and crown Him Lord of all"* (Bawalah mahkota kerajaan, dan mahkotai Dia sebagai Tuhan atas segalanya) menjadi pernyataan teologis yang sangat kuat bagi Perronet.
### 3. Sang Komposer: William Shrubsole (1760–1806)
Meskipun liriknya ditulis oleh Perronet, melodi yang paling ikonik dan sering dinyanyikan di seluruh dunia saat ini—yang dikenal dengan nama nada **"Diadem"**—diciptakan oleh **William Shrubsole**.
Shrubsole adalah seorang organis berbakat di Canterbury Cathedral. Pada masa itu, ia dipecat dari posisinya sebagai organis gereja karena ia sering menghadiri pertemuan Metodis (yang saat itu dianggap "di luar aturan" gereja resmi).
Pada tahun 1779, Shrubsole menulis melodi *Diadem* untuk lirik Perronet tersebut. Melodi ini sangat megah, penuh semangat, dan memiliki karakteristik musik gerejawi yang sangat kuat. Melodi ini memberikan kekuatan yang luar biasa pada lirik Perronet, menjadikannya lagu yang sangat cocok dinyanyikan dalam perayaan besar gerejawi.
### 4. Makna dan Warisan
Lagu ini sering disebut sebagai **"Mars Kebangsaan Gereja"** (*The National Anthem of Christendom*). Alasannya adalah karena liriknya yang mencakup semua lapisan masyarakat:
* Malaikat di surga.
* Para martir.
* Bangsawan (kaum terpandang).
* Orang berdosa yang telah ditebus.
Pesan utamanya sangat sederhana namun mendalam: **Kedaulatan Kristus atas segala ciptaan.** Bahwa tidak peduli siapa kita atau apa jabatan kita di dunia, pada akhirnya semua harus bertekuk lutut dan mengakui Yesus sebagai Tuhan ("Crown Him Lord of all").
### Kesimpulan
Perpaduan antara keteguhan iman Edward Perronet yang berani menentang arus, dan kejeniusan musikal William Shrubsole yang berani mengambil risiko demi keyakinannya, menghasilkan sebuah mahakarya yang telah dinyanyikan oleh jutaan orang selama lebih dari 200 tahun.
Setiap kali kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menyanyikan sebuah deklarasi kemenangan iman dari dua pria yang lebih memilih kehilangan posisi di dunia demi memastikan bahwa nama Yesus tetap dimuliakan sebagai "Raja di atas segala raja".
Lagu ini sebenarnya merupakan kolaborasi antara dua tokoh besar dalam sejarah Kekristenan Inggris abad ke-18: **Edward Perronet** (penulis lirik) dan **William Shrubsole** (komposer melodi yang paling terkenal, *Diadem*).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Sang Penulis Lirik: Edward Perronet (1726–1792)
Edward Perronet adalah seorang putra pendeta Anglikan yang kemudian menjadi rekan dekat John Wesley, tokoh pendiri Gereja Metodis. Namun, karena perbedaan pandangan teologis—terutama ketidaksetujuan Perronet terhadap struktur hierarki gereja formal—ia akhirnya memilih untuk meninggalkan Gereja Inggris dan melayani sebagai pendeta independen di Canterbury.
Perronet adalah seorang yang sangat mencintai Yesus. Konon, bait pertama dari lagu ini lahir dari sebuah pengalaman rohani yang mendalam. Saat ia sedang merenungkan kemuliaan Yesus, ia menuliskan baris pertama: *"All hail the power of Jesus' name! Let angels prostrate fall."* (Pujilah nama Yesus yang mulia! Biarlah para malaikat sujud menyembah).
Lirik ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1779 di dalam majalah *Gospel Magazine*. Menariknya, Perronet awalnya menerbitkan puisi ini secara anonim karena ia dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati dan kontroversial di mata gereja mapan.
