NP
Aku Ingin Menyanyikan
I Will Sing the Wondrous Story
Informasi Lagu
35
Nomor
Kode
NP 35
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Peter P. Bilhorn
Pencipta Syair
Francis H. Rowley
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Aku ingin menyanyikan
Kisah mulia Almasih:
Surga indah ditinggalkan,
Tersalib di kalvari.
Ya, ku ingin menyanyikan
Kisah mulia Almasih,
Ya, bersama kaum tebusan
Pada pantai surgawi.
Ku sesat bagaikan domba,
Hidupku tak menentu;
Tapi Yesus Sang Gembala
Meluruskan jalanku.
Saat ku mendapat luka,
DisembuhkanNya lekas;
Aku bimbang karna buta,
Tapi Yesus Pelepas.
Dukacita masih ada
Pada jalan hidupku,
Tapi Yesus kan beserta
Dan memimpin tanganku.
Tuhan Yesus kan menjaga
Hingga ajal menjelang;
Aku pasti diantarNya
Dengan aman ke sebrang.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Aku Ingin Menyanyikan" (I Will Sing the Wondrous Story)** adalah perpaduan antara kebetulan yang luar biasa dan persahabatan antara dua tokoh Kristen di akhir abad ke-19: **Francis H. Rowley** (penulis lirik) dan **Peter P. Bilhorn** (komponis).
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Pertemuan di Kereta Api
Kisah ini bermula pada tahun 1886. Francis H. Rowley, seorang pendeta Baptis, sedang dalam perjalanan dengan kereta api. Di gerbong yang sama, ia bertemu dengan Peter P. Bilhorn, seorang penyanyi injil dan komponis yang cukup terkenal pada masa itu.
Saat itu, Bilhorn sedang membawa sebuah instrumen musik yang unik—sebuah organ pompa portabel (yang bisa dilipat seperti koper) yang sering ia gunakan dalam pelayanan penginjilannya di jalanan.
### 2. Tantangan untuk Menulis Lagu
Di tengah perjalanan, Bilhorn merasa perlu memiliki lagu baru yang bisa digunakan dalam kebaktian penginjilan yang ia pimpin. Ia meminta Rowley, yang dikenal memiliki bakat sastra, untuk menuliskan kata-kata (lirik) yang sederhana namun mendalam bagi sebuah lagu pujian.
Rowley kemudian menulis lirik lagu tersebut dengan cepat. Lirik yang ia tulis mencerminkan kisah pertobatannya sendiri dan rasa syukurnya atas kasih karunia Tuhan.
### 3. Komposisi Musik yang Spontan
Setelah Rowley memberikan lirik tersebut, Bilhorn segera mencari cara untuk memberikan melodi. Legenda mengatakan bahwa Bilhorn mulai memainkan organ portabelnya di dalam kereta tersebut (atau tak lama setelah mereka tiba di tujuan) untuk menemukan nada yang tepat bagi lirik Rowley.
Lagu tersebut akhirnya diberi judul asli **"I Will Sing the Wondrous Story"**. Melodinya dibuat sedemikian rupa agar mudah diingat, penuh semangat, dan cocok untuk dinyanyikan oleh jemaat dalam jumlah besar, terutama dalam kegiatan *revival* (kebangunan rohani).
### 4. Makna di Balik Lirik
Lirik lagu ini secara inti menceritakan pengalaman pribadi seseorang yang dulunya "tersesat" namun kemudian diselamatkan oleh kasih Kristus.
* **"Aku ingin menyanyikan kisah kasih yang ajaib..."**: Ini adalah ekspresi kerinduan untuk bersaksi tentang apa yang telah Tuhan lakukan.
* Lagu ini menekankan bahwa meskipun manusia jatuh ke dalam dosa ("Aku t'lah sesat dan jauh"), kasih setia Tuhan tetap mengejar dan memulihkan manusia.
* Bagian yang sangat menyentuh adalah pengakuan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan sepenuhnya karena pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
### 5. Dampak dan Warisan
Lagu ini dengan cepat menjadi populer di Amerika Serikat dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Kesederhanaan liriknya dan nadanya yang optimis menjadikannya salah satu lagu yang paling disukai dalam kebaktian gereja selama lebih dari satu abad.
Bagi banyak orang, lagu ini bukan sekadar lagu pujian biasa, melainkan pengingat akan titik balik kehidupan mereka saat mereka pertama kali mengalami perjumpaan dengan kasih Tuhan.
### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah contoh bagaimana Tuhan menggunakan bakat manusia dalam situasi yang sangat sederhana—sebuah pertemuan di kereta api—untuk menciptakan sesuatu yang melampaui zaman. Francis H. Rowley dan Peter P. Bilhorn tidak menyangka bahwa kolaborasi singkat mereka di dalam gerbong kereta akan terus dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia hingga hari ini.