### 2. Kisah Unik: "Mahkota untuk Yesus"
Terdapat sebuah cerita populer (meskipun sulit diverifikasi secara sejarah murni, namun sangat sering dikutip) mengenai inspirasi di balik liriknya. Perronet konon pernah mengalami penganiayaan karena imannya. Ketika ia diserang oleh massa di Inggris karena berkhotbah di luar struktur gereja resmi, ia berdiri tegak dan menyatakan bahwa satu-satunya "Mahkota" yang layak disembah adalah Yesus Kristus. Kalimat *"Bring forth the royal diadem, and crown Him Lord of all"* (Bawalah mahkota kerajaan, dan mahkotai Dia sebagai Tuhan atas segalanya) menjadi pernyataan teologis yang sangat kuat bagi Perronet.
### 3. Sang Komposer: William Shrubsole (1760–1806)
Meskipun liriknya ditulis oleh Perronet, melodi yang paling ikonik dan sering dinyanyikan di seluruh dunia saat ini—yang dikenal dengan nama nada **"Diadem"**—diciptakan oleh **William Shrubsole**.
Shrubsole adalah seorang organis berbakat di Canterbury Cathedral. Pada masa itu, ia dipecat dari posisinya sebagai organis gereja karena ia sering menghadiri pertemuan Metodis (yang saat itu dianggap "di luar aturan" gereja resmi).
Pada tahun 1779, Shrubsole menulis melodi *Diadem* untuk lirik Perronet tersebut. Melodi ini sangat megah, penuh semangat, dan memiliki karakteristik musik gerejawi yang sangat kuat. Melodi ini memberikan kekuatan yang luar biasa pada lirik Perronet, menjadikannya lagu yang sangat cocok dinyanyikan dalam perayaan besar gerejawi.
### 4. Makna dan Warisan
Lagu ini sering disebut sebagai **"Mars Kebangsaan Gereja"** (*The National Anthem of Christendom*). Alasannya adalah karena liriknya yang mencakup semua lapisan masyarakat:
* Malaikat di surga.
* Para martir.
* Bangsawan (kaum terpandang).
* Orang berdosa yang telah ditebus.
Pesan utamanya sangat sederhana namun mendalam: **Kedaulatan Kristus atas segala ciptaan.** Bahwa tidak peduli siapa kita atau apa jabatan kita di dunia, pada akhirnya semua harus bertekuk lutut dan mengakui Yesus sebagai Tuhan ("Crown Him Lord of all").
### Kesimpulan
Perpaduan antara keteguhan iman Edward Perronet yang berani menentang arus, dan kejeniusan musikal William Shrubsole yang berani mengambil risiko demi keyakinannya, menghasilkan sebuah mahakarya yang telah dinyanyikan oleh jutaan orang selama lebih dari 200 tahun.
Setiap kali kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menyanyikan sebuah deklarasi kemenangan iman dari dua pria yang lebih memilih kehilangan posisi di dunia demi memastikan bahwa nama Yesus tetap dimuliakan sebagai "Raja di atas segala raja".
Cross Reference
KJ 222b, KK 271, KP 18, NP 24
Agungkan Kuasa NamaNya
KJ
Agungkan Kuasa Namanya
KK
Margi Ngaluwihang Ida
KP
Kemuliaan dan Hormat
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Puji Yesus
NP
Ya Yesus, Bila Kukenang
NP
Sumber Hidupku, Ya Yesus
NP
Tuhanku Yesus
NP
Turunlah, Kasih Ilahi
NP
Tuhan Penebus Kupuja
NP
Dengarkan Nama Kucinta
NP
Puji NamaNya
NP
Mulia NamaMu, Tuhan!
NP
Puji Yesus Kristus
NP
Aku Ingin Menyanyikan
NP
Seribu Lidah Berpadu
NP
Hai Kristen, Pujilah
NP
Kasih Juru S'lamatku
NP
Kasihku T'rimalah, Tuhan
NP
Ku Cinta PadaMu
NP
Ku Memuji Penebusku
NP