Di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan ke dalam berbagai versi bahasa Indonesia (seperti dalam buku nyanyian *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*) dan tetap menjadi lagu yang populer karena liriknya yang jujur dan melodi yang menggugah semangat.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Pertemuan di Kereta Api
Kisah ini bermula pada tahun 1886. Francis H. Rowley, seorang pendeta Baptis, sedang dalam perjalanan dengan kereta api. Di gerbong yang sama, ia bertemu dengan Peter P. Bilhorn, seorang penyanyi injil dan komponis yang cukup terkenal pada masa itu.
Saat itu, Bilhorn sedang membawa sebuah instrumen musik yang unik—sebuah organ pompa portabel (yang bisa dilipat seperti koper) yang sering ia gunakan dalam pelayanan penginjilannya di jalanan.
### 2. Tantangan untuk Menulis Lagu
Di tengah perjalanan, Bilhorn merasa perlu memiliki lagu baru yang bisa digunakan dalam kebaktian penginjilan yang ia pimpin. Ia meminta Rowley, yang dikenal memiliki bakat sastra, untuk menuliskan kata-kata (lirik) yang sederhana namun mendalam bagi sebuah lagu pujian.
Rowley kemudian menulis lirik lagu tersebut dengan cepat. Lirik yang ia tulis mencerminkan kisah pertobatannya sendiri dan rasa syukurnya atas kasih karunia Tuhan.
### 3. Komposisi Musik yang Spontan
Setelah Rowley memberikan lirik tersebut, Bilhorn segera mencari cara untuk memberikan melodi. Legenda mengatakan bahwa Bilhorn mulai memainkan organ portabelnya di dalam kereta tersebut (atau tak lama setelah mereka tiba di tujuan) untuk menemukan nada yang tepat bagi lirik Rowley.
Lagu tersebut akhirnya diberi judul asli **"I Will Sing the Wondrous Story"**. Melodinya dibuat sedemikian rupa agar mudah diingat, penuh semangat, dan cocok untuk dinyanyikan oleh jemaat dalam jumlah besar, terutama dalam kegiatan *revival* (kebangunan rohani).
### 4. Makna di Balik Lirik
Lirik lagu ini secara inti menceritakan pengalaman pribadi seseorang yang dulunya "tersesat" namun kemudian diselamatkan oleh kasih Kristus.
* **"Aku ingin menyanyikan kisah kasih yang ajaib..."**: Ini adalah ekspresi kerinduan untuk bersaksi tentang apa yang telah Tuhan lakukan.
* Lagu ini menekankan bahwa meskipun manusia jatuh ke dalam dosa ("Aku t'lah sesat dan jauh"), kasih setia Tuhan tetap mengejar dan memulihkan manusia.
* Bagian yang sangat menyentuh adalah pengakuan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan sepenuhnya karena pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
### 5. Dampak dan Warisan
Lagu ini dengan cepat menjadi populer di Amerika Serikat dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Kesederhanaan liriknya dan nadanya yang optimis menjadikannya salah satu lagu yang paling disukai dalam kebaktian gereja selama lebih dari satu abad.
Bagi banyak orang, lagu ini bukan sekadar lagu pujian biasa, melainkan pengingat akan titik balik kehidupan mereka saat mereka pertama kali mengalami perjumpaan dengan kasih Tuhan.
### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah contoh bagaimana Tuhan menggunakan bakat manusia dalam situasi yang sangat sederhana—sebuah pertemuan di kereta api—untuk menciptakan sesuatu yang melampaui zaman. Francis H. Rowley dan Peter P. Bilhorn tidak menyangka bahwa kolaborasi singkat mereka di dalam gerbong kereta akan terus dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia hingga hari ini.
Di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan ke dalam berbagai versi bahasa Indonesia (seperti dalam buku nyanyian *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*) dan tetap menjadi lagu yang populer karena liriknya yang jujur dan melodi yang menggugah semangat.
Kemuliaan dan Hormat
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Pujilah Yesus yang Mulia
NP
Puji Yesus
NP
Ya Yesus, Bila Kukenang
NP
Sumber Hidupku, Ya Yesus
NP
Tuhanku Yesus
NP
Turunlah, Kasih Ilahi
NP
Tuhan Penebus Kupuja
NP
Dengarkan Nama Kucinta
NP
Puji NamaNya
NP
Mulia NamaMu, Tuhan!
NP
Puji Yesus Kristus
NP
Seribu Lidah Berpadu
NP
Hai Kristen, Pujilah
NP
Kasih Juru S'lamatku
NP
Kasihku T'rimalah, Tuhan
NP
Ku Cinta PadaMu
NP
Ku Memuji Penebusku
NP